My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Sayang



Sudah dua minggu Airish berlatih dengan Leela secara rutin. Dia terus bolak-balik ke pulau dan kampus secara bergantian. Sesuai dengan pembicaraannya bersama Kaisar, kala itu.


Airish cukup mengerti, tak hanya ada bahagia berada di sisi lelaki itu, namun ada juga kewaspadaan dan kekuatan, karena Kaisar tidak bisa bersamanya sepanjang waktu.


Kini, gadis cantik itu tengah duduk dengan Leela di bawah pohon rindang. Selesai berlatih bela diri, keduanya beristirahat sejenak sebelum memulai latihan yang lain.


"Nona hebat, baru beberapa kali latihan sudah mampu menguasai jurus-jurus yang aku ajarkan. Aku yakin, sebentar lagi kau pasti akan mengalahkan, Tuan." Ucap Leela setelah menenggak minumannya.


Mendengar itu, Airish terkekeh sekaligus merasa tersanjung. Dia pun merasa begitu, keahlian menembak, dan bela dirinya semakin meningkat setiap harinya.


Dan semua ini berkat Leela. Gadis belia yang sudah pandai dengan segala jenis teknik olahraga.


"Apa benar nanti aku bisa mengalahkan, Tuan?" Airish berucap antusias seraya memandang ke arah Leela. Matanya berbinar senang.


Dengan cepat Leela mengangguk. "Tentu saja, bahkan sebelum Nona memukulnya, dia pasti sudah kalah. Dia mana bisa melihatmu terluka, kan hanya Nona yang bisa membuat Tuan memiliki mimik wajah cemas seperti itu, sebelumnya tidak ada." Ceplos Leela.


Airish merasakan jantungnya yang berdetak kencang. Kedua sudut bibir itu tiba-tiba melengkung membentuk sebuah senyuman.


"Bagaimana jika dengan adik-adiknya?" Tanya Airish.


"Nona, mereka itu keluarga Tuan. Mereka tidak bisa dijadikan acuan untuk membedakan tingkat kasih sayang Tuan pada Nona, pokoknya Tuan hanya bisa bersikap manis di depanmu, dia terlihat sangat mencintaimu, dan aku percaya itu." Terang Leela, mengurai segala perubahan sikap Kaisar akhir-akhir ini.


Setiap kali melihat lelaki itu memperlakukan Airish, Leela bisa menangkap, bahwa Kaisar benar-benar tulus dengan gadis itu.


Airish tersenyum kecil, entah kenapa dia senang sekali mendengar penuturan Leela barusan, meskipun dia tidak tahu pernyataan itu benar atau tidak.


"Kau juga sangat mencintai Tuan yah?" Tanya Leela, dia mengulum senyum, merasa lucu dengan reaksi wajah Airish.


Memang benar, gadis di sebelahnya ini terlihat sangat menggemaskan, pantas saja sang Tuan begitu menyukainya. Pikir Leela.


Ditanya seperti itu, Airish semakin salah tingkah, dia melipat bibirnya ke dalam, sedangkan pipinya mulai memanas dengan semburat merah.


Apa benar aku mencintainya? Airish bertanya pada batinnya.


"Eum, apa yang kau katakan itu, bukan kebohongan kan Leela? Tuan benar-benar tidak pernah membawa seorang gadis kemari?"


Leela mengangguk. "Hanya kau, Nona. Oh iya, kenapa Nona tidak memanggil Tuan Kaisar dengan sebutan sayang? Bukankah dia sering melakukannya juga untuk Nona?"


"Eum, itu." Airish menggigit bibir bawahnya tak bisa menjawab, karena dia belum memiliki keberanian, untuk memanggil Kaisar dengan sebutan seperti itu.


"Sweetie? Hihi, manis sekali. Coba deh sekali-kali Nona panggil Tuan dengan sebutan sayang, pasti dia suka." Ujar Leela memberi saran. Karena selama ini, belum ada yang memanggil seperti itu pada Kaisar.


Airish menelan ludahnya. Benarkah dia akan suka? Aku takut dia malah marah-marah.


"Apa benar dia akan suka?" Tanya Airish hati-hati.


Cih, Nona Airish kenapa kau menggemaskan sekali sih, aku ingin mencubit pipimu yang merah itu, kalau saja aku berani, kau benar-benar sangat lucu.


Lagi, Leela mengangguk, membenarkan ucapannya. Dan Airish tersenyum, memamerkan gigi-gigi putihnya.


"Nanti aku akan mencobanya." Ucapnya penuh semangat.


Dan tak lama dari itu, orang yang sedang dibicarakan tiba-tiba datang. Kaisar berdiri di ujung sana dengan Joni yang berada di belakangnya.


Lelaki itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Sedangkan matanya menatap lurus, ke arah Airish yang duduk tak jauh darinya.


"Nona, itu Tuan datang." Ucap Leela sedikit berbisik, menunjuk Kaisar dengan ekor matanya.


Airish menoleh ke samping. Entah kenapa dia malah tersenyum. Dia bangkit, dan menepuk bahu Leela beberapa kali. "Leela, aku ingin kesana dulu yah." Pamitnya.


Leela mengangguk sebagai jawaban, tetapi sebelum Airish melangkah, gadis itu mencekal tangan Airish. "Nona, ingat! Panggil dia sayang." Ucap Leela sambil cekikikan.


Airish manggut-manggut dengan bibir yang tak berhenti tersenyum. Lalu lekas melangkah ke arah Kaisar yang setia berdiri menunggunya.


"Sweetie, apa latihanmu sudah selesai?" Tanya Kaisar saat Airish sudah sukses berdiri di depannya.


"Kami sedang istirahat, Tuan. Bagaimana denganmu, apa urusanmu sudah selesai?" Airish balik bertanya.


Kaisar belum menjawab, dia lebih dulu menyibak anak rambut Airish, yang basah terkena keringat itu ke samping. Lalu memegang dagu runcing gadis itu. "Sudah, Sweetie. Semua aku selesaikan dengan cepat demi dirimu. Aku tidak ingin terlambat menemanimu makan siang, kau belum makan kan?" Tanya Kaisar seraya mendekatkan wajahnya.


Airish tak menghindar, dia justru menikmati pahatan wajah sempurna milik Kaisar.


Sial! Dia tampan sekali.


"Belum, aku belum makan." Balas Airish apa adanya.


Tangan Kaisar terlepas dari dagu Airish, berganti menggenggam erat tangan gadis itu. "Kalau begitu ayo aku temani."


Kaisar hendak melangkah, membawa gadis itu ke meja makan. Namun, kaki itu berhenti, karena Airish tak mengikutinya, bahkan terasa menarik lengannya.


Lelaki itu berbalik, kening Kaisar mengernyit, meminta jawaban atas sikap gadis itu.


Airish lebih dulu meneguk ludahnya kasar. Lalu menatap wajah Kaisar dengan tatapan teduhnya. Dia ingin mencobanya. "Terimakasih, Sayang." Ucap Airish dengan pelan, lalu dengan cepat menunduk.


Satu alis Kaisar terangkat, dia tidak salah dengar? Airish memanggilnya dengan sebutan sayang?


"Kau bicara apa?" Tanya Kaisar memastikan. Dia ingin mendengar sekali lagi, ah tidak dia ingin mendengarnya berkali-kali.


"Terimakasih, Sayang." Ulang Airish lebih lantang meski sedikit bergetar, dan dia langsung menggigit bibir bawahnya. Takut Kaisar tidak suka dan akan marah padanya.


Dan di luar ekspektasinya, Kaisar justru terkekeh, lalu mengusak puncak kepala Airish dengan gemas. Hingga membuat gadis itu mendongak.


"Kau mau aku hukum, dengan menciummu di sini? Kenapa tiba-tiba memanggilku seperti itu?" Kaisar mendekat, dan meraih tubuh ramping Airish.


Reflek Airish menutup bibirnya dengan kedua tangan. Dia menggeleng imut, membuat Kaisar semakin tidak tahan, untuk tidak menarik gemas hidung mancung Airish.


"Aku hanya ingin menyenangkanmu." Balas Airish dengan mulut yang masih tertutup.


"Kalau begitu, terus panggil aku seperti itu." Ucap Kaisar sungguh-sungguh.


Airish melebarkan kelopak matanya.


"Tuan, apa kau menyukainya?" Tanya Airish girang, bahkan dia langsung menurunkan tangannya.


Kaisar masih belum menanggalkan senyumnya. Dia menggeleng, ingin melihat reaksi wajah Airish.


Melihat itu, wajah air muka Airish berubah kecewa. Cih, Leela pasti mengerjaiku, katanya dia akan suka, mana? Dia malah menggeleng, bahkan ingin menghukumku dengan ciuman.


Di tempatnya, Leela ikut tergelak menyaksikan itu semua.


Sedangkan Joni hanya memasang wajah datar. Semua rasa bercampur aduk di hatinya. Namun, dia tak bisa bohong, melihat Kaisar tersenyum bahagia, dia pun ikut bersyukur.


"Lalu kenapa kau ingin dipanggil seperti itu terus?" Tanya Airish, tapi terdengar seperti protes, merasa tidak terima.


"Karena kau yang menginginkannya," balas Kaisar enteng, dengan wajah tanpa dosa.


"Tuan, maksudku_" Kaisar memotong ucapan Airish dengan merapatkan kembali tubuh mereka.


"Jangan membantah, panggil aku seperti tadi, atau kau benar-benar akan dihukum."


Cih, jadi sebenarnya dia suka atau tidak aku panggil seperti itu?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kemarin siapa nih yang nyuruh Airish buat manggil si Tuan dengan sebutan sayang? 😂


Ayo semangati aku, mau double up nih 🤣🤣🤣