
Di luar sana. Jane mendengar semuanya, suara tawa Airish yang menggema di dalam kamar, serta rengekkan manja yang benar-benar terdengar menjijikkan.
Setelah Airish mengakhiri sambungan teleponnya bersama Kaisar, ukiran kayu berbentuk persegi panjang itu, tiba-tiba terbuka dengan kasar.
Menampilkan Jane dengan rahang yang mengeras, dan kepalan tangan yang begitu kuat, hingga urat-urat ditubuhnya mencuat.
Airish yang tidak mengerti kenapa Jane tiba-tiba masuk ke kamarnya, hanya bisa menatap saudara perempuannya itu, dengan kening yang berlipat-lipat.
Gadis berlesung pipi itu terduduk di atas ranjang, dan dengan buncahan kebencian yang sudah mencapai puncak ubun-ubun, Jane menarik kasar lengan Airish, hingga gadis itu turun dari atas pembaringannya.
Jane tidak suka mendengar Airish tertawa, Jane tidak suka melihat Airish bahagia. Baginya Airish tidak pantas untuk mendapatkan itu semua.
Dia ingin anak hasil perselingkuhan ayahnya itu menderita selamanya, merasa lemah, dan tidak memiliki siapapun di dunia ini.
"Kak ada apa lagi?" Pekik Airish seraya menepis tangan Jane yang sudah menyeretnya ke ambang pintu.
Hingga cekalan tangan itu terlepas, dan mereka saling bertatapan.
"Pergi lo dari sini!!! Ini bukan rumah lo, karena lo nggak punya keluarga di dunia ini." Usir Jane dengan suara yang menggema.
Nafasnya terengah dengan kilatan amarah yang benar-benar menyala. Dia benar-benar tidak sudi lagi melihat wajah Airish, wajah yang terlihat sok lugu di matanya.
Airish meneguk ludahnya dengan susah payah. Otaknya kembali mengulang pertanyaan, apa salahnya? Apa yang sudah dia perbuat hingga Jane terus membencinya.
Mata Airish memanas dengan serpihan kaca air mata, tetapi tekadnya sudah bulat, dia tidak ingin menangis lagi di depan sudara tirinya itu.
"Sebenarnya apa salahku? Apa salahku sampai kau terus membenciku?" Suara Airish tak kalah meninggi, membuat darah dalam tubuh Jane semakin mendidih.
Plak!
Tamparan keras itu tak terhindarkan, Airish memejamkan matanya sejenak, seraya merasakan panas di pipi mulusnya, tak tinggal diam dia pun melayangkan tangannya.
Dan plak!
Mata Jane membola, berani-beraninya tangan kotor itu menyentuhnya, dia tidak terima diperlakukan seperti ini, dengan dada yang meletup-letup, Jane menarik kasar tangan Airish. "Berani lo sama gue, keluar lo cewek murahan, dasar jalangg!!!"
Dan di sisi lain, Martin dan Fenita baru saja datang. Lelaki paruh baya itu berulang kali mengetuk pintu, tetapi karena sedang terjadi keributan, dua gadis itu tidak mendengar suara apapun selain teriakan dari mulut masing-masing.
Martin yang mendengar dengan jelas Jane yang tengah memaki-maki seseorang, lantas membuka pintu, dan dari bawah sana, lelaki paruh baya itu bisa melihat dengan jelas, putri bungsunya tengah ditarik-tarik oleh kakaknya sendiri.
"Jane!!! Apa yang kamu lakukan?" Teriak Martin.
Mendengar teriakan itu, Jane lantas menghentikan aksinya. Namun, tak berhenti menatap benci pada Airish.
Tanpa membuang waktu, Martin langsung menapaki anak tangga, menuju tempat dimana kedua putrinya itu berada. Sedangkan Fenita yang tak kalah shock, mengekor di belakang suaminya.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Tanya Martin dengan suaranya terdengar tegas, memandang ke arah Airish dan Jane secara bergantian.
Tatapan lelaki tua itu menyelidik, diantara kedua putrinya itu terlihat jelas, mereka sama-sama sedang diselimuti kabut emosi yang memuncak.
"Jane mau dia pergi dari rumah ini, dan nggak perlu balik lagi." Cetus Jane seraya menunjuk wajah Airish.
"Apa yang kamu katakan, Jane? Dia itu adikmu." Seperti biasa, dia selalu menengahi kedua putrinya itu, dengan mengingatkan kalau Airish adalah adik Jane.
Membuat gadis itu memutar bola matanya, jengah.
"Hah? Adik? Selamanya aku tidak punya adik, terlebih seperti dia. PERGI LO DARI SINI!" Pekiknya lalu mendorong bahu Airish.
Hingga tubuh gadis itu berguncang hebat, namun tidak sampai terjatuh karena Martin menahannya.
Martin yang terpancing emosi, menaikan satu oktaf suaranya.
Jane mendengus. "Apa ayah tidak tahu? Kalau anak kesayangan ayah ini cuma cewek murahan yang dengan suka rela jadi simpanan?"
Plak!
Jane langsung mendapatkan satu tamparan keras dari tangan besar Martin. Lelaki itu reflek memukul anak sulungnya itu, karena mulut Jane benar-benar sudah keterlaluan.
"MARTIN!" Pekik Fenita. "Apa yang kamu lakukan pada putrimu?"
Fenita mendekat ke arah Jane, lalu mengusap lembut pipi anak gadisnya itu.
Dia ikut menatap tajam ke arah Martin. Seolah luka itu kembali menganga, Fenita dengan jelas mengingat saat Martin membawa seorang bayi merah, dan mengatakan bahwa itu adalah anak hasil dari perselingkuhannya.
"Dia sudah keterlaluan Feni." Martin menatap sang istri dengan sorot matanya yang terlihat kecewa, kecewa akan sikap Jane yang selalu semena-mena, pada putri keduanya, Airish.
Padahal selama ini dia selalu mementingkan kebahagiaan Jane diatas kebahagiaan Airish. Itu semua semata-mata karena dia sadar, dia salah.
Masa lalu itu benar-benar membuatnya tak bisa adil pada kedua putrinya, dan disini Airish lah yang tersisihkan.
Namun, seolah tak merasa puas, Jane selalu ingin menyingkirkan adik tirinya itu. Dia tidak pernah suka melihat Airish bahagia, walaupun itu hanya sementara.
Diperlakukan seperti itu, kemarahan Jane semakin membludak, ia menatap Martin tajam dan buraian kekesalan. "Ini semua salah ayah. Kalo aja ayah nggak selingkuh, aku nggak akan bersikap seegois ini."
Lantas dengan gerakan cepat, Jane melepas pelukan sang ibu, kemudian melangkah dan menarik kembali lengan Airish dengan kasar. "Pergi lo jalangg! Lo tuh sama kaya ibu lo, sama-sama murahan."
"Jane, cukup!!!" Bentak Martin, dia menarik tangan Jane dari lengan Airish.
Namun, seolah sudah dirasuki setan, Jane justru mendorong dada Martin dengan kuat. Martin yang posisinya membelakangi tangga, sontak saja tak mampu menjaga keseimbangannya dan berakhir jatuh berguling ke bawah sana.
Arghhh!!!
"AYAH."
"MARTIN."
Pekik Airish dan Fenita berbarengan dengan netra yang membulat sempurna.
"Jane apa yang kau lakukan pada ayahmu?" Bentak Fenita seraya memandang ke arah putrinya itu.
Namun, seolah tidak merasa bersalah, Jane hanya menghela nafas dan tersenyum sinis.
"Hah, sejak dia membawa Airish kemari, dia bukan ayahku lagi. Sekarang ayo kita pergi, Bu." Cetus Jane, seraya mengajak ibunya itu pergi, dia tampak sudah tidak peduli dengan ayahnya lagi.
Airish mengepalkan tangannya kuat. Dengan rahang yang mengeras, Airish mendorong tubuh Jane hingga gadis itu terjungkal menabrak lemari kaca yang berada di depan kamarnya.
Brak!
Lalu tanpa ba bi bu, Airish turun ke bawah, menapaki anak tangga dengan tidak sabaran, untuk melihat kondisi sang ayah.
Gadis itu menatap nanar. Dilihatnya Martin yang sudah tidak sadarkan diri dengan kepala yang berlumuran darah.
"Ayah."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Menurut kalian enaknya Jane diapain?