
Tubuh Roger bergetar hebat menyaksikan itu semua, ia beringsut mundur ketakutan dengan nafas yang tersengal-sengal. Sedangkan matanya menatap nanar.
Raungan keras dari orang yang tengah merenggang nyawa itu memenuhi ruangan. Memilukan, sekaligus menyayat telinga.
Roger menutup kedua indera pendengarannya. Namun percuma, suara-suara mengerikan itu terus menusuk, membuat jantungnya terpompa dengan cepat.
Dia benar-benar salah memilih lawan.
Tahu begini, dia tidak akan berurusan dengan orang bernama Kaisar. Manusia setengah setan, yang benar-benar kejam.
Ia melirik Kaisar, dan lelaki itu tengah melakukan hal yang sama. Kaisar tersenyum sinis ke arah Roger. Membuat lelaki itu semakin takut dan menelan salivanya dengan kasar.
Kaisar, lelaki itu mencolek darah yang memercik ke tangannya. Dengan sengaja, dia menjilatnya di depan Roger. Mata Roger semakin terbelalak lebar, seperti akan keluar dari sarangnya.
"Hah, ternyata darah manusia jahat itu rasanya lebih pahit dari darah hewan." Gumam Kaisar yang masih terdengar di telinga Roger.
Sebenarnya dia makhluk apa?
Kaisar berjalan pelan ke arah lelaki yang tengah frustasi itu. Seperti kelinci kecil yang malang, Roger meringkuk sambil menangis, menangisi nasib malangnya, karena bisa terjerat dengan lelaki bernama Kaisar.
Kaisar berjongkok, sedangkan Roger tertunduk lemah, tak mampu melakukan apa-apa.
"Tuan, maafkan aku. Aku mohon cepat bunuhlah aku. Jangan siksa aku lagi seperti ini." Pintanya mengharap belas kasih seorang Kaisar. Bibirnya memucat, dengan wajah pias. Sedangkan tangannya mengatup meminta keringanan.
Melihat itu, Kaisar menyeringai penuh, ini adalah tujuannya, membuat Roger ketakutan setengah mati, dan lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri.
Tapi tunggu! Kaisar tidak akan semudah itu untuk melepaskan mangsanya.
"Apa kau sudah menyerah?" Tanya Kaisar dengan tatapan remehnya, dan Roger langsung mengangguk sebagai jawaban.
Lagi-lagi lelaki itu tersenyum puas, seperti sudah mendapatkan mainan baru, yang ketika dia bosan, mudah saja untuk membuangnya.
Tak sampai mengenai kulit Roger, Kaisar terus memainkannya.
"Aku sudah pernah bilang kepadamu, aku tidak akan membuat kematianmu menjadi mudah. Aku akan tetap menghidupkanmu, meski kau menginginkan mati, tapi baru seperti ini, kau sudah menyerah? Masih banyak yang akan kita mainkan, brother!" Ucap Kaisar menyeringai.
Roger kembali menangis, dan lelehan air mata itu membuka luka yang masih menganga itu kembali merasakan perih luar biasa.
"Lihat api kecil ini." Kaisar mengarahkan korek api yang menyala itu, meminta Roger untuk melihatnya.
Pelan, lelaki itu mengangkat kepala, menuruti semua perintah Kaisar. Sambil sesenggukan.
Kaisar meniupnya pelan-pelan, hingga entah dihembusan ke berapa api itu mati dengan sendirinya.
"Kau ibarat api kecil ini. Kau lihat, aku tidak perlu bersusah payah memberikan angin yang kencang untuk membuatmu padam. Karena dengan sedikit hembusan-hembusan, kau akan padam dengan sendirinya, tanpa perlu aku mengeluarkan banyak tenaga." Jelas Kaisar dengan satu alis terangkat dan senyum yang mengembang.
Tatapan mata elang yang khas, pun dia layangkan.
"Tuan, walau bagaimanapun, aku adalah orang yang membawa Airish kepadamu. Lagi pula ini bukan ideku, aku menjual Airish atas permintaan Kakaknya, bukankah dia juga harus menanggung akibatnya?" Roger berujar pelan-pelan, ini adalah harapan terakhirnya.
Tetapi jika dia benar-benar mati dengan cara seperti ini, setidaknya Jane pun harus merasakan hal yang sama bukan? Sama-sama mendapatkan balasan setimpal dari Kaisar.
"Kau benar. Kakak dari istriku juga ikut berkontribusi ternyata. Tapi aku tidak akan membunuhnya." Ucapan Kaisar membuat Roger memaki dalam hati, kenapa? Kenapa hanya dia yang menerima hukuman ini.
"Kenapa, Tuan? Bukankah itu tidak adil bagiku? Kami menikmatinya berdua, lalu kenapa hanya aku yang menerima akibatnya?" Protes Roger menggebu.
Kaisar melirik tajam, dengan rahang yang mengeras, apa Roger pikir dia bodoh?
"Karena aku ingin, istriku sendiri yang membunuhnya."
Glek!