
Satu minggu kemudian.
Dari arah kamar mandi, suara kekehan sesekali terdengar, bersahut-sahutan dengan decap kecil yang membuat Airish bergerak kegelian.
Kini, bibir Kaisar tengah berlarian dari tengkuknya menuju daun telinga. Sedangkan tangan besar lelaki itu tak berhenti menjamah apapun yang ia suka.
"Ini milikku," bisik Kaisar mesra, kedua tangan itu menggenggam sesuatu yang menggunung dengan pucuk yang menegang.
Airish membusungkan dada.
"Iya, Sayang. Berhentilah bermain-main," balas Airish terkekeh.
Tapi Kaisar tak peduli dengan ucapan Airish, satu tangan Kaisar kembali menjelajah, merayap dari pelipis bermuara di bibir ranum Airish, mengusapnya sekilas dengan ibu jari, lalu kembali berucap. "Ini juga milikku."
Airish mengangguk cepat sebagai jawaban dan menggeliat sensual.
Sudah hampir satu jam keduanya berada di dalam kamar mandi. Seperti tidak ada kata bosan, tak sudah-sudah lelaki itu menggoda istri kecilnya.
"Yang ini juga." Berganti meremat yang di bawah sana. Membuat Airish merapatkan tubuhnya ke arah Kaisar, hingga tak tersisa jarak diantara mereka.
Dengan dada yang saling berhimpitan. Di bawah guyuran air shower yang menderas, Airish mengalungkan tangannya dengan sempurna di leher sang suami, lalu mengecup singkat bibir tipis lelaki tampan itu.
"Semuanya milikmu, Sayang," ucap Airish, mendongak menatap dalam netra yang tengah menatapnya dengan penuh damba.
Kaisar mengulum senyum, getaran dalam tubuhnya kembali membuncang hebat. Dahsyat seperti air yang tengah mengalir, membasahi tubuh mereka.
Bermandikan gelora asmara yang membara, Kaisar mengangkat tubuh Airish, dan kembali membawa gadis cantik itu terbang mengarungi lautan surga dunia. Tubuh Airish melayang, nafasnya sedikit tersengal, dengan jerit nikmat yang melolong panjang.
Lelaki satu ini memang pandai membuatnya menjadi tak waras, seluruh urat syaraf dalam tubuhnya diluluhkan secara serentak, dengan getaran hebat serta lelehan air suci yang membuncah hangat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini, Airish sudah kembali dengan kesibukannya berkuliah, dia izin pada Kaisar untuk pulang sedikit larut malam, karena ada tugas yang harus dia kerjakan bersama Zoya.
Sebelum pergi, Kaisar sempat melingkarkan sebuah kalung berlian yang begitu indah nan memukau. Kalung yang sengaja ia desain untuk istri kecilnya, dan hanya ada satu di dunia. Airish's blood, namanya.
Awalnya Airish menolak, tetapi dengan sedikit desakan, Kaisar berhasil mempercantik leher wanita muda itu.
Pukul sepuluh malam, Airish dan Zoya baru saja keluar dari cafe. Kedua gadis itu telah menikmati makan malam, setelah selesai mengerjakan tugas di perpustakaan kampus.
"Zoy, aku anterin kamu pulang yah," tawar Airish, keduanya melangkah bersama keluar dari cafe tersebut menuju parkiran.
Menjelang malam, suasana di sekitar sudah nampak gelap dan senyap. Bulan yang biasa bersinar terang, kini tenggelam tertutup awan.
"Nggak usah, gue naik taksi aja, Ai. Kalo lo nganterin gue, yang ada lo pulang kemaleman, nanti laki lo marah-marah lagi," tolak Zoya, dia tidak mau merepotkan Airish.
"Ih, ya nggak lah, Zoy. Kamu tuh kaya sama siapa aja."
"Pokoknya gue nggak mau!"
Zoya tetap kukuh pada pendiriannya, membuat Airish tak bisa memaksa, gadis itu hanya bisa menghela nafas panjang. Lalu menepuk bahu Zoya. "Yaudah hati-hati ya, Zoy."
Gadis itu langsung mengangguk sebagai jawaban, lalu tersenyum lebar memamerkan gigi-giginya.
Akhirnya kedua gadis itu berpisah. Zoya melangkah ke arah halte yang sudah nampak sepi, karena tidak ada siapapun di sana, sedangkan Airish masuk ke dalam mobilnya.
Gadis itu segera memasang seat belt, lalu menyalakan mesin mobil, dan melajukan kijang besi itu ke arah jalan raya.
Begitu melewati Zoya, Airish membuka kaca, dan menekan klakson.Tangan Zoya melambai, dan dibalas senyum mengembang dari bibir Airish.
Namun, belum terlalu jauh ia meninggalkan Zoya, terlihat dari kaca spion tengah, Zoya dihampiri oleh beberapa pria. Bila tidak salah hitung, ada sekitar lima orang berbadan besar di sana.
Mata Airish terbelalak saat dia bisa melihat Zoya mundur ketakutan. Tanpa ba bi bu, Airish memutar arah, dia yakin para lelaki itu akan mengganggu sahabatnya.
Dengan langkah lebar, Airish menghampiri Zoya, dia langsung menarik lengan gadis itu untuk berlindung di belakang tubuhnya.
"Mau apa kalian?" cetus Airish dengan nafas yang memburu. Menatap kelima lelaki itu secara bergantian lengkap dengan sorot mata menajam.
Kelima lelaki itu menyeringai. Dan salah satu dari mereka maju ke depan, membuat Airish reflek mundur, dengan tangan yang terbentang membuat sebuah benteng pertahanan.
"Kami tidak punya urusan denganmu, Nona. Kami hanya ingin membawa gadis itu pergi menemui bos kami," jelasnya, dan langsung dibenarkan oleh yang lainnya.
"Siapa bos kalian? Dan untuk apa membawa temanku kesana?" Airish kembali bertanya, satu tangannya di genggam oleh Zoya, membuat ia bisa merasakan ketakutan yang luar biasa dari gadis itu.
Tangan Zoya berkeringat dingin, dengan tubuh yang gemetar.
"Ai," bisik Zoya, ludahnya terasa tercekak. Bukan sekali Zoya didatangi oleh mereka.
"Diem, Zoy. Kita harus tahu apa tujuan mereka."
"Ai, mereka itu pengawal yang disuruh nangkep gue. Bokap nyokap gue punya hutang sama bos mereka."
"Jadi kamu kenal sama mereka?"
"Hei, Nona. Jangan banyak basa-basi, cepat pergi jika kau tidak mau terkena masalah, kau sudah membuang banyak waktu kami," bentak salah satu dari mereka, raut wajah kelima lelaki itu terlihat semakin menyeramkan. Tanda kesal.
Perlahan, mereka mulai melangkah ke arah Zoya dan Airish. Dan kedua gadis itu reflek ikut mundur dengan teratur.
"Zoy, kamu mengerti maksudku kan?" Dan Airish mulai menghitung, dalam hitungan terakhir Airish langsung menarik lengan Zoya untuk kabur.
Mereka berlari cepat ke arah mobil, tetapi mereka tak diberi kesempatan untuk masuk ke dalam sana. Karena para pengawal berbadan besar itu mengejar mereka tak kalah cepat.
"Hei, berhenti!" pekik lelaki yang memiliki tato di sekujur tubuhnya.
Kaki jenjang kedua gadis itu terus bergerak cepat, satu tangan Airish mengambil sesuatu dibalik kemeja yang ia pakai.
Dor! Dor! Dor!
Tiga peluru melandas begitu saja, yang dua tepat mengenai kaki dua orang dari mereka. Sedangkan satu dari peluru lagi melandas ke aspal, semua orang terbelalak, tak menyangka gadis itu membawa senjata tajam dalam tubuhnya.
Tak terkecuali Zoya, Airish hanya tersenyum miring diantara wajah pias sahabatnya, sedangkan kaki mereka terus berlari tak tentu arah.
"Berhenti kalian anak bocah!"
Nafas Zoya tersengal, dia kelelahan sedangkan kelima lelaki itu masih berusaha mengejarnya. Mereka melewati beberapa lorong-lorong rumah, tetapi tidak ada satupun orang yang mau menolong mereka.
Hingga mereka sampai di dinding pembatas yang menjulang cukup tinggi, mereka terpojokkan, dan tidak ada pilihan lain selain memanjat dinding tersebut.
"Zoy, ayo naik ke atas tubuh aku," pinta Airish tergesa, sesekali dia menoleh ke belakang, takut para lelaki itu lebih cepat datang. Tetapi Zoya justru terkulai lemas, kakinya bergetar hebat, membuat dia tidak sanggup untuk berdiri.
"Ai, gue nggak bisa. Gue nggak kuat."
Dan waktu yang miliki semakin sempit, para badjingan itu sudah berdiri di belakang mereka dengan sunggingan senyum sinis.
"Berhentilah bermain-main, Nona."