My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Kalah sebelum berjuang



Sial! Kenapa aku ceroboh sekali? Bahkan aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, saat melihat dia bersama orang lain. Wajah dan senyum itu? Ck, damn! Takkan ku biarkan dinikmati oleh siapapun lagi, hanya aku, hanya aku yang boleh melihatnya.


Kaisar melepas jas yang melekat pada tubuhnya, dan membalutkannya pada tubuh Airish, gadis itu hanya bergeming saat Kaisar melakukan itu semua, hingga lelaki itu mengecup dalam puncak kepalanya.


Hatinya berdesir aneh, segala keresahan dan kegundahan seolah menghilang begitu saja.


Kenapa? Kenapa aku tidak bisa menemukan jawaban apapun dari si bedebah gila ini?


"Kemari," Kaisar merentangkan tangannya, tanpa protes Airish langsung masuk ke dalam dekapan lelaki itu, hatinya menghangat seketika, dengan perlakuan lembut suaminya.


Kaisar mengambil ponselnya yang berada di saku celana, sedangkan satu tangannya mengepuk-ngepuk kepala Airish, Kaisar menghubungi sang asisten, Joni. "Jon, siapkan mobil. Aku akan bawa pergi Airish ke pulau."


Tanpa banyak bertanya, lelaki di seberang sana langsung mengiyakan perintah Tuannya. Dia keluar dari gedung kampus itu, untuk kembali ke dalam mobilnya.


Tanpa dia ketahui, Denis membuntutinya di belakang, karena pemuda tampan itu yakin, pasti Joni telah mendapat perintah dari sang Kakak. Malam ini juga, Denis ingin meminta kejelasan.


Sedangkan di ruangan itu, Kaisar mengangkat tubuh Airish. Airish reflek mengalungkan tangannya di leher Kaisar. "Bersikap manis lah, Sweetie. Jangan pancing emosiku. Karena suasana hatiku masih belum membaik."


Pelan, Airish hanya mengangguk, bagai kelinci kecil, dia hanya patuh pada tuannya. Dia menyandarkan kepala di dada Kaisar, saat lelaki itu membawa tubuhnya keluar.


Hingga sampai di dekat pagar pembatas, tepatnya di lantai dua, Kaisar meminta Airish untuk menutup mata. "Tutup matamu, Sweetie."


Airish melihat sekitar terlebih dahulu, apa yang akan dilakukan lelaki ini, apa dia akan terjun dari lantai dua untuk sampai ke bawah sana?


Tidak, tidak mungkin!


"Tuan, kau mau apa?" Tanya Airish dengan dahi yang mengernyit heran.


"Turuti saja perkataanku, tidak akan terjadi apa-apa." Ucap Kaisar lugas, waktunya tidak banyak sekarang. Dan akhirnya Airish menuruti perintah lelaki itu. Gadis itu menutup matanya rapat-rapat, dan semakin memeluk erat leher Kaisar.


Sementara Kaisar melihat sekitar, kesempatan bagus, suasana di sana nampak sepi, hingga dengan mudah dia terjun ke bawah, membawa tubuh Airish melayang.


Woshhh!


Shhhh!


Shhh!


Shh!


Tap!


Kedua kakinya berhasil menapak di tanah. Tubuh tegapnya terlihat semakin gagah, dengan rambut yang berkelebat terkena angin malam.


"Buka matamu, Sweetie," titah Kaisar.


Airish menurut, pelan dia mengerjapkan kelopak matanya, melihat sekeliling, dia sudah ada di bawah, tepatnya belakang kampus.


Dia menatap Kaisar tak percaya. Sehebat apa dia sebenarnya?


"Kenapa Sweetie? Apa kau mau mengakui kalau suamimu ini tampan?"


Cih, di saat seperti ini, bisa-bisanya dia bicara tanpa tahu malu. Tapi dia memang tampan si, tidak! Dia memang sangat tampan.


Airish kembali mengerjap, apa yang dipikirkan otaknya, lihat! Kaisar sampai menyunggingkan senyum, gara-gara melihat wajah konyolnya, wajah yang bersemu merah.


"Perlihatkan wajah ini hanya untukku, Sweetie." Ucap Kaisar, mengecup bibir itu sekilas lalu melangkah ke arah mobil, di sana Joni sudah menunggu.


Namun, langkah itu terhenti, tatkala sang adik tiba-tiba mencegatnya yang hampir masuk, ke dalam kijang besi tersebut.


"Tuan muda!" Panggil Joni pada Denis, sebenarnya sedari tadi dia sudah curiga, tetapi dia tetap diam dan membiarkan pemuda itu mengikutinya.


"Aku hanya ingin bicara sebentar dengan Kakak, asisten Joni." Ucap Denis, seraya melirik ke belakang, tepat dimana Joni berdiri.


Kaisar mengangguk ke arah sang asisten, dan membiarkan adik manusianya itu bicara. "Bicaralah!"


Pelan, Denis menghela nafas, dan menyiapkan hatinya. Jikalau memang semuanya jelas, bukankah dia harus mundur pelan-pelan? Dan membiarkan Kakak laki-lakinya bahagia, dengan gadis yang ia cinta.


"Aku tidak bisa dibohongi lagi, bahkan malam ini semua orang pasti tahu siapa Kak Airish di hidup Kakakku. Aku hanya ingin memastikan, jika memang benar, katakanlah! Aku ingin mendengarnya." Ucap Denis, mengutarakan semua yang ada dalam otaknya.


Airish bergeming, sedangkan Kaisar mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. Lalu mencodongkan wajahnya tepat ke telinga sang istri. "Jawablah, atau aku yang akan memperlihatkan semuanya dengan jelas, apa hubungan kita sebenarnya." Bisik Kaisar dengan tersenyum smirk.


Gadis itu nampak ragu, tapi kalau sampai Kaisar yang menjelaskannya, ia yakin tidak akan semudah itu, Kaisar tetaplah Kaisar, siapapun yang lelaki itu hadapi, pasti penuh misteri.


"Aku_" Airish menatap sebentar ke arah Denis. Pemuda tampan itu dengan setia menunggu jawaban Airish, dengan wajahnya yang tampak sendu.


"Aku dan Kakakmu sudah menikah, Denis. Dia tidak bermaksud membohongimu, aku yang meminta dia untuk menyembunyikannya, kalau kamu mau menyalahkan, salahkan aku saja, jangan suamiku." Jelas Airish, dia membuang muka, karena merasa bersalah pada lelaki berhati tulus itu.


Dia telah membohongi Denis.


Sejenak Denis bergeming, namun detik selanjutnya dia tersenyum. "Kalau begitu, berbahagialah, aku tidak akan mengganggu kalian, Kak Airish adalah wanita baik, aku senang Kakak menjadi Kakak iparku. Dan untukmu kak, jangan cemburu padaku lagi yah. Aku pasti mendukung hubungan kalian, aku yakin Kak Airish memiliki alasan untuk menyembunyikan hubungan ini."


Tak lagi berharga, Denis membuangnya begitu saja.


Bahkan aku sudah kalah sebelum memperjuangkannya.


Airish terpaku, dia merasa terharu dengan sikap Denis, hingga entah kenapa air mata itu mengalir begitu saja, dan Kaisar melihat itu semua.


"Kau menangis untuknya?" Tanya Kaisar remeh, membuat Airish langsung terkesiap dan reflek mengelap air matanya.


Cih, bisa-bisanya aku menangis untuk lelaki lain, di saat aku ada dalam pelukannya.


Pelan, Airish menggeleng.


"Lalu apa yang membuatmu menangis? Apa karena kau menyesal ikut bersamaku?"


Airish menengadah, menghadapi lelaki satu ini harus ekstra sabar, batinnya. Dengan menahan rasa malu, Airish mengecup dada Kaisar beberapa kali. Berharap emosi lelaki itu meredam, dan hilang.


Berhasil, Kaisar terkekeh.


"Sepertinya istriku sudah tidak sabar untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan. Jon, bawa mobilnya lebih cepat."


Apasih? Aku kan hanya ingin membuatmu tidak marah-marah, tapi kenapa malah aku yang terkesan liar sekarang.


Dan sepanjang perjalanan, Airish terus menggerutu, karena Kaisar benar-benar keterlaluan, keputusannya membujuk lelaki itu dengan ciuman nyatanya menjadi sebuah boomerang.


Hingga sampailah mereka di pulau.


Tanpa memperdulikan salam hormat para pengawal, Kaisar langsung membawa tubuh Airish ke dalam kamar. Dan membaringkannya di atas ranjang.


Airish memejamkan matanya, pura-pura tidur. Dan Kaisar tidak sebodoh itu.


Sial! Dia menggerayangiku.


Dan detik selanjutnya, Airish menjerit. "Arghh." Dia membuka matanya lebar-lebar, dan mendapati Kaisar sudah mengungkung tubuhnya.


"Tu, tuan."


"Pembohong," cibir Kaisar.


"Tuan, hmpt!"


Bibir tipis itu tak mampu lagi untuk bicara, terkunci oleh bibir Kaisar yang menari-nari dengan begitu lihainya.


Sedangkan tangan besar lelaki itu sudah berlarian kesana-kemari, ke tempat-tempat yang dia suka.


Airish kehabisan oksigen, dan dengan terpaksa Kaisar melepas pagutannya. Dengan nafas yang memburu, gadis itu menatap wajah Kaisar, wajah tampan yang tengah diselimuti kabut gairah.


Mata indah itu bergerak sayu, membuat getaran di tubuh Airish semakin terasa semakin kuat.


Pelan, jemari lentik itu menyentuh pipi Kaisar, bias kelembutan menyeruak, hanya dengan saling bertatapan.


"Aku mohon, lakukanlah dengan lembut dan pelan-pelan," ucap Airish, membuat lelaki yang berada di atas tubuhnya itu sedikit menyeringai.


Pelan, Kaisar mengangguk, mengecupi seluruh wajah Airish, hingga berujung dengan penyatuan. Airish sedikit tersentak, namun tak lama dari itu dia tersenyum tipis.


"Malam ini, kau boleh memanggil namaku," ucap Kaisar sebelum bergerak.


Dan Airish menurut, "Kai, Kaisar."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yang kurang ngerti kenapa Kaisar dan Denis berbeda, bisa baca lagi part "Kehidupan Kaisar" yah, disana ada keterkaitannya, jawaban atas segala doa-doamu. Ngapa jadi ceramah 😏


Ini visual Airish 🌹



Hari ini, Dede othor yang gemesin ini, bawa novel bagus lagi, ini karya emakku yah. Bila berkenan monggo mampir😍😍😍


Dijamin gurih bin nagih🤧


Judul : Kekasihku, kekasih ibu tiriku


Karya : Mama Reni


Papay, salam anu👑