My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Kenyataan



Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya kondisi Denis berangsur pulih, lelaki itu sudah melewati masa kritisnya, dan kini sudah bisa bergerak ceria, meski hanya duduk di kursi roda.


Lelaki muda itu beruntung, karena tak terlambat untuk dilarikan ke rumah sakit, kalau saja Denis tak tertangani, maka sudah dipastikan nyawa lelaki itu akan melayang hari itu juga.


Kini, Denis dan Sofia tinggal di rumah utama. Dan selama itu pula, Sofia masih enggan untuk bicara dengan sang kakak, Kaisar.


Dan hal itu membuat Denis tak bisa untuk tidak curiga. Gadis yang biasanya manja, tetapi kini sangat jelas berbeda, ada jarak yang Sofia bentuk antara dirinya dan Kaisar.


Hingga akhirnya, malam itu Denis tak bisa menahan diri lagi, rasa penasarannya begitu menggunung, seperti keingintahuannya terhadap hubungan Kaisar dan Airish kala itu.


"Selama aku di rumah sakit, aku tidak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Kakak, Sofia. Aku ingin penjelasan, jujur padaku kamu ini kenapa? Kenapa kamu terlihat begitu enggan berdekatan dengan Kak Kai?" tanya Denis menggebu, kini keduanya duduk di gazebo, dekat dengan kolam renang yang ada di rumah besar itu.


Sofia bergeming, mendapat pertanyaan seperti itu jelas dirinya kebingungan. Benarkah Denis akan percaya pada perkataannya? Bahkan dirinya sendiri saja menolak akan kenyataan itu, Sofia masih belum menyangka, kalau Kaisar ternyata bukan manusia biasa seperti dirinya.


"Sofia, bisakah kamu mengatakan semuanya!" Denis sedikit memekik, dia terlanjur kesal, seolah hanya dia sendiri yang tidak tahu masalah ini.


Sofia menoleh, dia menatap Denis yang duduk di kursi rodanya. Perlahan, dia berjongkok di hadapan kakak lelakinya itu.


"Kak, jika Sofia menceritakan apa yang Sofia lihat, apa Kakak akan percaya?" tanyanya, dia tidak ingin disebut sebagai pembohong, makanya dia tidak bercerita pada siapa-siapa, bahkan kepada ibu Oh sekalipun.


Kini giliran Denis yang terlihat gamang, tetapi demi sesuatu yang ingin ia ketahui, akhirnya lelaki tampan itu mengangguk.


Sofia menelan ludahnya kasar, dia melihat kesana-kemari, untuk memastikan tidak ada orang yang mampu mendengar percakapan mereka.


Dia tidak tahu, kalau sedari tadi Kaisar sudah berdiri di belakang sana, awalnya Kaisar memang memutuskan untuk bicara pada Denis dan Sofia tentang masalah ini, tetapi ternyata Denis sudah tak memiliki kesabaran, kini dia ingin melihat bagaimana reaksi bocah itu, mendengar cerita dari Sofia.


"Kak Kai bukan manusia biasa, Kak," lirih Sofia, lalu menunduk.


Deg!


Denis menatap Sofia dengan gelengan di kepalanya, tidak! Dia tidak percaya.


"Kau jangan bicara sembarangan, Sofia. Kak Kai itu kakak kita!" Pekiknya keras.


Air mata Sofia tiba-tiba luruh, dia menggenggam kedua tangan Denis.


"Aku juga tidak percaya, Kak. Tapi itu kenyataannya, aku melihatnya sendiri saat kak Kai menyelematkan aku, dia terbang, dia bertaring, dan bisa melawan manusia serigala yang mau membunuhku. Aku tidak pernah bercerita pada kakak, karena aku takut, aku takut kakak tidak percaya padaku, seperti saat ini," jelas Sofia dengan gamblang.


Dia bercerita apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi, sekarang hanya tinggal satu, yaitu Denis percaya atau tidak dengan ceritanya.


Sekali lagi, Denis menggeleng. Meskipun ingatannya berlarian pada hari itu, hari dimana dia dan Airish pergi ke kampus bersama.


"Aku tetap tidak percaya, Sofia."


"Kau harus percaya padanya."


Deg!


Suara Kaisar tiba-tiba menyambar, membuat kedua remaja itu terperanjat kaget, dan kompak menoleh ke arah kakak lelakinya itu.


Kaisar menatap Denis dan Sofia secara bergantian, gadis muda itu meneguk ludahnya, dan mencengkram kuat pergelangan tangan Denis, Kaisar bisa tahu ketakutan Sofia, dan dia tidak mau berlama-lama lagi, menutupi identitasnya.


Secepatnya, dia akan membawa Airish pergi bersamanya, meninggalkan rumah utama.


"Apa maksud kakak bicara seperti itu?" Tanya Denis terus menatap Kaisar.


"Ikut aku!" Kaisar melangkah menuju ruangan pribadinya, diikuti oleh Denis dan Sofia yang mengekor di belakangnya.


Kini, di ruangan tersebut hanya ada mereka. Sofia tetap setia di samping Denis, sedangkan Kaisar berdiri di depan kedua adiknya itu.


"Aku tidak bisa menundanya lagi, aku yakin kalian begitu penasaran siapa aku sebenarnya. Terlebih Sofia sudah melihat semuanya, aku putuskan malam ini juga, aku akan memberitahu kalian berdua, bahwa aku seorang vampir."


Deg!


Kedua mata Denis dan Sofia langsung membulat sempurna, bahkan Sofia tak bisa bernafas dengan normal, dia terengah-engah dengan dada yang naik turun.


Sementara Denis kembali menggeleng, sumpah demi apapun, dia tidak ingin percaya itu semua.


"Kak, katakan kalau semua itu hanya lelucon. Kamu itu kakak kami, dan selamanya akan tetap seperti itu."


"Tidak Denis, aku adalah aku. Makhluk bengis penghisap darah, yang kapan saja bisa menghabisi bangsa manusia." Potong Kaisar cepat.


"Aku tidak percaya!!!" sahut Denis, dengan dada yang bergemuruh.


"Kak!" Pekik Sofia.


"Terserah kau mau percaya atau tidak. Yang jelas, setelah aku pergi ke luar kota untuk menyelesaikan bisnis keluargamu, aku akan membawa Airish pergi dari sini, semua yang kalian miliki, aku serahkan pada Joni, dia yang akan membantu kalian. Karena aku tahu, kalian tidak bisa menerima makhluk sepertiku."


Setelah mengatakan itu, Kaisar berlalu begitu saja dari sana, meninggalkan Sofia dan Denis dengan kecamuk pikiran yang membelit otak mereka.


Mereka tidak ingin percaya, tetapi kenyataan berkata lain.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bantu like, komen!