
Kaisar membawa Airish pulang ke rumah utama. Sesampainya di sana, Kaisar langsung menanyakan keadaan Sofia.
Joni sudah memanggil dokter pribadi untuk gadis muda itu, dan saat ini Sofia sudah sadarkan diri, tetapi kondisinya cukup memprihatinkan, atas apa yang menimpanya, Sofia jadi terlihat ketakutan.
Apalagi saat dia melihat Kaisar, dia langsung memeluk ibu Oh dengan erat, dan menggeleng saat Kaisar ingin menyentuhnya.
"Tidak mau, ibu Oh aku tidak mau disentuh olehnya." Ucap Sofia sambil terus melesakkan wajahnya, enggan menatap Kaisar.
Airish menatap suaminya dengan penuh tanda tanya, ada apa sebenarnya?
Kaisar menghela nafas, dia mengerti kenapa Sofia bersikap seperti ini padanya. Gadis kecil itu pasti sangat ketakutan, dan Kaisar tidak bisa memaksa Sofia untuk menerimanya begitu saja.
Akhirnya Kaisar mengalah, dia berlalu ke kamarnya setelah menitipkan Sofia pada ibu Oh. Airish yang terlihat kebingungan hanya bisa mengikuti sang suami yang menggandeng tangannya untuk keluar dari sana.
"Sayang, ada apa dengan Sofia?" Tanya Airish begitu penasaran, seraya mensejajarkan diri dengan langkah Kaisar.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Kaisar berhenti dan menatap ke arah Airish. Dia mengusap pipi istrinya dengan sayang dan mengecup bibir ranum itu sekilas. "Nanti aku jelaskan di kamar."ucapnya.
Pelan, Airish mengangguk, dan tubuhnya kembali mengudara, karena kini Kaisar menggendongnya menuju kamar mereka.
Kaisar langsung membawa Airish ke dalam kamar mandi, karena lelaki itu berniat untuk langsung membersihkan diri.
Dengan tidak sabaran Kaisar melucuti pakaian yang Airish kenakan dan membuangnya begitu saja, sedangkan gadis itu menguncir rambutnya tinggi-tinggi dengan bentuk cepol.
Kedua netra mereka bertemu, dan mereka sudah sama-sama polos tanpa helaian benang sedikitpun.
"Katakan ada apa?" Airish menangkup kedua sisi pipi Kaisar, dan mengunci tatapan lelaki itu.
"Sofia sudah tahu siapa aku sebenarnya, aku tidak bisa menyembunyikan lagi, karena Dewa benar-benar memancingku tadi." jawab Kaisar dengan jujur, memang seperti itu keadaannya.
Dan ia yakin, sebentar lagi Denis pun akan tahu hal itu. Dia tidak bisa berlama-lama lagi, untuk mempertahankan jati dirinya.
Airish tersenyum dan mengusap pipi Kaisar. "Sayang, percayalah secepatnya Sofia pasti akan menerimamu lagi, terlepas siapapun kau. Dia pasti berpikir ulang membencimu, bagaimana pun, kau adalah kakaknya, orang yang menyelamatkan Sofia dari pembantaian itu." ucap Airish, mencoba meyakinkan.
Leher jenjang yang terlihat begitu bersih itu menggoda sekali di mata Kaisar, hingga dengan cepat, Kaisar mendorong tubuh Airish hingga menempel pada dinding, benda kenyal itu langsung berlarian, menyusuri titik sensitif tubuh Airish.
"Sayang." Erang Airish merasa kegelian, dia mencengkram bahu Kaisar, mengekspresikan rasa yang sedang mempermainkan gelora sukmanya.
Bibir Kaisar tak berhenti untuk memanjakan Airish, bergerak semakin turun hingga bermuara pada pucuk yang tengah menegang hebat itu.
Airish menjerit tertahan saat Kaisar menggigit pucuk itu, gejolak dalam tubuhnya semakin membara, terbakar sulutan api yang Kaisar percikan.
"Lepaskan, Sweetie. Aku ingin mendengarnya." Ucap Kaisar membelai pipi Airish yang memerah.
Begitu patuh, Airish langsung mendesaah hebat saat Kaisar lagi-lagi mengikatnya pada tiang kenikmatan yang membuncang, meluluhkan kesadarannya.
Vampir satu ini memang benar-benar berbeda, tahu saja apa yang bisa membuatnya terlena.
"Sayang." Rintih Airish, dia tak bisa lagi untuk bertahan, denyutan itu semakin terasa, dan dia tak mau menunggunya lebih lama lagi.
"Kau terlihat tidak sabaran, Sweetie." Goda Kaisar, seraya mendorong tubuhnya. Memberikan apa yang Airish inginkan.
Airish memekik, lalu perlahan dia membuka matanya, dia langsung disuguhi wajah tampan Kaisar yang menatapnya penuh damba. Gadis itu berdecak, dan sedikit memukul dada Kaisar.
"Ck, dasar vampir mesum." Cibir Airish membuat Kaisar terkekeh gemas.
"Dan kau adalah penikmat kemesumanku." Kaisar merampas bibir Airish begitu saja, sebelum gadis itu kembali bicara.
Setelah bertempur dengan para musuh, ternyata mereka pun harus kembali bertempur di kamar mandi, pertempuran nikmat yang didominasi oleh Kaisar.
"Sweetie, kalahkan aku. Please!" Erang Kaisar.
Nafas keduanya memburu, kini Airish berganti mendudukan Kaisar di atas closet duduk, sedangkan dirinya naik ke atas pangkuan Kaisar.
"Come on, Mr. Hadev. Aku akan mengalahkanmu!"