My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Terlalu aneh



Kaisar kembali terjaga, dia duduk bersandar di kepala ranjang, memperhatikan wanitanya. Luka lebam itu semakin banyak, dan itu semua hasil dari perlakuannya pada Airish.


Dia tidak bisa mengontrol diri, hingga keganasan itu dia tunjukkan di depan gadis itu. Cecapan kasar, nyaris tanpa kelembutan sedikitpun.


Sial! Apa yang aku lakukan, hampir saja aku membunuhnya.


Frustasi sendiri, apalagi melihat setitik air yang menggenang di pelupuk mata Airish. Tidak pernah sekalipun dia bersikap seperti ini, namun ada sesuatu lain, ya Airish memiliki sesuatu yang lain selain darah suci.


Kaisar menghembuskan nafasnya secara perlahan. Lalu kembali membaringkan tubuhnya, menarik tubuh ramping itu masuk ke dalam dekapannya, dan memberikan sentuhan lembut di pucuk kepala gadis itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi harinya.


Airish dan Kaisar masih sama-sama saling bungkam. Tetapi lelaki itu tidak lupa, memberikan salep pereda nyeri pada tubuh Airish.


Setelahnya mereka berkumpul di meja makan. Di sana, Denis bahkan sudah duduk manis. Menunggu Kakak kesayangannya, dan Airish.


Entahlah, dia tak ingin banyak bertanya tentang mereka. Setelah melihat semua perlakuan Kaisar pada gadis itu, apalagi sampai tinggal bersama. Denis yakin ada sesuatu, suatu hubungan lebih dari sekedar bawahan dan atasan.


Akan dia pastikan sekali lagi, jika memang benar, maka dia harus memiliki dua pilihan, bersaing dengan kakaknya, atau mundur pelan-pelan.


Kaisar duduk di tempat biasa. Sedangkan tempat duduk Airish ditempati oleh Denis.


Airish berjalan memutar, ingin duduk di sebelah kiri lelaki itu, berhadapan dengan Denis.


Namun, langkahnya terhenti, begitu tangan besar Kaisar berhasil mencekalnya. Sorot mata itu masih belum melunak dari semalam, entah sebab apa Airish pun tidak tahu.


Letak kesalahannya dimana? Pertanyaan itu selalu muncul. Bahkan saat Kaisar memperlakukannya dengan kasar, dia tidak bisa untuk menangis di depan lelaki itu.


Dia takut, takut Kaisar melakukannya lebih dari itu.


"Berdiri!" Ucap Kaisar dingin.


Tak bisa membantah, Airish berdiri sama seperti Joni yang ada di ujung sana. Dia sama sekali tidak melirik Denis yang terus memperhatikan interaksi antara dirinya dan Kaisar.


Tahu apa yang menjadi tugasnya, Airish mengambilkan beberapa makanan yang terhidang untuk Kaisar. Dia menyuapi lelaki itu seperti biasa, dan lelaki itu sama sekali tidak protes.


Hingga sarapan pagi selesai, Denis pamit sekaligus izin pada Kaisar, untuk mengajak Airish berangkat ke kampus bersama.


Mobil yang dikendarai Denis sudah melandas ke jalan raya. Sementara Kaisar masih tertinggal di rumah.


"Kak Airish." Panggil Denis lembut, melihat perubahan dalam diri Airish ia yakin ada sesuatu yang terjadi.


Kakak lelakinya itu tidak pernah seperti ini. Seumur hidup, selama 19 tahun, Denis tidak pernah melihat Kaisar menyukai, atau bahkan membawa seorang wanita ke rumah utama.


Yang dipanggil masih bergeming, berkecamuk dengan pikirannya.


"Kak, apa ada masalah?" Tanya Denis sekali lagi seraya menyentuh pundak itu.


Airish meringis, ada luka disana. Dan luka itu ia dapat dari suaminya. Tidak, dia tidak dipukuli, tapi entah kenapa cumbuan lelaki itu menghasilkan kulit lebam yang membiru.


"Aku tidak apa-apa, Denis. Aku hanya kurang enak badan." Balas Airish menunduk, menilin-nilin jarinya.


"Kalau begitu, kita ke rumah sakit saja yah." Tawar Denis, melihat wajah Airish yang lemah, membuatnya tak tega.


Dan, bludak!!!


Tiba-tiba suara ban mobil pecah terdengar nyaring, saat Denis melewati jalanan yang cukup sepi dari lalu-lalang kendaraan.


Diujung sana, seseorang menurunkan senjatanya.


Mobil itu mengosek di jalanan hingga menabrak trotoar. Untung saja, mereka memakai sabuk pengaman, hingga tidak terjadi apapun pada keduanya.


"Ada apa ini Denis?" Tanya Airish cemas, seraya melihat sekeliling, sunyi tidak ada siapapun selain mereka.


"Sepertinya ban mobil ku meledak, Kak. Lebih baik, Kakak naik taksi saja, biar mobil ini aku yang urus."


Airish menggeleng cepat, ia tidak mungkin meninggalkan Denis sendiri. Apalagi di tempat sepi seperti ini. Dia tidak setega itu.


"Kalau Kakak menungguku, Kakak akan terlambat ke kampus." Denis kembali meyakinkan, bahwa dia akan baik-baik saja meski tanpa Airish.


Airish memegangi tas selempangnya, masih setia di tempat itu, tidak mau meninggalkan Denis.


Denis menghembuskan nafas pelan, lalu mendorong pelan Airish untuk menjauh mencari taksi, sedangkan dia ingin menghubungi seseorang untuk membantunya.


Namun, siapa sangka, dari arah yang berlawanan sebuah mobil melandas dengan kecepatan tinggi, siap menerjang tubuh Airish.


Orang yang ada di balik kemudi menyeringai, melihat mangsanya sudah ada di depan mata.


Gadis itu menoleh, dia membelalakkan mata begitu mobil itu sudah dekat dari tempatnya berdiri. Airish menjerit.


"Arrghhhhhhh."


Brak!


Nafas Airish terengah-engah, matanya terpejam kuat, dengan tubuh yang lemas seolah tak bertenaga.


Namun, dia tidak merasakan apa-apa. Karena kini, tubuhnya sudah ada dalam rengkuhan suaminya. Pelan, Airish membuka mata.


Satu tangan itu memegangi tubuh Airish yang hampir limbung, satunya lagi menahan mobil yang hampir saja menabrak istrinya itu.


Mobil bagian depan itu penyok, membentuk telapak tangan Kaisar.


Kaisar menatap tajam orang yang ada dibalik kemudi. Dengan kemarahan yang memuncak, dia melepaskan Airish dan berjalan cepat. Menggebrak pintu kaca mobil tersebut. Meminta lelaki itu keluar dengan tidak sabaran.


"Keluar kalian badjingan!!!" Sentak Kaisar.


Namun, bukannya keluar, dua lelaki yang ada didalam sana malah mencoba untuk kabur. Dan Kaisar tidak membiarkan itu.


Amarah masih menguasainya, dari semalam entah sebab apa, kekesalan itu tak kunjung mereda.


Selagi lelaki itu mencoba menyalakan mesin, Kaisar membuka paksa pintu mobil itu dengan sekuat tenaga, hingga dalam satu kali tarikan, pintu mobil itu terlepas dari badannya.


Brak!


Airish dan Denis sama-sama membelalakkan mata.


Kaisar menarik kerah baju lelaki itu, menyeretnya dengan dengan paksa, lalu mendorongnya hingga menabrak pepohonan besar.


"Jangan harap aku akan mengampunimu!"


Sedangkan lelaki satunya lagi mulai menyerang, dengan sigap Kaisar memberikan tendangan memutar ke belakang.


Yang satu mencoba bangkit, lalu kembali melawan Kaisar. Menangkap tubuh tegap itu dari belakang. Kaisar menerima itu dengan senang hati, membawa tubuh itu berputar-putar, semakin kencang dan semakin kencang Dan 'brak'


Tubuh itu terpental ke arah mobil, perkelahian terus di mulai, menyerang satu sama lain, tetapi tak membuat Kaisar tumbang sedikitpun.


Justru kedua lelaki itu yang terlihat babak belur, dengan darah mengucur sana-sini, dan Kaisar masih belum puas melihat itu.


Sasaran empuk untuk segala kekesalan yang telah mencapai puncak ubun-ubun, adalah menghabisi mereka.


Hingga pukulan terakhir, Kaisar berikan di kedua dada lelaki itu. "Argggghhhhh." Keduanya menjerit bersamaan.


Jantung mereka seperti ditarik lalu dilepaskan. Hingga akhirnya, kedua lelaki jatuh ke atas tanah, tubuh mereka kejang-kejang, dan perlahan hilang kesadaran.


Perkelahian telah usai.


Dengan nafas memburu, Kaisar melirik Airish dan Denis yang bergeming di tempat mereka. Keduanya sama-sama menatap tidak percaya, apa yang baru saja terjadi.


Kaisar berjalan mendekat ke arah Airish, tubuh gadis itu limbung, lantas dengan sigap ditangkap oleh Kaisar.


"Sweetie, kau tidak apa-apa?" Tanya Kaisar cemas.


Sontak Denis menoleh, mendengar panggilan manis yang Kaisar berikan.


Sebenarnya kekuatan apa yang dia miliki? Kenapa dia bisa tiba-tiba datang? Kenapa mobil itu bisa sampai rusak hanya dengan satu tangannya? Tangan yang biasa membelaiku?


Airish bergeming, ia meneguk ludahnya berkali-kali. Menatap Kaisar penuh selidik.


Bukankah ini terlalu aneh? Apa ada sesuatu yang dia sembunyikan?