
Hari itu, Dewa sampai di rumah ayahnya. Di kediaman Loco, Dewa dan Jane disambut begitu hormat. Dan mereka langsung menghadap lelaki tua yang memiliki tatapan tajam itu.
Loco membiarkan putra sulungnya itu masuk ke dalam ruangan pribadinya, kini mereka duduk berhadapan, Dewa tidak bisa menundanya lagi, dia harus mendapatkan Airish secepatnya, sebelum Kaisar lebih dulu mengambil keabadian yang mereka perebutkan itu.
Dan dia akan meminta Loco untuk menyusun rencana, untuk merebut Airish dari tangan Kaisar, sekaligus menceritakan sesuatu yang terjadi pada gadis pemilik darah suci itu.
Loco memandang lekat ke arah Dewa dan Jane. Dia yakin ada sesuatu yang ingin disampaikan lelaki muda itu kepadanya, apalagi Dewa sampai membawa seorang manusia.
"Ada apa?" tanya Loco pada sang anak. Lelaki itu terkesan begitu dingin terhadap siapapun.
Perlahan Dewa membalas tatapan Loco, dia berpikir sejenak untuk memulai cerita. "Ada sesuatu yang ingin Dewa tanyakan pada Ayah."
"Bicaralah!"
Dewa mulai menjelaskan semuanya secara rinci, persis seperti kejadian yang diceritakan oleh pengawalnya. Tentang Airish yang tiba-tiba berubah menjadi mahkluk mengerikan, dan memiliki kekuatan luar biasa.
Dewa mengira, bahwa Kaisar telah memberikan sesuatu pada Airish.
Mendengar itu, Loco segera bangkit dari kursinya, dia melangkah ke arah jendela, dan tatapannya menerawang jauh ke depan sana.
Sejenak, lelaki tua itu bergeming, hingga akhirnya dia kembali buka suara.
"Nyawamu sedang diincar dewa kematian, Aaron!" Ucap Loco tiba-tiba, dia memang kerap memanggil Dewa dengan sebutan Aaron.
Sama seperti Kibrit dan Elena, manusia serigala itu pun tahu tentang ramalan di masa lalu itu. Tentang pemilik keabadian yang sesungguhnya. Meski entah ramalan itu benar atau tidaknya, yang jelas Dewa perlu waspada.
Dewa dan Jane langsung saling melempar pandangan, lelaki itu mendengus dengan tatapan terperangah, tak percaya. "Apa maksud, Ayah?"
Loco berbalik, dia menatap tajam ke arah Dewa. "Gadis pemilik darah suci itu hamil anak Kaisar, jika sampai anak itu dilahirkan, maka nyawamu benar-benar terancam. Dia adalah keabadian yang sesungguhnya! Karena darah suci itu sudah mengalir dalam tubuhnya." Jelas Loco.
Dewa semakin terperanjat kaget, dia tidak menyangka akan seperti ini jalan ceritanya. Ternyata Kaisar mampu membuat gadis itu hamil. Apa Kaisar benar-benar mencintai Airish?
Sementara Jane terlihat pias, bagaimana nasibnya jika Dewa tiada nanti, dia pasti akan menjadi bulan-bulanan Airish dan vampir kejam itu. Tidak! Itu tidak boleh terjadi.
"Tuan, bagaimana ini?" tanya Jane begitu cemas.
Dewa tak menanggapi pertanyaan gadis itu, dia kembali menatap ayahnya. Dia tidak boleh menyerah begitu saja.
"Ayah, apa aku masih memiliki kesempatan untuk menang? Setidaknya agar aku bisa tetap hidup," tanya Dewa.
"Tentu saja, sesuai ramalan itu. Saat bayi vampir itu dilahirkan, seluruh dunia akan gelap gulita, mereka akan menyambut sang penguasa keabadian. Dan saat tubuh bayi vampir itu tumbuh, kau harus mempersiapkan diri, untuk membunuhnya sebelum bulan purnama ke tujuh..."
Cerita yang turun temurun dari para leluhur.
Dewa menarik sudut bibirnya ke atas, dan mulai menyeringai. Akan dia pastikan, anak vampir itu mati di tangannya, bagaimana pun caranya, dia harus memancing anak itu agar keluar dari perbatasan wilayah.
"Kalau begitu, kita harus menyusun rencana."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara di rumah Kibrit. Airish masih belum sadarkan diri, setelah Kaisar menggigit lehernya, bertujuan mengubah gadis itu menjadi seorang vampir.
Semua itu dilakukan semata-mata karena janin yang dikandung Airish butuh asupan, jika Airish mengandung bayi vampir itu dalam kondisinya yang terbilang hanya manusia biasa. Maka sudah dipastikan, Airish akan mati, karena sari pati dalam tubuhnya terus dihisap oleh janin tersebut.
Melihat Airish yang tak kunjung sadar, Kaisar meninju udara di sekitarnya. Dia begitu kalut dan takut, kalau sampai Airish tidak bisa lagi membuka matanya.
"Oh My, Dad bagaimana ini? Kenapa Airish tidak bangun juga?" tanya Kaisar gusar, dia terus bolak-balik mengecek Airish, tetapi gadis itu setia bergeming, masih tetap pada posisinya.
"Sabar, Kai. Semuanya butuh proses. Apalagi ada anakmu dalam rahim Airish, dia pasti bangun," Elena mengusap-usap untuk menenangkan Kaisar yang sedari tadi tak mampu untuk bersikap tenang.
Lelaki itu benar-benar gamang. Pikirannya tak bisa lagi untuk diajak waras. Dia selalu memikirkan hal-hal gila jika nanti Airish tak mampu lagi untuk hidup bersamanya.
Kaisar mengeratkan gigi depannya. "Sampai kapan, Mom? Bagaimana jika Airish tidak bangun lagi, dan semua ramalan itu bohong? Aku rasa, aku tidak akan sanggup untuk hidup lagi di dunia ini, aku akan menyusulnya."
"Hei, apa yang kau bicarakan? Bersabarlah!" pekik Kibrit.
Crank!!!
Hingga tiba-tiba sebuah suara jendela kaca yang pecah mengagetkan semuanya. Mereka kompak melayangkan pandangan mata mereka ke arah sana, dan berganti pada Airish yang tiba-tiba sudah terduduk di atas pembaringannya.
Ternyata sorot mata Airish lah yang menghancurkan jendela kaca tersebut.
Kaisar terperangah, dia menatap Airish, wajah itu terlihat pucat, sama seperti dirinya. Seketika pandangan mereka bertemu, perlahan lelaki itu mengukir senyum.
Kecemasannya menguap begitu saja, saat melihat netra itu kembali terbuka.
"Sweetie," panggil Kaisar lirih seraya melangkah mendekat ke arah pembaringan Airish.
Pelan, Airish mengangguk. "I'm your Sweetie."