
"Kenapa baju ini ada dimana-mana sih?" Airish terus menggerutu di dalam kamar mandi. Mengangkat satu setel baju ganti yang ia ambil di lemari pakaian.
Baju kurang bahan.
Akhirnya mau tidak mau, dia pakai juga, karena tidak ada lagi pakaian wanita selain itu. Bajunya basah, bahkan hanyut karena Kaisar melemparnya begitu saja.
Hingga tak berapa lama kemudian, Airish keluar dengan rambutnya yang masih setengah basah. Ia biarkan surai hitam itu tergerai asal.
Melangkah, mendekat ke arah ranjang. Dimana tidak ada siapapun disana. Sepertinya Kaisar sedang keluar.
Klek!
Baru saja Arisih akan merebahkan diri. Orang yang tidak dia tunggu-tunggu malah datang. Sudah berpakaian rapih, menunjukkan kalau dia ingin pergi.
"Sweetie kau sudah selesai?" Tanyanya, duduk di samping tubuh Airish, lalu menciumi leher jenjang itu. Leher yang dipenuhi tanda merah yang sedikit membiru.
Ingin menghindar, tapi Airish sama sekali tidak memiliki keberanian. Bagaimana kalau nanti Kaisar marah, lalu ia di lempar ke kandang binatang buas yang ada disini?
Airish tersentak.
Hei, hentikan tanganmu, Tuan! Sialan, kenapa suka sekali menggerayangiku.
Setelah puas melakukan apa yang ia suka. Kaisar menatap Airish yang sedang berusaha untuk tersenyum, dengan pipi bersemu merah.
"Jangan pasang wajah seperti ini, Sweetie. Karena malam ini aku harus pergi." Di mata Kaisar, wajah Airish justru sangat menggemaskan. Membuatnya tak tahan, selalu ingin mencium bibir ranum itu.
Pergilah, pergi sana yang jauh!
"Apa Tuan akan pergi dalam waktu yang lama?" Tanya Airish, dan dia berharap Kaisar berkata ya. Bahkan besok baru bisa pulang.
"Mungkin iya. Tapi karena kau bertanya seperti itu, aku usahakan secepatnya, kau tidak bisa jauh dariku ya?" Meraih rambut Airish, lalu menikmati aromanya.
Apa! Siapa juga yang tidak bisa jauh darimu. Cih, percaya diri sekali.
Kaisar mengulum senyum lalu kembali memberi kecupan di seluruh wajah Airish. "Aku pergi dulu, Sweetie. Jangan keluar saat kau menggunakan baju seperti ini. Hanya mataku yang boleh melihatnya. Kalau kau butuh sesuatu pakai telepon di ujung sana."
Airish hanya bisa mengangguk pasrah. Lantas dengan gerakan cepat, Kaisar menyentuh mainannya. "Milikmu besar dan menggemaskan, Sweetie." Ucapnya terkekeh, seiring kaki jenjang itu melangkah.
Bedebah!
*******
Disana, Kedatangan Kaisar sudah ditunggu. Kapten komando mengisyaratkan bahwa sang Tuan akan datang malam ini.
Karena lelaki itu ingin menjenguk tawanan yang sudah ia sekap beberapa hari yang lalu. Roger, ya Kaisar ingin bermain-main dengan lelaki itu malam ini.
"Lepaskan aku badjingan!!!" Teriak Roger di ruangan sunyi itu, saat ia melihat Kaisar datang lengkap dengan seringai mengejek.
Tubuhnya mulai melemas, karena sama sekali tidak diberi makan dan minum. Sedangkan ia selalu mendapat siksaan berhari-hari.
Namun, siksaan itu tak sampai membuatnya mati. Dan itulah tujuan Kaisar.
"Helo brother, kita bertemu lagi." Sapa Kaisar berjongkok di depan Roger. Lelaki itu justru melengos, muak melihat wajah sombong Kaisar.
Lalu tanpa diduga. Seolah mendapat keberanian lebih, ia meludah, tepat mengenai pipi Kaisar. Roger tersenyum senang, setidaknya ia bisa menginjak harga diri lelaki itu.
"Orang brengsekk sepertimu, pantas mendapatkan itu." Ucap Roger tanpa kenal rasa takut.
Tak marah, Kaisar justru tertawa. Menertawakan kekonyolan Roger, yang tidak pernah peka dengan situasi yang sedang ia hadapi.
Kaisar mengelap cairan itu dari pipinya, lalu mengusapkan tangannya di bahu Roger.
"Aku ini orang baik, Roger. Aku bahkan menjadi penyandang dana terbesar, di kampusmu? Kau sama sekali tidak tahu aku?"
"Itu hanya topengmu, Iblisss!!! Sebenarnya kau hanyalah seorang penjahat yang tidak berperasaan." Cetus Roger, urat di wajahnya sangat kentara, tanda ia begitu kesal, dan benci orang yang ada dihadapannya.
"Hahaha, apa aku harus punya perasaan dulu baru bisa berlaku jahat padamu? Lagi pula, aku seperti ini, hanya pada orang-orang tertentu. Orang yang tidak berguna untuk hidup, dan kau termasuk." Menuding Roger, lalu lelaki itu berdiri, menyangga satu kakinya di atas kursi, dengan kepulan asap rokok yang baru saja ia nyalakan.
"Menarik. Kedengarannya permainan ini akan seru. Aku terima tantanganmu, karena aku juga sudah lama tidak menggerakan tanganku untuk mencekik leher seseorang."
Tidak menanggapi ucapan omong kosong Kaisar. Roger justru menyeringai penuh, ia yakin bisa mengalahkan brengsekk itu.
Akhirnya Kaisar meminta pengawal membuka rantai yang mengikat Roger selama ini. Dengan buncahan rasa kesal, Roger sudah tidak sabar untuk menghabisi Kaisar.
Prak!
Kaisar melemparkan pecut ke arah kaki Roger. Pecut yang ujungnya memiliki paku-paku kecil, yang bisa merobek tubuh seseorang.
Bisa dibayangkan, apa rasanya saat pecut itu melandas ke tubuh kalian? Bukankah tubuh itu akan langsung tercabik-cabik? Seperti terkena terkaman macan?
Dengan senang hati Roger mengambil pecut itu. Dia tidak berpikir sampai jauh, apa akibat yang akan ia terima.
"Kau bisa menggunakannya untuk melawanku. Dan aku akan memberikan penawaran, kalau kau menang, kau bisa pergi dari sini. Tapi jika kau kalah..." Kaisar lengkap dengan seringai. "Pecut itu akan menyapa tubuhmu. Bagaimana, kau setuju?"
Tanpa pikir panjang, Roger mengangguk mantap. "Aku setuju, aku pasti akan menang."
Dan Kaisar hanya memberikan kedipan nakal sebagai jawaban.
Di dalam ruangan itu, duel satu lawan satu di mulai, Roger dengan pecutnya yang mematikan, sedangkan Kaisar hanya menggunakan sabuk pinggang.
Crashhh...
Pecut itu terdengar memekik di lantai. Roger berjalan angkuh mendekati Kaisar. Lantas, tanpa pikir panjang ia melayangkan pecut pertamanya untuk menyerang lelaki itu.
Kaisar berusaha menghindar, ia biarkan Roger sesuka hati menghantam tubuhnya. Lelaki itu belum mau membalas.
Suara-suara mengerikan itu memenuhi gendang telinga.
Nafas Roger terdengar memburu. Namun, serangannya sama sekali belum mengenai sasaran.
Kaisar mengelilingi tubuh tegap itu, dan mata Roger dengan jeli menatap pergerakan Kaisar, lalu crashhh...
Tepat, pecut itu mengenai tubuh Kaisar. Jas yang lelaki itu kenakan robek. Roger menyeringai penuh, dengan emosi yang memuncak ia mulai membabi buta.
Ia layangkan pecut itu, dan mengeluarkan seluruh tenaganya. Tetapi aneh, sampai sekarang Kaisar belum mau membalasnya.
Hingga saat ia kelelahan, dan lengah. Crashhh...
Pucuk sabuk pinggang itu berkali-kali mengenai punggungnya. "Arghh..." Roger memekik, dan kini berganti, Kaisar yang mulai menyerang lelaki itu.
Ia membuang sabuk itu dan menarik tubuh Roger, lalu 'brak' tubuh itu mengenai tembok, dan terpental jatuh ke atas lantai.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Kaisar berlari, dan langsung mencengkram kuat baju Roger. Mengangkat tubuh itu, hingga mengudara.
Dan 'brak'
Dijatuhkannya lagi dengan cukup keras ke atas lantai. Roger dengan sisa tenaganya mencoba bangkit. Dengan gontai ia berlari ke arah Kaisar.
Mendorong kuat tubuh itu. Tetapi nihil, Kaisar sama sekali tak bergerak dari tempatnya, bagai batu yang menancap di atas lantai, Roger sama sekali tak bisa menggerakkan tubuh tegap itu.
Hingga tak berapa lama kemudian 'bugh' bogem mentah Roger terima, hingga tubuhnya terpental jauh ke belakang.
Lelaki itu mendesis kesakitan. Sedangkan seluruh tubuhnya sudah tidak mampu untuk digerakkan. Dan akhirnya, Roger pingsan.
Kaisar hanya tersenyum miring melihat itu. Permainan malam ini telah berakhir. Dengan langkah tegap, lelaki berjalan keluar.
Dan sebelum benar-benar pergi, Kaisar memberi perintah. "Pecut tubuhnya, tapi jangan sampai kalian membuat dia mati. Kalau sampai itu terjadi, kalian yang akan menggantikan posisinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari Senin, ada voteeee? yuk di bagi ke sini🌹🌹🌹🌹