My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Aku tidak akan diam



Pagi harinya.


Seperti biasa, Kaisar dan Airish duduk di meja makan yang sama. Seolah baru saja merasakan jatuh cinta, wajah keduanya sama-sama terlihat sangat sumringah.


Padahal tidak ada ungkapan apapun diantara mereka, kata-kata cinta? Tidak ada. Hanya lewat bahasa tubuh mereka, sudah mampu membuktikan semuanya.


Harith yang baru pernah melihat pemandangan seperti ini, melirik ke arah sang adik, meminta jawaban pada Leela yang duduk di sampingnya.


Namun, gadis itu hanya mengangkat bahu, seolah tak tahu. Padahal ia yakin, Airish pasti sudah melakukan sesuatu.


Tuan pasti senang karena Nona Airish memanggilnya dengan sebutan sayang. Gumam-gumam dalam hati Leela, sambil mengulum senyum.


Hingga sarapan berakhir, Airish dan Kaisar masih memasang wajah yang sama. Dengan tersenyum, gadis itu mengelap sisa-sisa makanan yang ada di mulut suaminya.


"Jon, sampai di dermaga kota siapkan supir untuk istriku. Karena dia akan pergi ke rumah ayah mertua." Ucap Kaisar memberi perintah kepada sang asisten, yang berdiri di belakangnya.


"Sayang tidak usah, aku bisa naik taksi." Cegah Airish dengan cepat. Walaupun dia tidak bisa bohong, dia sedikit terkejut Kaisar memanggil ayahnya dengan sebutan seperti itu.


Dan semua orang yang mendengar itu tercengang. Ada apa dengan Airish dan Kaisar? Kenapa mereka menggunakan sebutan-sebutan yang terlihat sangat intim? Ayah mertua? Sayang?


Mata Harith bahkan langsung membola, sekali lagi, dia melirik ke arah Leela. Dan adiknya itu hanya tersenyum kecil, ikut bahagia melihat keharmonisan Sang Nona dan Tuannya.


"Baiklah, Jon carikan taksi saja." Ralat Kaisar, sedangkan tangannya berada di puncak kepala Airish.


Mengusap-ngusap dengan gemas, dan saling melempar senyum.


Setelah waktu sarapan berakhir, Kaisar, Airish dan Joni pergi ke dermaga, diantar oleh Harith dan Leela. Hari ini mereka akan keluar dari pulau, menuju dermaga yang ada di kota.


Airish dan Kaisar sudah sepakat untuk berpisah di sana. Di dalam yacht, Kaisar memangku tubuh Airish, gadis itu sama sekali tidak diizinkan untuk turun dari atas paha Kaisar.


Lelaki itu justru memeluk erat istrinya sepanjang perjalanan. Dan menyandarkan kepala di punggung gadis cantik itu.


Joni melihat semuanya. Semua perubahan sikap Kaisar setelah lelaki itu mengungkapkan perasaannya, dia akui Kaisar benar-benar berbeda.


Seratus delapan puluh derajat, berbanding terbalik dengan sikapnya yang dulu, dingin dan tak tersentuh.


"Berhenti bergerak Sayang. Aku geli." Ucap Airish fasih, saat Kaisar sengaja mengusak-ngusak wajah ke punggungnya.


Kaisar melongok dari samping, dengan wajahnya yang terlihat lucu. "Benarkah?"


Dengan cepat Airish mengangguk, dan Kaisar malah semakin semangat menggoda istrinya. Kaisar mengusak wajahnya gemas, hingga gadis itu menggeliat sambil tergelak kencang.


"Sayang, sudah." Pinta Airish memohon, dengan sisa gelak tawanya.


Dan Kaisar menghentikan semuanya, dia kembali ke posisi semula. Bibirnya melengkung, sedangkan wajahnya terlihat semakin sumringah.


Ah, ternyata senikmat ini rasanya jatuh cinta?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di dermaga, Kaisar dan Airish berpisah. Lelaki itu pergi ke gedung The King Group. Sedangkan Airish ke rumah ayahnya.


Dengan menggunakan taksi yang dipesan oleh Joni. Airish membelah jalan raya.


Hingga tak berapa lama kemudian, gadis itu sudah sampai di rumah yang tak pernah senang dengan kehadirannya.


Hanya karena ada ayahnya, Airish masih berani datang kemari, kalau saja sang ayah sudah tiada. Entahlah, rasa-rasanya ia sangat enggan, mengingat sikap Jane dan Fenita yang tidak pernah baik padanya.


Airish mengetuk pintu. Cukup dalam dua ketukan, pintu sudah terbuka. Dan menampilkan Jane yang kebetulan sedang ada di rumah.


Melihat Airish pulang, senyum Jane langsung menyurut, berganti dengan dengusan kesal.


Dia menarik lengan adik tirinya itu masuk ke dalam rumah. Dari kemarin, dia belum memiliki kesempatan untuk berbicara dengan Airish.


Jane tak menjawab, dia hanya terus melangkah dan menyeret Airish, hanya ada dia di rumah ini, karena ayah dan ibunya tengah pergi berbelanja.


Jane menyentak tangan Airish dengan kasar. Di dapur, gadis itu menatap tajam adiknya. Tatapan penuh kebencian dan kemarahan.


"Lo kemanain Roger, hah?" Tanya Jane dengan tangan yang berlipat di dada. Suaranya sama sekali tidak ramah, dan terkesan membentak.


Airish mengusap-usap pergelangan tangannya. Lalu membalas tatapan mata Jane dengan tatapan remeh. "Untuk apa Kakak tanya sama aku? Bukankah dia pacar Kakak?"


"Nggak usah banyak basa-basi deh, gue tahu orang yang udah beli lo itu yang nyembunyiin Roger. Sekarang jawab, dimana dia? Lo pasti tahukan?" Suara Jane semakin menekan geram. Jari telunjuknya menuding, ingin menakut-nakuti Airish seperti biasa.


Airish lebih dulu menghela nafas panjang. "Aku tidak tahu." Balasnya apa adanya.


Setelah mengatakan itu, gadis itu berbalik hendak pergi mencari ayahnya, tetapi secepat kilat Jane menahannya. Dia mencekal pergelangan tangan Airish, dan dengan cepat pula ditepis oleh gadis itu.


Tak menyerah, dengan kuat Jane mencengkram bahu Airish. Dan lagi-lagi gadis itu melawan Jane, dengan kekuatan beladirinya.


Mata Jane melebar, berani-beraninya Airish bersikap seperti ini padanya. "Udah berani lo ya sama gue, kenapa? Udah merasa ada yang jaga? Cih, dasar murahan!" Cibir Jane, sengaja agar emosi Airish terpancing.


Di tempatnya Airish mengepalkan tangannya kuat, sebisa mungkin dia ingin menahan emosinya agar tidak meluap, dan memberikan Jane peluang untuk menginjak-injak harga dirinya lagi.


Gadis itu berbalik, dan menatap Jane, gadis angkuh, yang orang-orang sebut sebagai kakaknya. Namun, sesungguhnya Jane seperti musuh baginya.


"Orang yang berselingkuh dengan pacarku, menjadi orang ketiga diantara kami, bahkan dengan tega menjual adiknya sendiri, apakah pantas bicara seperti itu? Coba pikir, pikir dengan akal sehat Kakak, siapa yang paling murahan diantara kita?" Ujar Airish dengan tenang.


Dia sedikit menyunggingkan senyum sinis, apalagi melihat rahang Jane mulai mengeras, sepertinya gadis itu sangat kesal dengan ucapan Airish.


"Kurang ajar! Berani lo ngomong kaya gitu, b@ngsat!" Tangan Jane melayang hendak menampar pipi mulus Airish.


Namun sayang, tangan lentik itu justru berhenti di udara, karena Airish menahannya. Dia menatap Jane tajam, tidak ada lagi ketakutan di sana, dia sudah terlalu lama mengalah.


Dan kali ini, dia tidak akan bodoh lagi, sudah cukup Jane membuat batinnya selalu tersiksa dengan dosa kedua orang tuanya.


Jane menarik kembali tangannya dengan keras, hingga sukses terlepas. Nafasnya memburu, emosinya sudah di puncak ubun-ubun mendapati Airish benar-benar tidak takut lagi padanya.


"Kenapa? Kamu ingin marah Kak?" Cibir Airish.


Jane mendengus. "Heuh, lo udah ngerasa hebat? Mau lo berubah kaya apapun, gue nggak akan takut, dan mau siapapun yang ada di belakang lo, bakal gue lawan. Inget, lo cuma anak haram. Selamanya, predikat lo nggak bakal berubah, lo itu aib keluarga." Cercanya.


Airish tersenyum, meremehkan semua perkataan Jane. Dia sudah terlalu kebal dengan kalimat-kalimat itu, sekarang dia tidak ingin menangisi takdirnya lagi, karena semua itu tidak akan mengubah apapun.


Sakit? Jangan ditanya. Tetapi sebisa mungkin Airish tidak akan menunjukkan itu semua di depan Jane.


"Aku memang aib keluarga, aku memang anak haram yang tidak diinginkan kehadirannya. Tapi apa semua itu mauku? Jawabannya tidak, Kak. Semua penyebabnya adalah ayah dan ibuku, bahkan mungkin ada campur tangan ibumu juga. Aku sudah muak, selama ini aku diam karena aku masih menghargaimu, orang yang terlahir sebagai Kakakku, tapi sepertinya kamu tidak begitu padaku. Jadi, terserah saja, kalau kamu memaki ataupun mencoba melukaiku, tapi ingat, aku tidak akan lagi diam, aku akan membalasnya." Jelas Airish dengan lantang.


Dia terus memandang Jane yang terpaku di tempatnya, wajah gadis itu semakin terlihat memerah menahan marah.


Tapi Airish tidak peduli. Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, dia melanjutkan kembali langkahnya, untuk mencari keberadaan sang ayah.


Meninggalkan sang Kakak dengan segala pemikiran piciknya.


Ah, sialan!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mana? Aku mau hadiah🤧🤧🤧


Sambil nunggu Dede gemes ini up, yuk baca karya Kakakku😍


Salam anu👑