My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Diganggu (2)



Di kampus.


Waktu istirahat telah tiba, Zoya menarik lengan Airish untuk pergi ke kantin, berencana mengisi perut mereka yang kelaparan.


"Zoy, aku ke toilet dulu sebentar." Pamit Airish pada Zoya, saat mereka berada di pertengahan jalan.


Tiba-tiba gadis itu merasa ingin buang air kecil, Zoya mengangguk. "Jangan lama-lama." Ucapnya lalu kembali berjalan ke tempat tujuannya.


Airish berjalan sedikit tergesa, karena rasa tak nyaman itu semakin terasa. Dan beruntungnya, toilet terlihat sepi, hingga dia bisa masuk ke pintu mana saja.


Airish menghela nafas, merasakan kelegaan. Ia membuka pintu, lalu beralih ke arah wastafel untuk mencuci tangan.


Namun, saat dia tak sengaja melirik kaca.


Deg!


Jantung gadis itu sontak berdegup dengan kencang. Ia menunduk menatap sepasang sepatunya, merasakan hawa dingin yang tiba-tiba saja menyeruak. Berhembus, menembus pori-porinya.


Sedikit demi sedikit, Airish memberanikan diri, menatap kembali pantulan cermin di depannya.


Tidak ada!


Makhluk hitam itu tidak ada disana. Airish meneguk ludahnya kasar, meremat buku-buku jarinya, lalu berusaha untuk keluar.


Deg!


Tubuhnya seolah membeku, ia merasakan kakinya seperti dipegang dengan kuat, tetapi saat dia melihat kebawah, tidak ada siapapun selain dirinya.


Slap! Slap! Slap!


Bayangan hitam memutari tubuh Airish, nafas gadis itu memburu, tubuhnya tak berhenti gemetaran, ia menggerakkan kepalanya kesana-kemari, mengikuti gerakan makhluk tersebut.


Airish ingin meminta tolong, tetapi lidahnya seolah kelu, mulutnya benar-benar tidak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Sedangkan matanya masih setia menelisik setiap sudut arah.


Slap! Slap!


Semakin cepat, dan Airish semakin dibuat frustasi sendiri, sebenarnya makhluk apa yang sedang mengganggunya, akhirnya sedikit demi sedikit kaki itu dapat bergerak.


Tetapi seperti sudah diberi arahan, kaki Airish hanya bisa berputar-putar.


Dan grep!


"Aaargggggghhhhh!!!" Airish menjerit kencang, seraya memegangi kepalanya. Tubuhnya mandek, dengan nafas terengah-engah.


Airish membeku, selagi tangan itu memegangi pundaknya.


"Ai, lo nggak apa-apa?" Sebuah suara yang membuat Airish langsung terduduk lemas. Ia melirik ke arah belakang, ternyata teman sekelasnya ada disana.


Gadis itu mengangguk, meyakinkan diri bahwa dia baik-baik saja. Tapi tidak dengan raut wajahnya, Airish terlihat pucat pasi, dengan keringat dingin yang mengucur deras.


"Ai, muka lo pucet, lo sakit yah? Gue anterin ke ruang kesehatan yuk." Ajak gadis itu, merasa Airish terlihat kurang sehat. Apalagi saat teriakan tadi, ia yakin ada yang terjadi dengan temannya itu.


"Aku nggak apa-apa, mungkin karena kurang minum aja." Kilah Airish, padahal dia sedang ketakutan setengah mati.


Belum sempat bicara lagi, Zoya tiba-tiba datang dengan wajah cemasnya, karena untuk ukuran buang air kecil, Airish sudah terlalu banyak membuang waktu.


Mata gadis itu langsung membulat, melihat Airish yang terkulai lemas di atas lantai, dengan satu temannya lagi.


"Ai, lo kenapa? Lo jatoh di toilet? Atau lo ribut sama Jane?" Tanya Zoya beruntun, mengorek jawaban sahabatnya itu.


Dan Airish hanya menggeleng kecil. Ia mencoba bangkit, dengan dibantu kedua temannya.


"Airish kayanya sakit deh, Zoy. Mending lo ajak ke ruang kesehatan aja." Saran gadis itu pada Zoya, dan Zoya langsung mengangguk cepat.


Tanpa menunggu persetujuan Airish, dia langsung menuntun temannya itu untuk masuk ke ruang kesehatan.


Dari pagi, Zoya memang sudah menebak, ada yang terjadi dengan sahabatnya. Tetapi, entah kenapa Airish sama sekali tidak mau bercerita.


Zoya membaringkan Airish di atas brankar. Lalu mengambil tissue membantu Airish mengelap peluhnya.


"Zoy, udah nggak perlu nungguin aku, kamu pergi beli makan dulu aja sana, keburu jam istirahat abis." Titah Airish, melihat Zoya malah duduk di sampingnya, dia tahu, pasti Zoya akan menungguinya disini, dan dia tidak mau itu.


"Aku nggak apa-apa, aku udah gede, lagi pula aku tuh nggak sakit, aku cuma kecapean." Jelas Airish, membuat Zoya mau tidak mau akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin kembali.


"Nanti gue bawain makanan buat lo." Ucap Zoya, saat dia sudah sampai di ambang pintu.


Dengan senyum mengembang Airish mengangguk, menggerakan tangannya untuk mengusir Zoya agar cepat keluar.


Lagi, di ruangan ini Airish kebetulan hanya sendiri, ia membaringkan tubuhnya mencari posisi ternyaman. Menarik selimut sebatas perut.


Airish mencoba memejamkan mata sejenak, merilekskan tubuh dan pikirannya.


Namun, tiba-tiba dia merasa selimut yang dia pakai tertarik hingga ke bawah. Sontak Airish kembali membuka mata.


Ia menggigit kuat bibir bawahnya, hingga ia merasakan sebuah sentuhan di kakinya, kaki jenjang nan telanjang itu bersentuhan dengan sesuatu yang berbulu, tetapi sedikit kasar.


Bibir Airish bergetar, ia mencengkram kuat pakaiannya. Dan lagi-lagi, hawa dingin itu menyeruak. Sebuah gedoran dari arah jendela mengagetkannya.


"Aaargggggghhhhh!" Airish menjerit, dan langsung terduduk, saat matanya menangkap sesosok manusia berkepala serigala.


Ia beringsut mundur, sedangkan makhluk itu menyeringai, menunjukkan gigi-giginya. Sumpah demi apapun ia sangat takut.


Tangan Airish meraba-raba meja nakas yang berada di sampingnya, saat ia menggenggam sesuatu, ia langsung melemparkannya ke arah makhluk itu.


"Pergi kamu! Jangan ganggu aku!" Pekik Airish ketakutan.


Seolah menjadi ruangan kedap suara, teriakan Airish sama sekali tak terdengar sedikitpun keluar sana. Bahkan suasana terasa sunyi sepi, seperti hanya ada dirinya dan makhluk itu.


Manusia berkepala serigala itu menghindar dari benda-benda yang Airish layangkan, air mata gadis itu sudah meleleh, menderas hingga memenuhi dagu runcingnya.


"PERGI!!!"


Srettt!


Di sisi lain, Kaisar langsung berdiri dari kursinya, kini ia sedang memimpin rapat dengan para pemegang saham.


Namun, seperti memiliki firasat buruk, dia tidak peduli pada sekelilingnya, ia melirik kesana-kemari sedang berfokus dengan Airish.


Tiba-tiba, tanpa berpikir panjang Kaisar langsung melangkah keluar, membuat Joni berdecak, ia yakin pasti ini tentang gadis itu.


Akhirnya, Joni meminta sang sekertaris untuk melanjutkan rapat tersebut. Sedangkan dirinya langsung mengejar Kaisar yang saat itu, hampir saja berlari ke arah pintu.


"Tuan!" Panggil Joni, tetapi Kaisar tak menggubris, dia tetap dengan langkahnya yang tergesa-gesa.


Semua karyawannya bahkan menonton kejadian itu, aksi kejar-kejaran Joni dan sang Tuan, Kaisar.


Grep!


Mereka sudah berada di baseman perusahaan.


"Tuan anda tidak bisa seperti ini!" Joni langsung menyentak dengan kalimatnya, baginya Kaisar sudah terlalu jauh untuk ikut campur masalah Airish.


Kaisar menatap nyalang dengan nafasnya yang memburu. "Apa maksudmu?"


"Anda pasti mau pergi ke kampus gadis itukan? Apa anda tidak berpikir, bahwa anda sudah terlalu jauh masuk ke dalam kehidupannya." Jelas Joni, ia tidak mau sang Tuan lupa dengan tujuannya, itu saja.


Kaisar mendesah kecil. "Dia sedang diganggu oleh Dewa, Joni. Aku tidak mungkin diam saja." Cetusnya menggebu.


Joni menatap tak percaya, sang Tuan bisa bersikap seperti ini. "Tuan, apa anda tidak berpikir, kalau dia hanya ingin memancing anda untuk keluar? Bagaimana jika gadis itu semakin curiga? Ingat, Dewa Aaron tidak hanya ingin darah gadis itu, tetapi juga membalas dendam kepadamu."


"Ohhh shittt! Aku tidak peduli, Jon. Aku harus pergi." Kaisar melenggang ke arah mobilnya dengan langkah lebar.


Brak! Kaisar menutup pintu itu dengan kasar. Dan blash! Lelaki itu menghilang.


"Tuan, Tuan." Panggil Joni, dan dia benar-benar tidak bisa menahan lelaki itu lagi.


Sialan! Makinya dengan segala kekesalan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lempar yah votenya🤧