My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Lahirnya penguasa keabadian



Setelah Airish berhasil menjadi seorang vampir, gadis itu mulai meminum darah sebagai makanannya, Kaisar selalu berburu di hutan untuk mengambil sebanyak mungkin darah hewan.


Untuk persediaan saat Airish dan anaknya merasa lapar. Tak hanya itu, dalam waktu yang begitu singkat, perut Airish sudah membesar seperti seseorang yang sudah hamil lima bulan.


Padahal mereka baru melewati waktu selama dua minggu, setelah kejadian itu.


"Bagaimana, Sweetie? Apa kau menikmatinya? Apa kau senang menjadi makhluk sepertiku?" tanya Kaisar setelah menyerahkan satu kantung darah segar pada Airish. Dia berganti mengusap-usap rambut panjang istrinya itu.


Kini mereka berada ditengah hutan. Airish menemani Kaisar berburu, dengan duduk di bawah pohon rindang, buah yang tumbuh liar tak lagi diliriknya, karena semua itu bukan lagi makanannya.


Pelan, Airish mengangguk sambil mengulum senyum, semua hal yang berkaitan dengan Kaisar tentu saja akan dia suka. Tidak ada hal lain lagi di dunia ini yang dia inginkan, selain hidup bersama Kaisar selamanya.


"Aku bahagia, Sayang." Airish menepuk pahanya, dan Kaisar segera meletakkan kepalanya di sana. Kedua netra mereka bertemu, dan terkunci cukup lama.


Kaisar ikut mengulum senyum, sementara Airish mengelus lembut rambut Kaisar. "Apapun itu, asal aku bersamamu. Aku akan suka, hidupku sekarang terasa sempurna, karena ada kau dan juga bayi kita." Ucap Airish.


Kaisar begitu senang mendengar ucapan istrinya itu, "I love you, My Sweetie."


"I love you more, My Husband."


Kaisar melingkarkan tangannya ke perut Airish, dia menciumi buah hatinya yang masih ada di dalam sana. Seketika gerakan kecil dia rasakan, untuk pertama kalinya janin yang ada di perut Airish merespon.


"Sayang, bayi kita bergerak," ucap Kaisar girang, bahkan dia langsung terduduk dan mengelus perut besar Airish.


Airish mengangguk tak kalah antusias, dia merasakan gerakan itu. Tekanannya cukup kuat meski janin itu hanya bergerak menggeliat. "Dia pasti senang dimanja oleh daddy-nya." Tebak Airish.


Kaisar terkekeh dan mengikis jarak, dia memajukan wajahnya hingga kening mereka menyatu dan pucuk hidung mereka beradu, terpaan nafas saling menampar satu sama lain, kedua bibir itu sama-sama mengulas senyum dengan buncahan bahagia yang tak terkira.


"Sekarang saatnya memanjakan mommy-nya," ucap Kaisar sebelum menyesap bibir ranum Airish.


Tak pernah bosan Kaisar selalu menawarkan rasa yang begitu menggelitik. Airish terkekeh, dan mulai membalas perbuatan Kaisar, ibu hamil itu melingkarkan tangannya di leher suaminya, dan menggigit-gigit kecil.


Dedaunan bergoyang, suara ranting berjatuhan, dengan sepoi angin yang berhembus perlahan. Mereka semua menjadi saksi, keluarga kecil yang tengah berbahagia menanti buah hati mereka, lahir ke dunia.


Tanpa peduli alam sekitar yang terbuka. Kaisar terus memagut semakin dalam, dia menahan tengkuk Airish, mengalirkan cinta yang tiada habis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hingga waktu berlalu semakin cepat. Itu artinya kehamilan Airish bertambah semakin besar. Dan selama masa kehamilan itu, Airish tetap tinggal di dalam hutan.


Janin yang dikandungnya bergerak begitu aktif, Airish sampai kewalahan sendiri menghadapi anaknya yang sudah bertambah besar itu.


Tak dipungkiri, dia begitu bahagia, dan tidak sabar menanti kelahiran buah cintanya dengan Kaisar.


"Sayang, jangan ikut Kaisar ke dalam hutan yah. Karena malam nanti adalah malam bulan purnama. Mommy takut terjadi sesuatu padamu, apalagi kehamilanmu sudah semakin besar," ucap Elena, kini mereka tengah duduk di depan rumah, menikmati suasana pagi hari yang begitu sejuk.


Airish mengangguk patuh, dia akan berada di rumah untuk berjaga-jaga, karena sesuai dengan penerawangan Elena, bahwa bayi yang dikandung Airish akan lahir pada saat bulan purnama tiba.


"Iya, Mom. Aku tidak akan mengikutinya hari ini. Baby jangan nakal yah, kita tunggu Daddy di rumah," ucap Airish sambil mengelus perut buncitnya.


Airish sedikit tersentak, karena baby Kaisar merespon dengan menendang cukup kuat. Namun, tak berapa lama dari itu, dia terkekeh, wanita itu tidak pernah merasa terbebani dengan kehamilan ini.


Hingga sore mulai menjelang. Kaisar berniat untuk membersihkan diri setelah bercinta dengan Airish, karena usai berburu dia memilih menghabiskan waktu bersama istri tercintanya di dalam kamar.


Lelaki itu mengecup singkat bibir Airish sebelum bangkit menuju kamar mandi.


"I love you, Sweetie, kau benar-benar membuatku selalu bergairah," ungkap Kaisar, membuat Airish terkekeh pelan.


Kaki jenjang Kaisar melangkah lebar, tetapi belum sempat sampai di kamar mandi, dia mendengar pekikan Airish yang begitu kencang.


"Arggghh!!! Sayang," Airish mencengkram pinggiran sofa, tempat di mana mereka bercinta.


Airish merasakan sesuatu kembali bergejolak di dalam perutnya. Seolah bergerak berusaha mencari jalan keluar. Rasa ini jauh lebih menyakitkan, tubuh Airish langsung bergetar hebat, dengan lilitan yang mengikat tubuhnya.


Seketika Kaisar berubah panik, dia langsung membungkus tubuh telanjang Airish dengan selimut, dan menggenggam satu tangan Airish. "Sweetie, ada apa?"


"Sayang, perutku sakit!" teriak Airish, dia terus meraung keras dengan tubuh yang meronta-ronta.


Sesekali tangan Airish mencakar, hingga pinggiran sofa itu rusak karena kukunya, melihat itu Kaisar semakin tidak bisa berpikir jernih, dia langsung memanggil kedua orang tuanya.


Dia yakin, Airish akan melahirkan bayi mereka.


"Mommy, Daddy! Help me, Airish akan melahirkan!" teriak Kaisar dari dalam kamar.


Dia tidak bisa meninggalkan Airish, karena genggaman tangan gadis itu sangat kuat, hingga akar-akar dalam tubuh Airish semakin terlihat nyata.


"Sweetie, bersabarlah. Baby come on, jangan buat mommymu kesakitan!" Kaisar berusaha untuk tenang, meski hatinya dilanda kecemasan yang begitu luar biasa.


Jantung Airish terasa berdebar dan memompa semakin cepat, nafasnya tersengal-sengal bagai tercekak oleh sesuatu. "Oh my, Sayang perutku sakit sekali!!!"


Mendengar keributan dari kamar Kaisar, Kibrit dan Elena segera masuk ke dalam sana, mereka melarang Rose dan Jack untuk ikut, karena mereka akan menyelesaikan ini semua hanya bersama Kaisar.


"Kai, ada apa?" Elena ikut panik, karena Airish tak berhenti meraung-raung, sementara perutnya terus memberikan tanda pergerakan, janin itu tak berhenti menggeliat, mencari ruang yang lebih luas.


Melihat itu, Elena yakin bahwa Airish akan segera melahirkan. Dia menepuk lengan Kibrit, untuk memberikan instruksi.


"Sayang, cepat ambil ramuanmu karena Airish akan segera melahirkan!" cetus Elena, dan Kibrit melengang cepat ke ruangan pribadinya.


Sementara di luar sana, dunia berubah menjadi gelap gulita. Matahari menghilang begitu saja, padahal senja belum benar-benar tiba.


Kicau burung bersahutan, dedaunan yang bergoyang karena berhembus angin yang begitu kencang. Alam pun ingin ikut menyambut dan menyaksikan sang penguasa keabadian yang akan lahir ke dunia.


Setelah ramuan yang Kibrit buat dimasukkan ke dalam tubuh Airish, tubuh gadis itu semakin meronta-ronta, jantungnya seolah ingin ditarik dengan paksa, sementara Kaisar terus memberikan semangat, dia setia berdiri di samping Airish menunggu kelahiran anaknya.


Elena memberikan instruksi, dan dia mulai menghitung, dalam hitungan ketiga Airish menjerit, dan mendorong tubuh bayinya.


Namun, tak serta merta bayi itu langsung keluar. Airish dibuat memekik pilu, lilitan rasa sakit yang mengikat tubuhnya benar-benar luar biasa hebat.


"Sayang, ini menyakitkan!!!" jerit Airish sambil mendorong kembali janin itu, kali ini Elena sedikit memberikan tekanan.


"Kau pasti bisa, Sweetie!"


Airish mengeluarkan seluruh tenaganya, dia mencengkram kuat tangan Kaisar sebagai pelampiasan rasa sakitnya, hingga kepala bayi itu keluar, menggeliat keras dan mencoba membawa tubuhnya.


"Arggghh!!!" Airish berteriak sekencang mungkin, dan akhirnya bayi mungil berjenis kelamin laki-laki, berhasil dia lahirkan.


Seketika sinar bulan purnama datang, menerangi jagat raya, lolongan binatang buas kembali bersahutan menyambut anak vampir yang baru saja dilahirkan. Bayi itu menangis begitu kencang dalam dekapan Elena.


Airish menghela nafasnya begitu lega, sementara Kaisar langsung menghujani Airish dengan ciuman, kecemasannya langsung menguap melihat bayi dan istrinya selamat.


"Sweetie, kau hebat, kau hebat." Kaisar memeluk Airish begitu erat.


Sementara Elena dan Kibrit saling memandang dan mengulum senyum begitu takjub dengan keajaiban ini.


"Kai, siapa nama anak kalian?" tanya Elena, membuat Kaisar melepas sejenak pelukannya pada tubuh Airish.


Setelah ini, wanita itu akan butuh banyak darah untuk memulihkan tenaganya.


Kaisar melangkah dan menerima uluran Elena, dia menggendong buah hatinya, dan mendekatkannya pada Airish. "Sweetie, ini anak kita." ucap Kaisar, sekali lagi dia tidak pernah menyangka bahwa hal ini akan terjadi.


Airish mengangguk lemah dengan mengulas senyum sambil mengusap pelan kepala anaknya.


"Aku akan menamainya Aiden, Aiden Allende Hadev. Putraku yang hebat."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kasih baby Aiden hadiah dong 👶🍭