
Sepulang dari kampus, Kaisar meminta Joni untuk tetap tinggal di rumah utama. Karena dia akan pergi ke markas, dan pulang ke rumah yang berada di tengah hutan belantara, tempat dimana keluarga vampirnya berada.
"Aku ada perjalanan luar kota, jangan kemana-mana, tetapi jika memang ada yang mendesak, mintalah Joni untuk mengantarmu." Ucap Kaisar pada Airish, sebelum ia pergi meninggalkan rumah.
Mewanti-wanti gadis itu untuk tidak pergi sendiri, selagi dia tidak ada disisinya.
Gadis itu mengangguk patuh. "Baik, Tuan."
"Jangan nakal, Sweetie. Atau aku akan menghukummu." Kaisar memberi ketukan di hidung mancung Airish, membuat gadis itu sedikit mengulas senyum.
"Tuan yang jangan nakal, dan pakai ini." Airish membalutkan mantel tebal yang sudah dia siapkan, ke atas tubuh Kaisar, jika seperti ini ia merasa menjadi istri sungguhan.
Sudut bibir Kaisar tertarik ke atas melihat tingkah Airish, lelaki itu menurut tanpa memprotes sedikitpun. Selesai dengan mantelnya dia mengecup bibir ranum itu sekilas.
"Sudah berani menggodaku sekarang." Dan ucapan itu membuat senyum di bibir Airish menyurut, ia mulai sadar, mimik wajahnya terlihat kecewa.
"Tapi aku suka." Sambung Kaisar, lalu melangkah meninggalkan Airish yang terpaku di tempatnya.
Dia menyukainya? Pipi Airish bersemu merah, dengan riang dia memegangi dadanya, dada yang tengah berdebar hebat, hanya karena kalimat yang terlontar dari mulut suaminya.
•
•
Senja menjelang malam, Kaisar baru saja sampai di markasnya, tempat dimana manusia tidak berguna yang mengusik hidupnya itu di sekap, mengantri untuk masuk ke dalam lembah neraka.
Dan disini, Kaisar lah malaikat mautnya.
Disana, lelaki yang hampir saja memperkosa Airish, duduk di atas kursi dengan tangan dan kaki yang diikat oleh rantai besi.
Dia menunduk lemah, karena tubuhnya baru saja menerima siksaan berupa cambukan oleh para pengawal yang berjaga.
Tak jauh dari sana. Roger sama mengenaskannya. Tubuhnya dipenuhi nanah, karena luka yang ia dapat tak kunjung mengering jua. Lelaki itu meringkuk di atas lantai yang dingin, berharap Kaisar segera membunuhnya.
Ya itu saja, tak ada harapan lain yang ia inginkan selain mati.
Hingga saat suara decitan suara pantofel terdengar. Roger langsung terbangun, seperti mendapat harapan, matanya berbinar dengan menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Dia melihat Kaisar datang.
Dengan kasar Kaisar menarik rambut lelaki itu, hingga dia menengadah. Menyadari itu adalah Kaisar, dia langsung menatap tajam. Ia sungguh geram dengan lelaki satu ini.
"Kau memang benar-benar biadab, Tuan Kaisar." Cibirnya dengan suara yang tak bertenaga.
Alis Kaisar terangkat, ia hanya tersenyum miring menanggapi perkataan orang tidak berguna itu. "Dan malam ini kau akan merasakan kebiadabanku."
Kaisar menyentak kuat kepala itu, hingga berjengut ke bawah. Bibir lelaki itu sebenarnya bergetar, tetapi ia tetap tidak mau terlihat lemah di depan Kaisar.
Tidak mau berlama-lama, Kaisar meminta pengawalnya membawakan sesuatu. Sesuatu yang akan membuat lelaki itu, menyesali ucapan dan perbuatannya.
"Apa yang akan kau lakukan, keparatt!" Pekiknya. Saat dua pengawal memasang alat di tubuhnya. Dia sama sekali tidak bisa melawan. Jangankan melawan, bergerak saja susah.
Alat yang Kaisar pinta sudah terpasang, satu besi panjang tepat di depan dada lelaki itu. Tak hanya dia, Roger saja bingung apa yang akan dilakukan oleh Kaisar.
Kaisar memperlihatkan sebuah remot kecil di tangannya. Ada dua tombol disana, on dan off. "Kau tahu ini?" Tanyanya. Dan lelaki itu hanya bergeming. Wajahnya pias membuat Kaisar tergelak.
"Kau mulai takut yah?" Meledek lengkap dengan wajah konyol. "Jika aku tekan tombol ini, maka besi itu akan bergerak, menembus dadamu. Bagaimana? Menyenangkan bukan merasakan kebiadabanku?"
Glek!
Lelaki itu menelan ludahnya kasar. Dan tubuhnya langsung bergetar hebat ketika mesin itu mulai menyala, kebisingannya memekik telinga, membuat siapa saja pasti ketakutan.
Dan tep!
Mesin itu mati begitu besi panjangnya sedikit menekan dada. Nafas lelaki itu tersendat-sendat. Membuat Kaisar puas melihatnya. "Tuan, ku mohon. Maafkan aku, jika kau mau bunuh aku, bunuh saja asal jangan seperti ini." Pintanya dengan memelas. Siapa yang tahan mati dengan cara seperti ini, saat nyawa terpisah dari tubuh saja rasanya sangat menyakitkan, apalagi ditambah dengan siksaan.
Tetapi bukan Kaisar namanya, jika dia memiliki belas kasih pada orang yang telah menyentuh miliknya.
Lelaki itu menyeringai setan. Dan melangkah mendekat. "Aku tidak peduli." Lalu tep! Lelaki itu menjerit seiring besi panjang itu berusaha menerobos dadanya. Semakin terasa kuat, dan kuat mengorek semakin dalam.
Dan itu semua disaksikan oleh mata telanjang Roger. Lelaki itu hanya mampu menganga, menatap tak percaya. Benarkah dia juga akan bernasib sama seperti lelaki yang ada di hadapannya?
Sepertinya aku salah menilainya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Kasih aku semangat dong, udah up lagi tuh 🤧🤧🤧