
Malam harinya.
Airish memakai piyama tidur pilihan Kaisar. Sebelum keluar, lelaki dengan wajah tampan itu, sempat pamit pada istrinya, untuk pergi ke ruang kerjanya yang ada di rumah ini, bersama sang asisten, Joni.
Airish duduk di depan meja rias, sambil menunggu Kaisar, dia mengoles beberapa cream ke wajahnya, lalu berlanjut menyisir rambut panjangnya, yang ia biarkan tergerai indah.
Dia mengamati pantulan wajahnya di depan sana, entah ide darimana, tiba-tiba dia ingin berdandan secantik mungkin untuk Kaisar malam ini.
Ah, aku ingin membuatnya tersenyum lagi seperti tadi. Sayang? Hehe, nanti aku akan memanggilnya seperti itu.
Gadis itu tersenyum, menggerak-gerakkan kakinya di bawah sana, asyik dengan pikirannya sendiri, Airish mengambil alat make up yang ia punya. Dia mulai menyisir alis, membentuknya agar terlihat lebih rapih.
Pipinya dibuat sedikit merona, dengan taburan blush on, sedangkan bibir tipisnya diberi warna pink agar terlihat lebih segar.
Note: Penampakannya.
Airish berputar-putar, mengamati penampilannya.
Setelah merasa sempurna. Airish duduk di tepian ranjang, memainkan ponsel seraya menunggu Kaisar datang.
Dan tak berapa lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka, kayu berbentuk persegi panjang itu berdecitan dengan lantai.
Suara decitan itu sukses membuat jantung Airish memacu dengan cepat, desiran darahnnya mengalir hangat dan begitu hebat.
Sedangkan tangannya berkeringat dingin, debaran di dadanya benar-benar menggila.
Di ujung sana, Kaisar tampak tak berkedip, ia memandangi tubuh indah sang istri yang begitu sempurna. Keindahan yang dapat dilihat oleh dia seorang. Bukan yang lainnya.
Jiwa perkasa itu mulai menggelora, Kaisar meneguk ludahnya, hingga jakun itu terlihat naik turun.
Pelan ia melangkah, tidak lupa untuk mengunci pintu kamar. Seutas senyum terbit dari kedua sudut bibir lelaki itu, Airish begitu indah, Kaisar memuji makhluk di depan matanya.
Kaisar duduk berhadapan dengan Airish. Lelaki itu menatap dengan lekat, mengunci seluruh tubuh Airish dari atas hingga ke bawah.
Cantik.
Airish melengoskan wajah, dia tak mampu bersitatap dengan netra sang suami. Sumpah demi apapun, ia sangat malu sekarang.
"Sweetie." Panggil Kaisar mesra, satu tangannya bertumpu pada ranjang.
Reflek gadis itu mundur, dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan rona merah di pipi yang terasa semakin menyembul.
Pelan, Kaisar menyingkirkan tangan itu dari wajah cantik Airish, menarik dagu runcing itu hingga kedua netra pekat mereka bertemu.
Wajah tampan itu tersenyum manis, serta menatap teduh Airish.
Ya Tuhan! Tolong selamatkan jantungku.
Airish merasa meleleh oleh tingkah Kaisar, ia meremat tangannya sendiri, mencoba menahan gejolak itu. Ingin rasanya ia meraih bibir tipis di depannya, ingin ia secepatnya memeluk Kaisar, menghirup dalam-dalam aroma tubuh suaminya.
Namun, dia tidak memiliki keberanian sebesar itu, ia hanya bisa menahan, hingga saat Kaisar menyatukan bibir mereka, mata Airish membulat sempurna, tubuhnya menegang, meluluhkan seluruh urat syarafnya.
Gerakan lembut yang terasa begitu nikmat, bahkan sesekali saling menyesap rasa manis yang tiada habis. Kaisar memegang kuat tengkuk Airish.
Sial! Rasa ciumannya benar-benar memabukan.
Lambat laun, tubuh keduanya seolah tidak ada di bumi. Kaisar bergerak pelan membawa Airish melayang ke atas awan, hingga ia tidak merasakan tubuhnya sudah berbaring di atas ranjang.
Sejenak Kaisar menghentikan kegiatan mereka. Lelaki tampan itu memandangi wajah Airish dari atas sana, dia mengusap pahatan itu, dari mulai pelipis hingga turun ke dagu.
Seperti terhipnotis, Airish menganggukkan kepala. Kaisar mengulas senyum. "Untuk siapa?"
Airish menggigit bibir bawahnya. Wajah cantik itu menengadah menatap Kaisar. Sedangkan jantungnya terus berdetak dengan kencang.
"Untuk." Kalimat Airish terpotong, dia merasa belum sanggup memanggil lelaki itu dengan sebutan baru. Lidahnya seolah kelu.
"Untuk siapa?" Kaisar mengulang dengan suaranya yang mendayu, memegang ujung dagu Airish, menanti jawaban gadis itu.
"Untukmu, Sayang." Balas Airish pelan, ia membuang pandangannya ke samping. Benar-benar merasa gugup dengan tubuh yang bergetar-getar.
Kaisar tersenyum lebar, dia meletakkan kedua tangannya di antara kepala Airish. Wajahnya mendekat hingga pucuk hidung mereka saling menempel satu sama lain.
Lagi, netra keduanya kembali bertemu, deru nafas itu saling menyapu, membelai lembut membuat rasa yang menggelora itu semakin menggebu-gebu.
Kaisar menekan wajahnya, ingin menyatukan kembali bibir mereka. Tetapi sebelum itu, Airish menahan dada Kaisar, hingga lelaki itu mengurungkan niatnya.
"Sayang, besok aku izin yah. Aku ingin pulang ke rumah ayah." Ucap Airish, yakin Kaisar sedang menunggu sesuatu darinya.
Bibir tipis itu melengkung, tak habis-habis dia merasa bahagia, hanya karena Airish memanggilnya dengan sebutan sayang.
Kaisar sedikit mengangkat tubuhnya, agar ia lebih leluasa melihat wajah cantik istrinya.
"Mau ku antar?" Tawar Kaisar.
Dan dengan cepat Airish menggeleng. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau kan memiliki segudang pekerjaan yang harus diurus." Tangan lentik Airish memegang kancing piyama Kaisar, memainkannya untuk mengusir rasa canggung yang melanda.
"Baiklah, kalau begitu kau harus berhati-hati. Ingat, jangan sampai ada yang menyakitimu, atau orang itu akan mati di tanganku." Jelas Kaisar dengan gamblang.
Dia tidak ingin Airish lemah, semua pelatihan yang dia berikan, sudah menjadi penyokong untuk gadis itu, agar dia mampu melawan siapa saja yang mengusiknya.
"Sekalipun itu Kakakmu, aku tidak akan segan lagi." Sambung Kaisar dengan mimik wajah yang serius.
Airish tersenyum. Lalu mengelus pipi Kaisar dengan sayang. "Iya Sayang, aku tidak akan kalah lagi darinya. Aku akan membuatnya berubah."
Cup!
"Itu bagus, sampai mana pelatihanmu?" Tanya Kaisar setelah mengecup pipi merona Airish.
"Leela bilang, beladiri dan keahlian menembakku sudah cukup bagus. Karena selama ini aku berlatih dengan baik." Tutur Airish bangga.
Kaisar manggut-manggut. "Kalau begitu, aku akan memberikanmu satu benda milikku. Bawa kemanapun kau pergi. Dan sekarang..."
Kaisar bergulir ke samping, dan menarik tubuh Airish agar naik ke atas perutnya. Tangan kekar itu melingkar di pinggang ramping Airish, sedangkan kedua tangan gadis itu berada di dada Kaisar.
"Berlatihlah menyenangkan aku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Eak:v minta diapain kau Babang Vampire 🤣
Vote aman? Sumbangin yuk!
Ini gantinya semalam yah aku nggak jadi double up, maaf real life sedang membutuhkanku🏃
Salam anu 👑