
Di rumah sakit.
Di tempat ayahnya dirawat, Airish menyempatkan diri untuk memeriksa keadaannya, dia tidak ingin mencoba alat tes kehamilan, dia ingin informasi yang lebih jelas yaitu datang ke ahlinya, dokter kandungan.
Dengan ditemani Kaisar, Airish berbaring untuk melakukan serangkaian pemeriksaan. Dan setelah diperiksa, dokter tersebut hanya mengatakan jika hal itu, hanyalah efek samping dari pil kontrasepsi yang Airish konsumsi.
Rasa cemas gadis itu tiba-tiba menguap, bukannya tidak mau. Tapi dia sungguh tidak tahu, bagaimana kalau dia benar-benar mengandung bayi vampir.
"Lihat? Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Sweetie," ucap Kaisar saat mereka sudah keluar dari ruangan tersebut.
Dia mengusap-usap puncak kepala Airish dengan pelan. Mencurahkan seluruh kasih sayang.
Namun, masih ada sedikit keraguan dalam wajah gadis itu, dia meraih tangan besar Kaisar, lalu digenggamnya.
"Sayang, aku hanya sedikit takut. Bagaimana jika aku benar-benar bisa hamil anakmu? Apa aku masih bisa hidup?" tanya Airish dengan mimik wajah sungguh-sungguh.
"Sweetie, apa yang kau bicarakan? Dia tidak akan pernah ada di perutmu." Kaisar berganti menangkup kedua sisi pipi Airish, lelaki itu membalas tatapan gadisnya tak kalah serius.
Menandakan apa yang ia bicarakan bukanlah sebuah omong kosong belaka. Dia mau Airish percaya padanya.
"Kau juga tidak menginginkannya?" tanya Airish dengan kening yang berlipat-lipat, dan kedua alis yang terangkat.
Kaisar menghela nafas sejenak, lalu kembali menatap dalam istrinya itu.
"Aku bukan tidak menginginkannya, Sweetie. Tapi apapun yang membahayakanmu, aku tidak akan membiarkan itu!" tegas Kaisar.
Detik selanjutnya, Airish memeluk tubuh tegap Kaisar. Dibalik dada bidang itu ia mengulum senyum kecil, dia suka, dia suka dengan semua perhatian lelakinya.
Setelah cukup lama, barulah Kaisar melerai pelukan itu, ia pamit pada Airish untuk pergi ke The King Group. Siang ini, dia harus menemui klien yang berasal dari negara A.
Airish mengangguk, dan melepas kepergian Kaisar. Kecupan singkat, menjadi penutup perjumpaan mereka pagi ini, sekali lagi, Airish mengulum senyum manis, menatap punggung lebar itu ditelan oleh kijang besi yang dikendarai Joni.
Setelah kepergian suaminya itu, Airish melangkah ke arah ruang perawatan ayahnya. Dia memutar kenop pintu, dan hal yang pertama dia lihat adalah, tubuh Martin yang terbujur lemah di atas pembaringannya.
Dia mengulum senyum, senyum getir. Karena tak mampu membantu apapun untuk kesembuhan Martin, Airish hanya mampu memberi perhatian dan mencurahkan semua kasih sayang yang ia punya.
Karena dari beberapa artikel yang ia baca, hal tersebut mampu memacu semangat seseorang yang sedang koma, semangat untuk bangun dari tidur panjangnya.
"Selamat pagi, Ayah. Airish datang," sapanya lembut pada Martin yang diam membisu.
Airish lebih dulu mengecup puncak kepala Martin, menaruh tas selempangnya di atas nakas, dan duduk di samping lelaki paruh baya itu. Detak jantung Martin masih terlihat normal, itu terbukti dari layar monitor yang ada di sebelah sana.
Pelan, Airish menggenggam tangan Martin yang terasa hangat. Dia mengecupinya berkali-kali, hingga air mata itu kembali menetes membasahi pipinya.
"Ayah apa kabar? Airish percaya Ayah pasti kuat, Ayah pasti sehat lagi. Karena Airish mau mengenalkan seseorang pada Ayah, dia suamiku Ayah, namanya tuan Kaisar. Dia orang yang baik, walaupun terkadang sedikit menjengkelkan."
"Ayah tahu tidak? Aku suka memakinya dalam hati, jika dia membuatku kesal, tapi aku juga rindu kalau dia tidak ada. Hah, aku lucu yah Ayah? Menurut Ayah, apa ini yang dinamakan cinta? Apakah rasanya seperti ini saat Ayah mencintai ibu?" tanya Airish dengan bibir bergetar.
Matanya mengabur akibat air mata yang sebentar lagi akan berjatuhan, berderai-derai. Airish memandangi wajah Martin, matanya selalu basah, dia merasa tidak sanggup, saat melihat satu-satunya orang yang mengurusnya sedari kecil, lemah tidak berdaya seperti ini.
Pelan, ia menghapus sisa-sisa air matanya. Airish mencoba untuk kuat, ia yakin Martin pasti sembuh dan kembali sehat seperti semula.
"Aku tidak akan menyerah untuk membuat ayah tetap hidup, suamiku bilang, Ayah akan dibawa pergi ke rumah sakit terbaik di negera ini, kalau pun tidak ada, ke ujung dunia pun dia akan mencarinya, Ayah." Airish mengulum senyum, lalu meletakkan kepalanya di samping tubuh Martin.
Hingga sore hampir menjelang, Airish mendapat sebuah pesan, bahwa Kaisar akan datang menjemputnya.
Gadis itu meletakkan ponselnya di atas sofa, lalu melangkah ke kamar mandi, bersiap-siap untuk pulang.
Dia merapihkan rambutnya yang sedikit berantakan, menyisirnya dengan tangan sambil bercermin, dia mengulum senyum, buncahan bahagia itu benar-benar hebat, saat ia akan kembali bertemu Kaisar.
Aku harus selalu tampil cantik di depannya. Batin Airish.
Setelah merasa cukup, gadis itu meraih tas selempangnya, dan mendekat ke arah pembaringan Martin.
"Ayah, Airish pulang dulu yah," pamitnya pada Martin, dia kembali mengecup puncak kepala lelaki itu, dan melambaikan tangannya tanda perpisahan.
Setelah kepergian Airish, pintu ruangan Martin kembali dibuka oleh seseorang. Seseorang yang menutupi seluruh wajahnya menggunakan masker dan topi. Dia tersenyum menyeringai, saat melihat Martin terkulai tidak berdaya.
Mata itu menatap sinis, lalu kakinya melangkah pelan-pelan ke arah pembaringan lelaki paruh baya itu.
Sekali lagi, dia menyeringai penuh, hingga memamerkan gigi-giginya yang putih, dibalik kain masker tersebut.
"Halo, Ayah. Ini Jane," sapanya tepat di telinga Martin, seraya mengelus puncak kepala sang ayah.
Dia terlihat senang sekali, melihat kondisi Martin yang tidak sadarkan diri. Hingga dia mampu bergerak leluasa, untuk melakukan apapun yang ia suka.
Dengan kasar, Jane menarik bantal yang ada di kepala Martin, dia memandangi wajah keriput ayahnya, lalu mengangkat bantal yang ada di tangannya ke atas, waktunya tidaklah banyak untuk melenyapkan lelaki tua itu.
"Ayah maafkan aku, tetapi aku harus melakukan ini. Semoga Ayah tidak perlu menebus kesalahan Ayah di depan Tuhan, karena aku yang akan menggantikan-Nya menghukummu. Selamat tinggal Ayahku tersayang."
Jane tersenyum lebar, lalu mengarahkan bantal itu ke wajah Martin, siap untuk menghentikan nafas lelaki paruh baya itu. Hari ini, Martin harus mati.
Dan brak!
Sebelum itu terjadi, pintu terdorong dengan kencang. Membuat Jane mengalihkan pandangan matanya, dan pada saat itu, dia sudah ditodong oleh sebuah senjata.
Di belakang tubuh Jane, Airish menggenggam pistolnya dengan tangan kanan, pistol yang Kaisar berikan kala itu. Gadis itu menatap tajam ke arah Jane, sedangkan tangannya siap untuk menarik pelatuk.
"Urungkan niatmu, atau kau ku bunuh?" ketus Airish.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi Reader anu, ada salam dari othor nganu nih🤣
Dahulukan sarapan, sebelum harapan, ekek :v
Hayo lho?
Inget nggak benda yang mau tuan Kaisar kasih buat Airish? Pistol beneran yah, bukan pistol-pistolan apalagi pistol anu🙈🙈🙈
Sambil nunggu cerita mereka yuk baca punya Kakak online ku😍