My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Cemas



Airish terlihat mondar-mandir di depan ruang operasi. Sedari tadi dia terus menangis sambil merapalkan doa, agar proses operasi ayahnya diberi kelancaran, dan lelaki paruh baya itu bisa terselamatkan.


Pikirannya benar-benar kacau sekarang. Sumpah demi apapun, dia takut, takut terjadi sesuatu pada Martin. Bagaimana kalau sampai lelaki paruh baya itu meninggalkan dirinya?


Siapa lagi yang akan menjadi tempatnya pulang?


Kaisar? Tiba-tiba terbersit satu nama dalam hatinya. Entah kenapa malah nama itu yang dia ingat. Dan sampai sekarang, dia belum menghubungi lelaki itu, untuk memberitahu kondisi sang ayah.


Apa aku harus menggantungkan hidupku padanya?


Airish mencoba untuk duduk, kemudian merogoh ponselnya, tetapi masih enggan untuk melakukan panggilan dengan Kaisar.


Tak bisa bohong, dia butuh seseorang untuk menenangkan hatinya sekarang. Dan hanya lelaki itu yang dia inginkan.


Dan dia memberanikan diri, mencari nama kontak Kaisar di dalam ponselnya. Pelan, Airish menekan tombol "Calling" hingga di ujung sana, si pemilik nama langsung menghentikan aktivitasnya.


Ponselnya tidak berbunyi nyaring, hanya bergetar. Tetapi seolah tahu siapa yang menelpon, Kaisar langsung menyambar benda pipih super canggih itu.


Sweetie?


Dia tidak percaya, kalau tidak terjadi sesuatu pada gadis itu. Dengan Airish menelpon lebih dulu, Kaisar yakin, gadisnya pasti tengah melalui kesulitan.


Tanpa pikir panjang, Kaisar langsung mengusap icon berwarna hijau di layar, lalu berjalan ke sudut ruangan. "Halo, Sweetie? Ada apa?" Tanya Kaisar lembut.


Orang-orang yang ada di ruangan tersebut sontak bertanya-tanya, siapa gerangan yang menelpon? Sampai seorang Presdir dingin seperti Kaisar menghentikan rapat, hanya demi mengangkat panggilan tersebut.


Terdengar lirih, isak tangis Airish di ujung sana. Membuat dada Kaisar tiba-tiba terasa sesak. "Sweetie, katakan ada apa Sayang?" Suara Kaisar berganti cemas.


Sayang? Kompak semua orang dengan saling memandang, mencari jawaban.


Bahkan Joni sampai merinding mendengar Kaisar yang tiba-tiba merubah intonasi suaranya. Ia mengusap tengkuknya yang terasa meremang seketika.


"Ayah masuk rumah sakit karena jatuh dari tangga, Tuan. Sekarang dia sedang dioperasi." Lirih Airish dengan sesenggukan. Rasanya begitu sakit, mengingat Martin terbaring tidak berdaya, dengan bersimbah darah.


Mendengar itu, Kaisar langsung bergerak gusar. Dia yakin, Airish pasti sedang ketakutan sekarang.


"Sweetie, tenanglah. Aku akan segera kesana." Putus Kaisar, dan gadis itu mengangguk, seolah Kaisar tahu gerakannya.


Setelah memutus panggilan dengan Airish. Kaisar menatap ke semua orang yang tengah menunggunya.


Ruangan itu nampak sunyi, karena mereka semua bergeming, tak ada yang berani bersuara, sebelum Kaisar yang meminta mereka untuk bicara.


"Rapat hari ini aku tunda, karena aku ada urusan lain, permisi." Setelah mengatakan itu, lelaki dengan sorot mata elang itu menepuk bahu Joni, memberi isyarat agar lelaki itu mengikutinya untuk meninggalkan ruangan tersebut.


"Tuan ada apa?" Tanya Joni dengan langkahnya yang tergesa, menyeimbangi langkah lebar sang Tuan.


Dia benar-benar cemas sekarang.


Yang masuk rumah sakit kan ayah mertuanya. Kenapa yang dikhawatirkan Nona Airish?


Tak mau berdebat disaat-saat seperti ini, akhirnya Joni memilih diam. Hingga tak berapa lama kemudian, mereka sampai di baseman perusahaan.


Saking tergesanya, Kaisar langsung membuka pintu mobil dengan kekuatannya, membuat Joni kembali geleng-geleng kepala.


"Jon, cepat masuk. Kau mau mati membuatku menunggu seperti ini?" Cetus Kaisar, saat dia melihat asistennya itu malah bergeming.


Mendengar itu, Joni buru-buru menarik pintu mobil, dan mendudukkan dirinya di balik kursi kemudi.


Baru saja mulutnya akan berbicara, tapi sayang Kaisar sudah menghilang.


Sialan!





Tak butuh waktu lama, Kaisar sudah berada di area rumah sakit, tempat dimana Airish berada.


Sedari tadi, firasat buruk sudah memenuhi hatinya. Namun, ia tak percaya kalau hal ini akan benar-benar terjadi.


Dengan langkah lebar, Kaisar menyusuri lorong rumah sakit, matanya dengan tajam melihat kesana-kemari, mencari sosok Airish.


Hingga akhirnya dia tiba di sebuah ruangan, dia bisa melihat, gadis yang semakin merayap indah ke hatinya itu tertunduk lesu, dengan tangis yang belum mereda.


Bahunya masih naik turun, dan terlihat sangat terpuruk. Dan hal itu, sukses membuat Kaisar ikut merasakan sakit.


"Sweetie," panggil Kaisar lembut.


Gadis itu mendongak.


"Tuan."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...