My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Drama kamar mandi



Fajar kembali menyingsing. Airish terbangun lebih dulu. Melepaskan diri dari dekapan suaminya, meskipun memakan waktu cukup lama.


Ia membersihkan diri, lalu membuat sarapan seadanya. Roti panggang dengan selai kacang, ia juga membuat kopi untuk Kaisar.


Gadis itu menghidangkan sarapan itu di meja kecil dekat dengan dapur mininya. Kemudian, barulah dia membangunkan sang suami yang terlihat masih terlelap.


Seperti magnet. Wajah tampan Kaisar selalu menjadi objek utama yang Airish perhatikan, seutas senyum muncul di bibir gadis itu, lalu entah keberanian dari mana, tiba-tiba ia memberi kecupan manis di pipi lelakinya.


Dan plak!


Airish memukul mulutnya yang sudah lancang mencium Kaisar, dia melakukan hal gila secara tidak sadar.


Ya Tuhan... Sebentar lagi aku pasti akan dikutuk!


Gadis itu berubah gugup, lantas menggigit bibir bawahnya kuat. Duh bagaimana kalau bedebah gila satu ini merasakannya?


Sedangkan Kaisar sudah senyum-senyum tidak jelas tanpa diketahui oleh Airish. Ia pura-pura menggeliat dan menggeram pelan. Membuat Airish terlonjak kaget. Dan semakin terlihat gemetaran, ia mengepalkan tangannya kuat.


Kaisar mengerjapkan kelopak matanya, lalu menatap ke samping dimana Airish berada.


Kening itu berlipat-lipat, mendapati Airish seperti ketakutan dengan wajah pias melihat dirinya bangun. Makin senanglah hati Kaisar.


"Kau kenapa?" Tanyanya Kaisar, terdengar berat dan parau.


Airish mengangkat kepala, menatap Kaisar dengan salah tingkah. "Ti, tidak. Aku tidak apa-apa, Tuan." Menyelipkan anak rambut ke belakang telinga.


"Lalu kenapa kau berdiri disitu? Lihat, wajahmu juga terlihat gugup, kau seperti maling yang hampir saja tertangkap basah. Jang_"


"Tidak! Aku tidak melakukan apapun." Potong Airish cepat, dan lagi-lagi dia merutuki kebodohannya, ia membuang wajah, wajah yang terasa sudah memerah.


Kenapa dia harus segugup ini? Padahal apa salahnya mencium suami sendiri?


"Wah, dari caramu bicara, aku malah jadi curiga." Kaisar bangkit, melipat tangan dan menatap Airish dengan netranya yang menyipit.


"Sepertinya kau melakukan sesuatu padaku ya? Apa kau berniat memperkosaku?" Tuding Kaisar menyelidik, seketika Airish mendongak.


"Mana ada, aku bukan gadis seperti itu!" Cetus Airish.


"Lalu kenapa kau berdiri di sana? Apa alasanmu? Jangan mentang-mentang ini di rumahmu, kau jadi seenaknya. Kau ingat tubuhku ini mahal?" Semakin memojokkan Airish.


Ya ya, tubuhmu memang sangat mahal, bahkan aku membayarnya dengan mahkota yang tidak bisa diuangkan.


Kembali mengingat percintaan mereka kemarin, saat Kaisar mencumbu tubuhnya dengan mesra. Ia benar-benar meleleh dalam kungkungan lelaki itu. Ah tidak!


"Aku, aku, aku hanya berniat membangunkanmu, tapi ternyata kau sudah bangun." Terbata-bata menjawab.


Mata Kaisar menajam. "Kalau kau berniat membangunku, mana mungkin kau berdiri di sana selama itu. Sudahlah aku tidak pecaya padamu."


"Tuan itu benar."


Kaisar menggeleng, tidak mau mendengar alasan Airish. "Maling memang tidak ada yang mau mengaku, bisa-bisa penjara penuh." Sindirnya.


"Tuan, tapi aku tidak melakukan apa-apa."


"Aku tidak per ca ya!!!" Kaisar menekan kalimatnya.


"Ck, aku benar-benar tidak melakukan apapun, aku hanya mencium pipimu! Apa itu salah?" Pekik Airish kesal. Lalu tep! Gadis itu melipat bibirnya ke dalam seraya memejamkan mata.


Bodoh! Airish kau bodoh!


Dan detik selanjutnya, gadis itu tidak bisa menahan diri lagi, dengan buncahan rasa malu yang menggunung, ia berlari keluar dari kamar itu.


Menyisakan gelak tawa Kaisar, yang terlihat sangat senang.


"Hahaha, harusnya aku bilang kalau tadi ada hantu yang mencium pipiku."


************


Selesai dengan sarapan, Airish teringat akan syarat yang ia ajukan pada Kaisar, dan hal itu belum terealisasikan. Sebelum ke kampus, gadis itu berniat mengajak Kaisar untuk bicara.


Namun, lelaki itu sedang membersihkan diri sekarang.


"Tuan ada apa?" Tanyanya khawatir, seraya melangkah mendekat, takut ada binatang-binatang melata yang terkadang muncul tiba-tiba.


Ya, Airish sering melihatnya, tetapi bagi dia hewan itu adalah sesuatu yang biasa.


Lain untuk lelaki super duper sempurna di dalam sana.


"Tidak apa-apa, aku hanya frustasi, kamar mandimu sempit sekali, aku jadi sulit bergerak. Bahkan di sini tidak ada air hangat." Keluh Kaisar.


Hei! Salahmu sendiri memaksa ingin mandi di sini. Lagi pula, badanmu itu sebesar apa sih? Sampai tempat seluas itu dibilang sempit. Memang sih tidak sebesar kamar mandimu yang di rumah, bahkan disana luasnya seperti rumah kontrakanku.


"Maafkan aku, seharusnya tadi kau mandi, di kamar mandi rumah utama saja, supaya tidak perlu merasakan ini." Ucap Airish pura-pura merasa bersalah.


Tak mendengar ocehan Airish, lelaki itu malah berteriak. "Aku buka saja ya pintunya."


APA? Lelaki ini sungguh gila, mandi dengan pintu yang terbuka? Yang benar saja! Sabar Ai!


Gadis itu mengelus dada.


"Kalau begitu aku akan keluar." Ujar Airish dengan tenang.


"Aaaaa..." Kaisar berteriak lebih kencang.


"Tuan ada apa lagi?"


"Aku takut, kalau kau keluar nanti ada yang mengintipku bagaimana?" Terdengar sedikit merengek, dan hal itu sukses membuat kepala Airish rasanya ingin pecah.


Itu salahmu sendiri bedebah gila! Makanya tidak perlu aneh-aneh.


"Aiai!" Kaisar membuat panggilan baru untuk Airish.


Panggilan apa itu?


"Iya Tuan." Tapi menyahut juga.


Klek! Pintu kamar mandi yang ada di kamar Airish terbuka, Kaisar menyembulkan kepala dengan rambut yang penuh busa, dan senyum tidak tahu malu.


Dan hal gila yang harus Airish rasakan pagi ini adalah, menonton Kaisar mandi dengan pintu yang terbuka, ia sama sekali tidak diizinkan untuk keluar, sebelum Kaisar selesai.


Tubuhnya terus dibuat gerah dengan tingkah Kaisar yang sudah kelewat batas manusia normal.


Tak dipungkiri wajah Airish memerah, kala mengingat, ah. Aku benci sekali dengan pikiranku! Benda panjang itu, cih!


"Aiai sabunmu habis." Kaisar mengangkat botol sabun yang terasa sudah kosong, memperlihatkannya pada Airish.


Gadis itu melirik sekilas, terlihat botol itu benar-benar terasa ringan.


Habis? Ya Tuhan... Padahal aku baru beli Minggu kemarin, dan sekarang dia menghabiskannya? Sebenarnya dia pakai untuk apa?


"Iya, Tuan tidak apa-apa." Mulut berkata berbeda dengan hatinya. Padahal ia sudah kesal setengah mati menghadapi lelaki satu ini.


"Aku pakai sikat gigimu ya." Berteriak lagi, tidak habis-habis.


"Bukankah tadi aku memberimu yang baru?" Wajah Airish sudah terlihat lesu, padahal cuaca masih terlalu pagi, untuk menghabiskan energi.


"Tidak mau, aku ingin pakai punyamu."


Ya ya, pakai saja, pakai saja semaumu.


Dan drama kamar mandi selesai, begitu seorang pengawal datang, memberikan satu set pakaian lengkap milik Kaisar, jubah dan handuk, peralatan mandi, peralatan makan hingga sampai hal sekecil sisir saja dibawa.


Cih, aku seperti orang termiskin di dunia ini. Kenapa juga tidak sekalian kau bawa kamar mandi di rumah utama kesini, rasanya aku kesal sekali mendengar dia mengoceh terus menghina kamar mandiku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa untuk senantiasa like dan komen 😍😍😍


Maaf yah, Dede nggak bisa crazy up. Harap bersabar, soalnya ada novel lain yang harus aku urusin, disamping dd juga kerja🙏


Sambil menunggu yuk baca karya Dede yang lain😍