
"Kak Airish." Panggilnya girang.
Lelaki itu langsung menghambur ke arah Airish yang baru saja datang. Gadis itu tersentak, baru sadar dari keterkejutannya. Saat Denis mencubit-cubit pelan lengannya.
Jantungnya hampir saja merosot, melihat Denis tiba-tiba berada di rumah utama, dan menyaksikan dia berjalan berdampingan dengan si bedebah gila, yakni suaminya.
"Denis, apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Airish sedikit berbisik. Bukankah berbahaya ada didekat lelaki seperti Kaisar, tapi apa ini, Denis justru tengah tersenyum sumringah seraya terus memegangi lengannya.
Lengan yang dipeluk kuat-kuat, takut terlepas.
"Harusnya aku yang tanya, kenapa Kakak ada disini, inikan rumahku."
Deg!
Rumahku? Pikiran gadis itu kembali oleng, Airish menoleh ke samping, hingga dia dapat melihat Denis dengan sejuta watt senyum di bibir tipisnya.
Mata gadis itu tak berhenti untuk melebar, dengan mulut sedikit menganga, tak percaya. Itu artinya, Denis adalah...
"Aku adik Kak Kai." Jelas Denis tanpa dipinta, melihat gurat penuh tanda tanya di wajah Airish, membuat lelaki muda itu tahu, Airish sedang mencerna semuanya.
Sedangkan Kaisar nampak bergeming, ia hanya tersenyum sinis, lalu melenggang ke dalam. Sontak Denis menarik lengan Airish, mengikuti langkah kaki Kaisar.
"Kak, apa kak Airish bekerja denganmu?" Tanyanya pada Kaisar, membuat langkah kaki jenjang itu berhenti. Lalu berbalik.
Mata lelaki itu menatap nyalang, wajah datar dan sulit ditebak. Kaisar terus memperhatikan tangan Denis yang melingkar penuh di lengan Airish.
Ibu Oh ingin menjelaskan, tetapi Kaisar lebih dulu mengangguk, membenarkan pertanyaan Denis.
Airish membeku, rasa apa ini? Kenapa rasanya tidak terima, saat lelaki itu tidak mengakui kalau dia adalah istrinya.
Apa, kenapa seperti ini? Kenapa Denis harus menjadi adik suaminya. Inikah yang diceritakan oleh ibu Oh? Denis adalah Tuan muda dari keluarga Hadev yang tidak tinggal di rumah utama bersama adik bungsunya.
"Wah, hebat. Aku memang tidak salah memilih wanita idaman. Kak Airish memang yang terbaik."
Glek!
Lihat, aku ingin lihat reaksinya. Tapi, mendongak saja rasanya tidak bisa. Kaisar tak berkomentar apapun. Dia nampak tak peduli, menaiki tangga. Hingga tepat di depan kamarnya. Kaisar kembali menatap tajam Airish.
Seperti mendapat sengatan. Sontak Airish ikut mengangkat kepala, menatap suaminya hingga netra itu bertemu dengan jarak jauh. Air muka Kaisar tak dapat terbaca, tetapi Airish tahu, kalau mimik ini belum pernah ia lihat sebelumnya.
Tidak, bahkan wajah ini yang paling menyeramkan. Tapi kenapa? Apa dia marah? Airish mulai menebak-nebak.
Lagi, saat Airish ingin menyusul suaminya. Dengan semangat Denis justru menarik lengan Airish menuju dapur, dan diikuti ibu Oh yang diliputi tanda tanya.
Namun, wanita tua itu tak mampu melontarkan pertanyaan apapun. Ia yakin, apa yang dilakukan sang Tuan pasti berdasar.
Denis mendudukkan Airish di kursi meja makan, lalu dengan antusias lelaki muda itu membuka bungkusan kue yang ia bawa.
Kue berbentuk bulat dengan isi cokelat yang meleleh di dalamnya.
"Kak Airish harus coba ini, ini kue kesukaanku." Ucapnya menyodorkan kue itu ke depan mulut Airish, tetapi gadis itu justru bergeming, sudut hatinya tak tenang, entah kenapa ia merasa berdosa pada suaminya.
"Kakak, ayo gigit." Desak Denis hingga kue itu menempel pada bibir Airish.
Airish menatap Denis, lelaki manis dengan binar mata polos. Tidak, lelaki satu ini tidak boleh tersakiti.
Airish menggeleng, tetapi Denis masih kukuh hingga Airish benar-benar tidak bisa menolaknya lagi.
Akhirnya mau tidak mau, gadis itu memakan suapan dari tangan Denis. Ia mulai mengunyah, merasakan lembutnya kue dan lelehan coklat yang memanjakan lidahnya.
"Enak kan?" Denis mulai kegirangan melihat Airish yang terlihat menikmati kue yang ia bawa.
Airish mengangguk cepat, lupa sudah dia pada Kaisar gara-gara rasa kue yang ia makan. Sensasinya benar-benar luar biasa.
Ini kue tereenak yang pernah aku makan.
"Kak Airish, aku mau juga." Bicara setengah merengek, membuat Airish mendongak, dengan kernyitan di dahinya.
"Itukan punyamu, kamu tinggal memakannya." Ucap Airish heran, bukankah kue itu milik Denis, lalu untuk apa merengek meminta padanya.
"Mau disuapi." Menyerahkan kotak, lalu membuka mulutnya, siap menerima suapan dari gadis cantik pujaannya.
"Kakak ayo gantian suapi aku. Kan tadi aku sudah menyuapimu." Protes Denis, meminta timbal balik atas apa yang ia lakukan.
Cih, aku kan tidak memaksamu untuk menyuapiku.
"Tidak mau yah, yasudah biar aku yang suapi kak Airish saja." Mengalah dengan gurat dibuat sendu, sedang menyulut rasa bersalah Airish.
Hah, kenapa kedua kakak beradik ini tidak ada yang beres sih. Selalu pemaksa, hanya saja berbeda cara.
"Kemana Sofia?"
Deg!
Kue itu langsung jatuh di pangkuan Denis, saat Airish mendengar suara Kaisar di belakang sana. Lelaki itu sudah berdiri di ambang pintu dapur, masih lengkap dengan baju kantornya, sama sekali belum berganti.
Menunggu Airish yang melakukannya.
"Sofia bersama Kak Amora. Makanya aku pergi kesini sendiri." Balas Denis mencebik, gagal menerima suapan dari Airish, karena gadis itu terkejut dengan suara Kakaknya.
Denis tidak kaget dengan sikap Kaisar, karena sedari dulu, lelaki itu memang seperti itu.
Kaisar manggut-manggut, lalu memanggil Airish untuk mendekat. "Nona Airish, kemari." Pintanya dengan suara dingin.
Yang di panggil langsung gemetaran tidak karuan. Dengan peluh yang mengucur deras. Apalagi mendengar Kaisar merubah panggilannya.
"Apa Kakak masih ada urusan dengan Kak Airish?" Denis yang menimpali, pasalnya ini sudah sore menjelang malam, apa pekerjaan Airish belum selesai?
"Hem." Gumaman singkat yang membuat Airish benar-benar tak bisa menelan ludahnya. Bagaimana? Dia harus apa? Sumpah demi apapun, Airish takut.
Akhinya Airish hanya bisa bergeming.
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku." Kaisar kembali bersuara. Membuat Airish cepat-cepat berdiri, dan meninggalkan Denis. Mengikuti langkah suaminya masuk ke dalam kamar.
Sesampainya di dalam sana gadis itu kembali tak berkutik, dengan kepala yang menunduk, memperhatikan lantai tanpa berniat untuk bicara.
Namun, dekat dengan posisinya, dia bisa melihat ponsel Kaisar tergeletak, remuk seperti telah dirusak secara sengaja. Benarkah lelaki ini marah? Tapi marah kenapa? Bahkan dia sendiri yang mengaku pada Denis bahwa dia bukanlah istrinya, melainkan hanya seorang pekerja.
Lalu apa yang bisa Airish jelaskan lagi pada lelaki bernama Denis itu, sudah pasti Denis akan lebih percaya pada kakaknya bukan?
"Kau hanya mau menjadi patung disitu, tanpa mengakui kesalahanmu?" Kaisar berucap dengan sorot mata yang masih sama, suasana hatinya mulai tidak kondusif dengan apa yang dilihatnya. Bahkan rahangnya mengeras dengan gigi yang saling bertautan.
Airish meneguk ludahnya, meremat kuat buku-buku jarinya sambil berpikir keras. Namun nihil, tak ada kata yang paling pas selain kata. "Maaf. Maafkan aku, Tuan."
Kaisar mendesah kecil, lalu mengambil rokok dari dalam saku jasnya. Menghirup dan menghembuskannya sesuka hati. Belum habis, dengan kasar ia membuang dan menginjaknya di atas lantai.
"Jadi begitu tingkahmu di luar sana? Saat aku tidak ada?" Cibir Kaisar kembali menyudutkan Airish. Satu tangannya memegang lemari, hingga berbunyi 'kratak'.
Airish mendongak, bagian yang dipegang Kaisar telah hancur. Dan hal itu semakin membuat lidah Airish menjadi kelu, dan tubuhnya membatu.
Tidak mampu menjelaskan.
"Jawab aku!!!" Bentak Kaisar.
"Tu, Tuan, bukan seperti itu, aku bisa jelaskan. Awalnya aku ingin mengaku, tapi kau sendiri yang bilang bahwa aku hanya seorang pekerja." Jawabnya terbata.
Mendengar itu, Kaisar berdecih lalu melangkah mendekati Airish, membuat gadis itu reflek mundur selangkah demi selangkah.
"Jadi kau menyalahkanku, bukankah kau yang mengajukan syarat untuk menyembunyikan status kita? Inikah tujuanmu? Ingin menggoda lelaki lain?" Sindir Kaisar dengan sarkas.
"Tuan, dia itu adik_"
Grep!
Ucapan Airish terhenti, saat Kaisar memegang bahunya, tidak terlalu kuat, tetapi cukup membuat Airish merasa kesakitan. Ia berusaha menahan, kalau tidak, ia yakin Kaisar akan semakin marah padanya.
Tidak ada pembelaan lagi, ini salahnya, ini memang salahnya.
"Dia memang adikku, tetapi ketika dia duduk di sampingmu, di mataku dia hanya lelaki lain. Kau mengerti maksudku?" Jelas Kaisar dengan suara yang menekan. Membuat aura di ruangan itu semakin mencekam.
Apa? Apa? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu? Apa sejenis cemburu begitu? Kenapa kau selalu bicara dengan penuh teka-teki.
"Kau mengerti?" Cetus Kaisar dengan kesabaran yang mulai menipis. Melihat Airish yang tak langsung menjawab perkataannya membuat dia kesal.
Dengan cepat, Airish mengangguk. Meski ia tidak tahu apa tujuan Kaisar berbicara seperti itu.
Hah cemburu? Sepertinya mustahil. Dia hanya tidak suka mainannya diambil orang lain. Ya hanya itu. Batin Airish yakin.
Akhirnya Kaisar bisa bernafas dengan lega, lalu tangan itu terlepas dari bahu Airish, berpindah membelai wajah cantik itu, dengan sekali dorongan, Airish sudah berlabuh diatas ranjang.
"Malam ini aku benar-benar tidak akan melepaskanmu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...