
"Chris!!!!!"
Dengan cepat Kaisar menarik tubuh lelaki itu untuk menjauh dari Airish. Kemarahannya memuncak begitu tahu sang adik akan memangsa gadis yang ia cintai.
Tak hanya Kaisar, Kibrit, Elena dan yang lainnya juga merasa tak percaya. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Chris?
Tubuh Chris terpental menabrak pepohonan, hingga pohon itu langsung tumbang. Belum sempat berdiri, Kaisar kembali menyerang, dia melesat dan dengan cepat mencekik leher Chris.
Membuat lelaki itu membulatkan matanya, ia terperangah menyadari Kaisar begitu cepat menemukannya, padahal ia sudah membawa Airish cukup jauh dari rumah.
"Apa yang akan kau lakukan, hah? Apa tujuanmu membawa istriku pergi!" pekik Kaisar dengan nafas yang terdengar memburu, emosinya langsung meluap-luap, dengan kilatan amarah yang memancar begitu jelas.
"Lepaskan aku!" ucap Chris terbata, dia merasa kesulitan untuk bicara, karena cengkraman di lehernya terasa begitu kuat.
Tidak ada tatapan ramah diantara keduanya. Kaisar dan Chris sama-sama melayangkan tatapan tajam, bak musuh yang hendak saling menyerang.
Elena dan Rose mendekati Airish yang ketakutan, gadis itu menolak ajakan ibu mertuanya untuk kembali ke rumah lebih dulu, dia ingin melihat semuanya, dia tidak mau ada yang ditutup-tutupi lagi.
Meksi itu adalah kenyataan pahit.
"Katakan, apa maksudmu membawanya pergi tanpa seizinku!!!" bentak Kaisar, cengkraman itu semakin terasa kuat, Chris mencoba untuk melepaskannya, tetapi tidak bisa.
Kaisar membawa tubuh itu melayang tinggi, akar hitam dalam tubuhnya mencuat, menandakan dia benar-benar marah. Apalagi Chris tak lekas menjawab pertanyaannya.
Lelaki itu membanting tubuh Chris ke atas tanah dengan begitu keras. Lalu menendangnya hingga Chris kembali menabrak pohon di sekitar.
"Kai, ingat! Dia adikmu," Kibrit mencoba menengahi.
Namun, usahanya sia-sia. Amarah Kaisar tidak bisa dihentikan, dia terus membabi-buta. Karena sekali diusik lelaki itu akan terus menyerang lawan tanpa belas kasihan.
Tak peduli, meski dia adalah saudara atau bukan. Yang jelas, siapa yang berani menyentuh miliknya, maka dia akan berakhir juga di tangannya.
Chris mencoba bangkit, dan secepat kilat Kaisar kembali mendekati Chris.
Namun, kali ini lelaki itu menghindar, di bawah langit yang terlihat menghitam, dua raga yang merebutkan satu wanita berdarah suci itu saling mengangkat bendera perang.
Nafas Chris tersengal-sengal, dia memegangi dadanya yang terasa nyeri, akibat hantaman yang Kaisar layangkan.
"Kau bertanya apa tujuanku? Tujuanku adalah sebuah keabadian. Sekarang giliran aku tanya, apa tujuanmu mendekatinya? Menjadikannya istri? Apa karena kau mencintainya? Atau kau juga menginginkan sesuatu yang sama seperti diriku? Jawab Kaisar, agar dia tahu apa tujuanmu yang sebenarnya!" papar Chris dengan suara sedikit terbata.
Mendengar itu, semua pasang mata yang ada di sana membulat sempurna. Mereka terperangah, apalagi Jack dan Rose yang tidak mengerti apa-apa.
Sedangkan Airish, dengan setia dia menanti jawaban Kaisar, air matanya menderas seolah tidak akan pernah habis. Dia menggigit bibir bawahnya kuat, dia tengah menyiapkan hatinya.
Hancur atau tidak! Hanya itu pilihannya.
Kaisar bergeming, dia meneguk ludahnya kasar, kemudian melirik ke arah Airish. Hatinya ikut teriris melihat gadis itu membalas tatapannya penuh luka, Kaisar mengepalkan tangannya kuat, emosinya berangsur menurun.
Dan kesempatan itu Chris gunakan untuk menyerang Kaisar.
Bugh!
Satu tendangan keras Kaisar dapatkan tepat di dadanya. Lelaki itu terbelalak lebar, dia menatap Chris dengan nyalang, Chris terlihat menyeringai.
"Kenapa? Kenapa kau tidak menjawabnya? Kau takut gadis itu tahu apa tujuanmu sebenarnya?" cibir Chris, kekuatannya untuk melawan Kaisar seolah bertambah, saat dia melihat kakak lelakinya terlihat gamang untuk menjawab kenyataan sebenarnya.
"Chris cukup!" pekik Kibrit dari bawah sana.
"Kenapa, Dad? Kau juga ingin melindungi putra sulungmu itu? Kau dan Mommy bahkan tahu apa tujuan Kaisar, kalian hanya pura-pura baik bukan?" Chris menatap kedua orang tuanya itu secara bergantian, meminta jawaban.
Dan yang mampu Kibrit dan Elena lakukan hanyalah diam.
Dada Airish semakin sesak, dia menggelengkan kepalanya merasa tak percaya. Jadi, semua mahkluk ini telah membohonginya.
Dengan kasar Airish melepaskan tangan Rose yang bertengger di bahunya. Dia menatap dengan penuh kecewa, apalagi pada lelaki yang mulai mengisi hatinya.
"Kalian penipu!" pekik Airish, dia menunjuk semua mahkluk berwajah pucat itu
Kemudian dia berbalik, hendak melangkah pergi, tetapi tangannya dicekal oleh Elena.
"Airish, Sayang."
Airish menepis cekalan itu, rasa kecewa di hatinya lebih besar, ketimbang rasa ibanya melihat Kaisar yang tampak tertunduk lemah sekarang.
"Jangan dekati aku! Kalian semua penipu! Kalian penipu!"
Tanpa ba bi bu lagi, Airish meninggalkan tempat itu. Dia berlari tanpa arah tujuan, dia tidak peduli ada binatang buas atau apapun di hutan ini, lebih baik dia mati.
Maafkan aku, Sweetie.