
Senjata itu menempel pada pelipis Jane. Begitu gadis itu tahu siapa pelakunya, dia langsung menatap tajam ke arah Airish. Nafasnya terdengar memburu, dia yakin Airish hanya menakut-nakutinya.
Airish hanya gadis lemah. Batin Jane.
Tak peduli pada adik tirinya itu, Jane meneruskan niat untuk membunuh Martin, namun secepat kilat terdengar suara pelatuk siap diluncurkan.
Jane memejamkan mata sejenak. Bayangan peluru itu menembus kepalanya terasa berkelebat.
"Aku bilang urungkan niatmu!" ketus Airish. Dia semakin menekan senjatanya. Dan Jane membeku.
Awalnya Airish kembali hanya ingin mengambil ponselnya yang tertinggal di atas sofa, tetapi tiba-tiba hatinya merasa was-was saat dia sudah di depan ruangan Martin.
Dengan perasaan itu, Airish mengambil pistol dari dalam tasnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat ada seseorang yang ingin mencoba membunuh ayahnya.
Airish yakin, dia tidak mungkin salah mengenali orang, gadis di depannya adalah kakak perempuannya.
Jane terlihat tersenyum miring, satu tangannya dengan cepat menangkis lengan Airish, tetapi bukannya berhasil, tangan Jane justru terkunci, karena gerakannya kalah cepat dengan Airish.
Airish menggiring tubuh ramping itu hingga menabrak dinding, meski tubuh Jane sedikit lebih tinggi darinya, tetapi itu tidak membuatnya kesulitan. Pelajaran yang ia dapat dari Leela benar-benar sedang ia praktekkan.
"Jangan kau pikir aku tidak mengenalimu," sorot mata Airish tak kalah menajam, sumpah demi apapun dia benar-benar sudah sangat muak dengan tingkah Jane.
Namun, bukannya takut, Jane justru terkekeh, dia mencoba melepaskan diri, tetapi Airish terus menahannya, dia menekan tubuh itu, hingga Jane benar-benar tidak bisa bergerak leluasa.
"Hah, ternyata ini yang diajarin badjingan itu sama lo? Lo diajarin buat ngelawan Kakak lo sendiri, iya?" pekik Jane keras seraya meronta.
Cuih, Airish meludah ke samping. Dia sangat jijik mendengar Jane menyebut dirinya sebagai kakak.
Kakak macam apa yang dia maksud?
"Di saat-saat seperti ini, kau baru menyebut dirimu sebagai kakak? Hah, omong kosong! Aku bukan adikmu," balas Airish dengan nafas yang terdengar semakin memburu.
Dia tengah menahan emosinya yang semakin meluap-luap. Naik hingga ke puncak ubun-ubun.
Jane tertawa dengan keras, dan terkesan meremehkan. "Baguslah, emang gue nggak pernah punya adik kaya lo, anak haram." Cibir Jane dengan suara yang mengejek.
Namun, semua itu tak membuat Airish merasa hina, dia sudah cukup bersyukur karena sang ibu telah melahirkannya ke dunia.
"Aku sudah terlalu nyaman dengan sebutan seperti itu, jadi jangan harap aku akan lemah lagi di depanmu," suara Airish terdengar menekan, membuktikan pada Jane bahwa dia benar-benar bukan Airish yang dulu.
Dia adalah dia yang sekarang.
Jane mendesah kecil. "Uh, kok gue jadi takut yah."
"Harusnya memang seperti itu, kali ini kau harus takut padaku, karena aku tidak akan segan-segan menarik pelatuk pistol ini agar menembus kepalamu yang kosong! Kepala yang selalu kau gunakan untuk merencanakan kejahatan. Kau tahu, pistol ini hanya ada dua di dunia ini, satu milikku, dan satu lagi milik suamiku, dan aku pastikan nyawamu akan melayang, hanya dengan satu kali tembakan."
Mendengar itu, Jane menggeram. Amarah dalam dadanya seketika berkobar.
"Kenapa? Kau mau marah? Kau memang benar-benar penjahat yang picik, Jane. Sepertinya kau bukan anak ayah yang sebenarnya. Entah darimana ibumu mendapat benih setan sepertimu," cibir Airish.
"Kurang ajar!"
Sekuat tenaga Jane menyentak tangan Airish, berhasil terlepas, gadis itu langsung menyerang Airish dengan serangan membabi-buta.
Tak tinggal diam, Airish menangkis semua serangan Jane, dan berakhir mencengkram kuat dagu gadis itu.
Airish mendorong kuat, hingga tubuh ramping itu kembali menabrak dinding.
Sedangkan di luar sana, Kaisar bergerak gelisah, dari aromanya, dia bisa mencium kehadiran manusia serigala di sekitarnya.
Kaisar semakin terlihat cemas, terlebih Airish tak kunjung datang, padahal sudah cukup lama gadis itu meminta izin untuk kembali ke ruangan sang ayah.
Dengan tergesa, Kaisar keluar dari dalam mobil, dan berlalu cepat dari sana, berniat untuk menyusul Airish.
Di ruangan rawat Martin.
Leher Jane terasa tercekik, dia memegangi tangan Airish yang semakin kuat mencengkramnya. Dada Jane terlihat naik turun, dengan nafas tersengal-sengal, karena pasokan oksigen yang bergulir dalam tubuhnya mulai tidak normal.
Dan tiba-tiba saja, ada sebuah bayangan hitam datang, berputar-putar mengitari tubuh Jane dan Airish. Membuat fokus Airish jadi teralihkan, sedangkan Jane mulai tersenyum lebar, gadis itu menyeringai setan.
Saat Airish sedikit lengah, Jane mendorong kuat tubuh Airish hingga tubuh itu tersungkur dan menabrak sofa.
Dan kesempatan itu, ia gunakan untuk kembali menyerang Martin, mata Airish terbelalak, dengan susah payah dia segera bangkit, tetapi bayangan hitam itu seolah menahan tubuhnya.
Terlihat sangat kontras, sepertinya mereka berdua telah bekerja sama.
Jane tersenyum lebar, dan mulai menekan bantal itu ke arah wajah Martin. Membuat Airish menggelengkan kepala, dia mencoba menggerakkan kakinya, tetapi tetap tidak bisa.
Bahkan bayangan hitam itu kini telah merubah wujudnya menjadi manusia.
Dan hal itu semakin membuat Airish terperangah. Tubuh Airish terkunci, sedangkan bunyi detak jantung Martin menghantui kepala Airish.
"Piiip" bunyi panjang itu membuat air mata Airish meleleh tak tertahankan. Tangis itu pecah, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bodoh, dia mengerti tanda apa itu.
"Jane come on," pekik Dewa, saat ia merasakan aura vampir sudah semakin dekat.
Tanpa ba bi bu, Dewa menarik tubuh Jane dan blash!
Brak!
Kaisar datang, bersamaan dengan Dewa serta Jane yang menghilang.
Tubuh Airish terkulai lemas, dan segera ditangkap oleh Kaisar. Sedangkan seorang dokter dan para perawat berdatangan, mereka semua mengerubungi tubuh Martin yang sudah terbujur kaku di atas pembaringan.
Setelah pemeriksaan, perlahan seluruh alat-alat medis yang tertancap di tubuh Martin dilepaskan.
Lelehan air mata Airish semakin menderas, saat sang dokter mengatakan, "Maaf Nona, tuan Martin sudah meninggal dunia, saya turut berdukacita,"
Deg!
Dunia Airish terasa runtuh, dia menggelengkan kepala, sementara tubuhnya semakin merosot dari rengkuhan Kaisar. Dia tidak percaya hari ini akan datang begitu cepat, Martin meninggalkan dirinya seorang diri di dunia ini.
"Sweetie." Kaisar membenamkan wajah gadis itu ke dalam dadanya, dia mendekap Airish erat.
"AYAH..." raung Airish dengan suara penuh duka, serta lelehan air mata yang mengalir deras semena-mena.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kemarin ada yang minta visual Dewa Aaron.
Menurut kalian, visual yang cocok buat dia yang mana?
Satu atau dua?