
Rose dan Elena sampai di rumah mereka lebih dulu, daripada yang lain. Keduanya membawa darah segar, hasil berburu mereka malam ini.
Di ambang pintu, Elena sudah bisa melihat tubuh tegap Kaisar yang duduk di atas sofa, sedangkan sang suami, sibuk dengan aktivitasnya.
Keduanya tengah asyik mengobrol.
"Kai." Panggil Elena girang, seraya mendekat lengkap dengan senyum mengembang, senang dengan kedatangan sang putra.
"Mommy." Kaisar bangkit, lalu memeluk wanita itu, memberinya kecupan singkat di pipi kanan dan kiri secara bergantian.
"Kak, aku juga mau." Rose ikut menimpali, merengek dan merentangkan kedua tangannya minta dipeluk.
Gadis satu ini memang bisa bersikap lebih manja dengan Kakaknya.
Namun, bukannya memeluk, Kaisar justru menyentil dahi Rose. Hingga gadis itu mengaduh.
"Damn." Makinya, lalu memukul bahu Kaisar dengan keras, dan Kaisar terkekeh.
"Oh iya, kemana Jack dan Chris?" Tanya Kaisar, kepalanya celingukan ke arah pintu. Namun, kedua pemuda itu belum datang juga.
"Mereka masih bermain, Kai." Timpal Elena, setelah mengecup pipi Kibrit, dia lekas menyiapkan darah segar itu untuk Kaisar.
"Minumlah, Mommy tahu tubuhmu butuh asupan gizi yang lebih banyak." Elena menyerahkan satu kantung darah segar itu.
Paham, pastilah Kaisar kekurangan makanan, demi menjaga identitasnya di depan para manusia.
"Thank you, Mom." Balas Kaisar seraya menerima uluran itu.
"Apa dadamu masih sering sakit, Kak?" Tanya Rose, mendudukkan diri di samping lelaki itu. Dan Kaisar hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Kau terlalu menghayati peranmu. Sampai-sampai kau harus banyak-banyak makan nasi dan telur mata sapi." Cibir Rose dengan wajahnya yang terlihat meremehkan.
Namun, karena mendengar hal itu. Kaisar justru teringat dengan Airish. Wajah polos gadis itu, ekspresi ketakutannya, tubuhnya, aromanya, hingga tanpa sadar bibir Kaisar tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman.
"Hei, kenapa malah tersenyum-senyum seperti itu?" Sentak Rose, karena untuk pertama kalinya, dia mendapati ekspresi wajah Kaisar yang sangat sumringah.
Sedangkan di ujung sana, Kibrit terlihat menahan tawanya. Seolah tahu, apa yang sedang dipikirkan sang putra.
Cih, jatuh cinta?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah dua minggu Airish terkurung terus menerus di rumah utama. Dan selama itu pula, dia tidak bertemu dengan suaminya. Entah kenapa, ketiadaan lelaki itu justru membuat sudut hati Airish merasa kosong, hampa.
Seperti ada sesuatu yang hilang. Hingga gadis itu terus memikirkan Kaisar.
Cih, untuk apa aku memikirkannya. Belum tentu dia juga memikirkanku. Tidak Airish tidak, semakin lama dia di luar kota, malah semakin bagus. Jangan terperdaya oleh hatimu, kamu tidak boleh lemah, apalagi sampai jatuh cinta pada bedebah gila itu. Bisiknya pada diri sendiri.
Selagi Kaisar tidak pernah membahas tentang perasaan, maka hubungan mereka masih abu-abu, atau lebih tepatnya tidak ada kejelasan. Meski keduanya terikat tali pernikahan.
Merasa jenuh hanya berada di dalam kamar, akhirnya Airish memutuskan untuk keluar. Dia memilih ke arah dapur, melihat para pelayan yang tengah menyiapkan makan malam.
"Nona, apa anda membutuhkan sesuatu?" Tanya seorang pelayan wanita, yang melihat Airish berdiri di ambang pintu.
Di tangannya ada sebuah nampan, berisi jagung yang sudah diiris siap untuk dimasak.
Gadis itu mengulum senyum, senyum manis yang terasa menyejukkan mata, bagi siapa saja yang melihatnya.
"Aku mau bantu-bantu, Bu. Boleh tidak?" Ucap Airish dengan sumringah, melihat para pelayan yang sibuk ternyata membuat ia bersemangat kembali.
"Nona, apa tidak sebaiknya Nona menunggu di kamar saja, ini sudah menjadi tugas kami." Terang sang pelayan, ia tidak mungkin membiarkan Nona muda di rumah ini memegang alat-alat dapur.
Kalau Tuannya tahu, pastilah dia yang terkena imbasnya.
Airish hendak menjawab, namun Ibu Oh lebih dulu menyela. "Silahkan, Nona. Masaklah sesuka hatimu."
Mendengar itu, Airish melirik pelayan wanita itu dan Ibu Oh secara bergantian.
"Benar, boleh?" Tanya Airish meyakinkan dengan mata yang berbinar.
Dan ibu Oh mengangguk dengan senyum yang mengembang. Wanita paruh baya itu tahu kalau sang Nona merasa bosan, dengan senang hati dia memakaikan apron ke tubuh Airish.
Sedangkan gadis itu menguncir rambutnya tinggi-tinggi. Membuat leher jenjang nan putih itu terekspos bebas.
Dengan tawa riang, Airish mengaduk-ngaduk makanan yang berada di atas wajan. Ibu Oh yang meracik, sedangkan dia hanya membantu memasaknya saja.
Saking asyiknya, dia tidak menyadari, kalau sudah tidak siapa-siapa disana. Semua orang menghilang, mundur pelan-pelan, seiring tangan besar itu memeluk Airish dari arah belakang.
Airish berjengit kaget, tersentak sampai menjatuhkan spatula. Saat ia merasakan pinggangnya dipeluk oleh seseorang.
Darah dalam tubuhnya berdesir, dia tidak akan lupa aroma ini, aroma tubuh Kaisar.
Seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Rasa itu begitu menggelitik, hingga membuat gadis itu mengulum senyum, senang dengan kehadiran suaminya.
Cih, kenapa aku sesenang ini?
Dibalik tubuh tegap itu, Airish menggigit bibir bawahnya.
Gairahnya semakin membuncang hebat, kala benda kenyal itu sudah menyapa lehernya, Airish bergerak merasakan geli. Tetapi sebisa mungkin dia menahan untuk tidak mendesaah.
"Tuan, kau sudah pulang?" Tanya Airish berbasa-basi.
"Hem." Kaisar masih menikmati sesuatu yang membuatnya mabuk. Seperti sudah sangat lama dia tidak merasakan ini, hingga dia mengangkat tubuh Airish.
Lalu mendudukkannya di meja makan yang ada di dapur. Tatapan mereka bertemu, namun secepat kilat Airish memutus pandangan mata itu. Dia menunduk.
"Aku harus mematikan kompor dulu, Tuan." Airish mencoba untuk turun, dan langsung ditahan oleh Kaisar.
Lelaki itu sendiri yang mematikan kompor. Lalu beralih kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Airish. Memeluk erat tubuh ramping itu.
Kaisar meletakkan kepalanya diantara ceruk leher Airish, dan yang mampu gadis itu lakukan hanyalah diam.
Tubuhnya selalu membatu jika menyangkut tentang Kaisar. Padahal dia selalu berusaha untuk menolak, namun entah mantra apa yang mengikat hatinya, hingga dia tidak bisa berkata tidak.
"Apa kau merindukanku, Sweetie?" Tanya Kaisar, semakin melesak dan menghirup aroma tubuh Airish dalam-dalam. Aroma yang sangat ia rindukan.
"Aku_" Ditanya seperti itu Airish bingung untuk menjawab, satu sisi takut salah, satu sisi dia tidak bisa membohongi hatinya, dia rindu Kaisar.
"Aku merindukanmu, Sweetie."
Deg!
Hanya dengan mendengar kalimat itu. Jantung Airish langsung berdisko ria, berdetak lebih kencang seperti ingin loncat dari sarangnya.
Bibir tipis itu kelu untuk berkata-kata, sedangkan wajah itu tak bisa bohong, dia merona bahagia.
Airish, jangan tertipu! Seketika kesadarannya mengambil alih kembali.
Dan Kaisar melepas pelukannya, dia memandang Airish yang sedari tadi hanya bergeming. Tidak menjawab perkataannya atau membalas perlakuannya.
"Apa yang kau pikirkan? Kau tidak senang aku pulang?" Cetus Kaisar dengan segala pemikirannya.
Dengan cepat Airish menggeleng, situasi akan berubah siaga satu kalau sampai suasana hati Kaisar berubah. "Tuan bukan seperti itu maksudku."
Apa dia ingin aku menjawab aku juga merindukanmu?
"Lalu apa? Tatap wajahku ketika bicara!" Cetus Kaisar, membuat Airish sedikit demi sedikit mengangkat kepalanya.
Lagi, netra itu saling bersitatap. Tak dipungkiri, ada getaran yang mendebarkan saat dia melihat wajah itu kembali.
Wajah tegas dengan mata elang, rahang keras dengan bibir tipis yang menggoda.
Lama semakin lama, nyatanya Airish tidak mampu lagi untuk menahannya. Ia merindukan suaminya, aroma tubuhnya, cumbuannya, semuanya, ia rindu semua yang ada pada diri Kaisar.
"Aku juga merindukanmu, Tuan," ucap Airish tanpa sadar. Bagai terhipnotis, dia sendiri yang menangkup wajah Kaisar, mengikis jarak, dan pelan-pelan mempertemukan bibir mereka berdua.
Dia menutup matanya.
Sedangkan Kaisar tersenyum disela-sela ciuman itu, meskipun tampak kaku, Kaisar tetap menikmatinya, permainan Airish yang ala kadarnya, tetapi terasa istimewa.
"Kau yang memulainya, Sweetie. Jangan harap aku akan berhenti."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kayak gini nggak ngaku cintrong? Kira-kira minta diapain?