My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Siapa kau? Siapa aku?



Krash!


Semua orang terperangah, apalagi Joni yang berdiri tepat di belakang Kaisar. Lelaki dengan wajah kesal itu mengumpat, lalu melangkah lebar ke arah Airish dan juga Denis.


Tap!


Saat Airish berputar, Kaisar menangkap pergelangan tangan gadis itu, menariknya hingga kini tubuh Airish berhasil masuk dalam dekapan Kaisar.


Mata gadis itu membulat sempurna, wajahnya terlihat pias saat tahu siapa yang berhasil menangkap tubuhnya.


Kaisar tersenyum smirk.


Kenapa dia ada disini? Bukankah selama ini dia tidak pernah datang?


"Tuan," Denis memanggil dan hendak melangkah ke arah Kaisar. Dia memanggil seperti itu, karena identitasnya sebagai adik Kaisar, sama sekali tidak diketahui oleh siapapun.


Joni menahan, dia memejamkan mata sebagai isyarat, bahwa Kaisar sedang tidak baik-baik saja.


Namun, tak dipungkiri, meskipun ia senang Kaisar akhirnya memiliki tambatan hati, ia juga takut, takut Kaisar melukai gadis yang ia cintai.


Pergerakan Airish terasa kaku, sedangkan Kaisar terus membawa tubuh itu menari, ke kanan dan ke kiri.


Denis dengan segala pemikirannya hanya bergeming, menyaksikan tindakan Kakak lelakinya itu. Dia sama sekali tidak bisa memprotes.


"Ada apa dengan wajahmu? Kau tidak suka aku datang? Apa aku mengganggu waktumu bersenang-senang dengan selingkuhanmu?" Bisik Kaisar tepat di telinga Airish.


Bahkan benda kenyal itu terasa menempel, hingga menyisakan rasa geli.


Airish meneguk ludahnya kasar, ia benar-benar seperti seorang yang kedapatan sedang berselingkuh, meski kenyataannya tidak begitu.


Kini, keduanya menjadi pusat perhatian, dan hal itu semakin membuat Airish merasa tak nyaman, pastilah mereka menganggap dirinya yang lebih dulu menggoda Kaisar.


Bagaimana pun, suaminya itu bukanlah orang sembarangan.


Beberapa orang rela sembunyi-sembunyi, demi mengambil gambar pasangan tersebut. Namun, secepat kilat Joni memerintahkan, bahwa tidak ada yang boleh mengambil gambar apapun.


Dia mengancam kalau ada yang berani melakukan hal itu, maka dia tidak akan segan-segan memasukkan orang tersebut ke dalam penjara.


Lebih tepatnya, markas besar milik Kaisar.


Semua orang patuh, dan setelah Joni mengatakan itu, pesta berlanjut meriah, seolah tidak terjadi apa-apa.


Di tempatnya, Jane mengumpat kesal, ia mengepalkan tangannya kuat, melihat adegan itu, ternyata benar apa kata orang suruhannya, Airish ada dalam lindungan lelaki yang berpengaruh.


Kaisar memeluk erat pinggang Airish, ia semakin merapatkan tubuhnya, dan menyandarkan kepala di bahu gadis itu.


Seolah tengah mendefinisikan ke semua orang, bahwa Airish adalah miliknya, wanitanya.


"Tu, Tuan." Airish mencoba untuk melepaskan diri, dia tahu dia salah tapi tidak seperti ini. Dia malu, sangat malu.


"Apa? Kau ingin menolakku? Padahal aku ini suamimu, bukankah seharusnya kau berdansa denganku? Sepertinya selama ini aku terlalu baik padamu yah, sampai kau membangkang seperti ini?" Cetus Kaisar dingin.


Gadis itu semakin gemetaran. Hatinya terus merutuk, habislah sudah riwayatnya. Sepertinya lelaki ini benar-benar marah.


"Tuan tapi aku bisa menjelaskannya,"


"Apa? Apa yang ingin kau jelaskan? Hubunganmu dengannya? Apa kalian sudah melakukan sesuatu di belakangku?" Sebelum Airish menjawab, Kaisar membawa tubuh Airish menjauh dari keramaian, kini keduanya masuk ke sebuah ruangan.


Ruangan yang nampak temaram, dengan lampu kuning yang mulai meredup. Dada Airish bergemuruh hebat, apalagi saat ia melihat kilatan amarah di mata lelaki itu.


Kaisar mendudukkan Airish di sebuah meja tenis. Karena kini, keduanya berada di ruangan olahraga. Kaisar menghimpit tubuh ramping itu, mengunci hingga Airish tak mampu untuk lari kemana-mana.


Amarah itu masih memuncak, tetapi ia berusaha keras untuk mengendalikannya, bisa-bisa gedung ini hancur lebur, jika amarah itu benar-benar meledak.


"Apa yang ingin kau jelaskan, Sweetie? Sejauh apa kau mengenal lelaki itu, hem?" Tanya Kaisar seraya membelai lembut pipi Airish, Merayap hingga bermuara di bibir tipis gadis itu.


Sedangkan Airish mencengkram kuat ujung dressnya, dari tatapannya saja, ia bisa melihat bahwa malam ini Kaisar tengah memendam kekesalan terhadap dirinya.


Apa yang kau pikirkan Airish, dia itu bukan lelaki yang mencintaimu!


"Tuan, aku dan Denis tidak ada hubungan apapun, aku baru mengenalnya juga belum lama ini," jelas Airish dengan air mata yang hampir tumpah.


Sebenarnya apa yang dia inginkan sih? Tolonglah jangan berputar-putar, aku pusing.


"Tuan, bukan seperti itu maksudku. Walau bagaimanapun kan dia adikmu, itu artinya dia adik ipar_"


"Aku sudah pernah mengatakannya, bila perlu aku ingatkan, aku akan memberitahumu sekali lagi, bahwa aku akan menganggapnya orang lain, ketika dia ada di dekatmu! Kalau saja dia bukan adikku, aku pasti sudah mematahkan lehernya." Suara Kaisar menekan, dengan tatapan yang sama sekali belum melunak.


Glek!


Nafas Airish semakin sesak mendengar itu semua, tetapi ia sama sekali belum mengerti, kenapa Kaisar melakukan ini.


Rasa penasaran itu semakin memuncak, hingga akhirnya bibir itu buka suara.


"Tapi apa alasan kau melakukan ini? Kenapa kau sekesal ini? Apa kau cemburu?" Cetus Airish tanpa sadar, saking geramnya ia mencari alasan dibalik sikap posesif Kaisar.


Dia seolah memiliki keberanian lebih, hingga detik selanjutnya, ia menunduk takut, karena tatapan Kaisar semakin menungkik tajam.


Kaisar mengangkat dagu Airish, dan tatapan mereka langsung bertemu, wajah Kaisar tergambar marah, tetapi apa alasannya?


"Kau bertanya seperti itu, apa karena kau lupa statusmu?" Suara Kaisar memelan, tetapi terasa semakin dingin. Menusuk dada Airish.


"Siapa kau?"


Ditanya seperti itu, bibir Airish bergetar. "Istrimu." Jawabnya terbata.


"Siapa aku?"


"Su, suamiku," balasnya lagi.


"Kau ingin tahu rasa apa yang sedang menghinggapiku sekarang? Kau mau mencobanya? Kalau kau mau, ikut aku! Lihat, suamimu ini bercinta dengan wanita lain, karena hal itu sangat mudah bagiku, aku bisa menghabiskan beberapa dari mereka dalam satu malam, kau masih ingat bukan bagaimana perkasanya aku di atas ranjang?" Rancau Kaisar dengan suaranya yang menekan, menahan geram.


Nafas Airish memburu, mendengar itu entah kenapa hatinya sakit. Hingga lelehan air mata langsung membanjiri pipi mulusnya.


Menetes, hingga ke tangan Kaisar yang masih mencengkram dagunya.


Melihat Airish yang menangis, Kaisar melepaskan cengkramannya. Dia mendesah pelan, dan malah merasa bersalah.


"Malam ini ikut aku ke pulau," ucap Kaisar dengan tangan yang bertolak pinggang.


Dan Airish hanya bergeming, mencoba menguasai hatinya. Kenapa? Kenapa dia malah menangis mendengar ucapan kasar Kaisar?


Masih merasa geram, Kaisar mengepalkan tangannya kuat. "Tidak mau? Benar tidak mau ikut denganku?"


Airish semakin menangis, tubuhnya seolah tidak bisa diajak berkontribusi. Ia ingin menolak, karena ia takut Kaisar akan berlaku lebih kasar daripada malam itu, tetapi dengan mengatakan itupun ia rasa percuma.


Kaisar memiliki seribu satu cara untuk menjeratnya.


Hingga akhirnya kesabaran itu habis, Kaisar menyerang tubuh itu, awalnya Airish ingin menjerit, tetapi ternyata Kaisar bermain lembut di leher jenjangnya.


Dia kenapa sebenarnya?


Isak itu berganti lenguhan, ia mencengkram erat bahu Kaisar, namun tak lama dari itu, Kaisar berhenti, dia menarik diri dari tubuh Airish, dan kembali berdiri tegak.


"Masih ingin disini, dengan keadaan seperti itu?" Tanya Kaisar.


Airish melirik bahunya, bahu yang sudah dipenuhi tanda merah mahakarya suaminya. Dengan cepat dia menggeleng. "Aku akan ikut denganmu."


Mendengar itu, Kaisar menarik sudut bibirnya keatas, lalu mengelus puncak kepala Airish. "Pastikan ini adalah kemauanmu sendiri."


Sekali lagi, Airish mengangguk, dan Kaisar langsung memeluk tubuh ramping itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Si ganteng yang bikin huru-hara 🤧🤧🤧


Kalo Kak Ai nggak mau, sama othor ajalah Nis, othor juga anu kok🤣🤣


Salam anu👑