
Kaisar meregangkan pelukannya dan memberi jarak, tanpa melepaskan Airish. Dia ingin melihat wajah gadis itu, satu tangan Kaisar menarik pelan dagu Airish, hingga tatapan mereka bertemu.
Kaisar mengulum senyum, dia sangat bahagia mendengar pengakuan Airish. Apalagi gadis itu mau percaya padanya, sumpah demi apapun, kini tujuannya bukan lagi darah suci, melainkan menjaga gadis itu, agar tetap berada di sisinya.
"Aku ingin mendengarnya sekali lagi, Sweetie." Ucap Kaisar dengan suaranya yang terdengar mendayu. Dia ingin Airish mengungkapkan lagi isi hatinya.
Kalau bisa dia ingin terus mendengarnya setiap hari.
Mata Airish berkaca-kaca, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Kedua tangan Airish melingkar penuh di leher Kaisar. "Aku mencintaimu, Sayang."
Sekali lagi, Kaisar tersenyum lebar. Tanpa ba bi bu lelaki itu langsung menyatukan bibir mereka. Menyesap bibir Airish dengan penuh kelembutan, dan menahan tengkuk gadis itu.
Segala gemuruh di dadanya seolah runtuh, berganti gelora asmara yang membara, tersulut api gairah.
Tak tinggal diam, Airish pun melakukan hal yang sama. Dia membalas setiap gerakan Kaisar di atas bibirnya. Hatinya tak bisa bohong, dia tetap menginginkan Kaisar, meski lelaki itu telah membuatnya kecewa.
Namun, setelah melihat kesungguhan lelaki itu, Airish kembali percaya, bahwa ucapan Kaisar bukan hanya sekedar omong kosong belaka.
Kaisar mencintainya, dan dia mencintai Kaisar. Mereka akan hidup bersama, sampai nyawa telah di ujung usia.
Kaisar mengangkat tubuh Airish, dan pagutan itu masih belum terlepas, terkesan semakin dalam dengan belitan lidah yang bertarung di dalam rongga mulut Airish.
Keduanya sesekali tersenyum dalam pagutan tersebut, sedangkan suara decap mengiringi syahdunya permainan yang mereka ciptakan.
Rose yang melihat itu ikut tersenyum, dia tidak tahu masalah apa yang mereka hadapi, intinya sekarang, Kaisar dan Airish telah kembali, saling mencintai dan menyayangi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kaisar dan Airish kembali ke rumah, semua orang yang ada di ruang tamu bangkit, menyambut kedatangan mereka. Tidak ada Chris di sana, karena dia telah mendapatkan hukuman dari Kibrit berupa kurungan di penjara bawah tanah, sebagai penghapus dosa.
"Kai," panggil Kibrit.
Sedangkan Airish langsung mendapat pelukan dari Elena dan juga Rose, kedua wanita itu terlihat begitu menyayangi Airish. Membuat Airish merasa nyaman saat di dekat mereka.
"Aku tidak ingin menemuinya," ucap Kaisar dingin. Bahkan dia melengoskan wajah, dan tidak ingin menyebut nama Chris, dia terlalu kesal pada adiknya itu.
"Apa malam ini kalian akan menginap?" tanya Elena, mengalihkan pembicaraan.
Kaisar mengulurkan tangannya ke arah Airish, gadis itu mengulum senyum dan menerima uluran itu, Kaisar langsung memeluk tubuh Airish dan mengecupi puncak kepala gadis itu.
"Kami akan pulang, Mom. Perasaanku tidak enak, aku terus memikirkan kedua adik manusiaku."
Benar, setelah selesai urusan dengan Airish. Entah kenapa Kaisar terus memikirkan Denis dan juga Sofia. Seperti ada sesuatu yang terjadi pada kedua bocah itu, Kaisar ingin pulang secepatnya, untuk memastikan.
"Baiklah, mungkin lain kali." Elena menepuk bahu Kaisar beberapa kali. Lalu mengecup pipi Kaisar dan juga Airish, tanda perpisahan.
Kaisar mengangguk.
Semua orang ikut keluar untuk melepas kepergian Kaisar dan juga Airish. Mereka kompak melambai, sedangkan Kaisar langsung membawa tubuh Airish terbang. Menyusuri hutan, dengan uluman senyum dan hati yang berbunga.
"Aku benar-benar mencintaimu, Sweetie," ungkap Kaisar.
Airish menoleh, mengusap pipi Kaisar dengan sayang.
"Iya, Sayang. Aku percaya."
Tak berapa lama kemudian, Airish dan Kaisar berhasil keluar dari hutan. Lelaki itu membawa Airish ke markas besarnya. Di sana mereka disambut begitu hormat, dan Kaisar langsung menanyakan tentang asisten Joni.
Belum sempat pertanyaan itu jawab, ponsel Kaisar bergetar, tanda ia baru mendapatkan signal. Dengan cepat dia merogoh benda pipih itu dari dalam saku jas, dan menampilkan sebuah nomor tak dikenal.
Kaisar mengangkat panggilan itu dengan cepat.
"Cepat datang ke alamat yang aku kirim, atau adikmu akan mati," ucap seseorang di seberang sana, lalu panggilan tiba-tiba terputus.
Mendengar itu, tangan Kaisar langsung mengepal kuat, dengan rahangnya yang mengeras.
"Ck, sialan!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...