
Kediaman Dewa Aaron.
Malam itu, Jane dan Dewa baru saja datang. Mereka benar-benar merasa puas, karena hari ini, rencana yang mereka jalankan berjalan dengan lancar.
Dengan saling terkekeh, keduanya masuk ke dalam kamar masing-masing, kecupan singkat di pipi, menjadi tanda perpisahan mereka malam ini.
Jane sudah tahu siapa Dewa, dan dia sama sekali tidak peduli dengan itu, dia justru merasa semakin beruntung karena bertemu manusia serigala seperti Dewa. Karena dengan hal itu, akan lebih mudah untuk membuat Airish menderita.
Namun, tidak dengan ibunya, yang Fenita tahu, lelaki itu hanyalah manusia biasa seperti dirinya.
Lelaki yang akan membantu sang putri dan juga dirinya, tapi entah kenapa dia terus menerus dirundung gelisah. Hatinya nampak tak tenang, entah kenapa dia merasa ada sesuatu yang tidak menyenangkan.
Dia sudah bolak-balik ke kamar Jane sebanyak dua kali, tetapi hasilnya sama, lagi-lagi gadis itu belum juga pulang.
Dan akhirnya wanita paruh baya itu kembali memutuskan untuk mengetuk pintu kamar anak semata wayangnya. Jane yang hendak membersihkan diri berdecak keras, merasa aktivitasnya tergganggu.
Dengan kasar dia membuka pintu, dan seperti dugaannya, dia mendapati sang ibu dengan raut wajahnya yang selalu terlihat resah.
"Ada apa sih, Bu?" cetus Jane.
"Jane, kamu habis kemana? Apa kamu tahu kabar ayahmu?" tanya Fenita dengan wajah pias, walau bagaimanapun rasa cintanya pada Martin tetaplah besar. Pengkhianatan itu memang terasa begitu membekas, tetapi lelaki itu selalu berusaha memperbaikinya.
Kalau saja dia tidak memikirkan masa depan Jane, mungkin dia sudah meminta pisah pada Martin, sejak lelaki itu membawa seorang bayi mungil yang bukan darah dagingnya, masuk ke dalam rumah.
"Ayah sudah mati," ketus Jane dengan sorot matanya yang menajam, seolah jengah membahas lelaki tua itu.
"Jane, jangan bercanda!" pekik Fenita dengan bola mata yang membulat sempurna.
Mendengar pekikan itu, Jane menatap Fenita, kedua tangannya berlipat di dada, dengan deru nafas yang bergemuruh.
"Aku tidak bercanda, Bu. Ayah memang sudah mati, tadi aku habis ke rumah sakit untuk menjenguknya, tetapi ternyata dia sudah di kamar mayat," jelas Jane penuh penekanan.
Fenita terlihat menutup mulutnya dengan kedua tangan, dia menggeleng merasa tak percaya. "Kamu tidak membohongi Ibu kan?" Tiba-tiba air matanya meleleh, membasahi pipi yang sudah sedikit mengendur itu.
Jane mendengus kesal.
"Untuk apa? Kalau ibu tidak percaya, datang saja ke kuburannya, Ayah sudah menyusul wanita sundal itu ke neraka," cetusnya menggebu-gebu, sumpah demi apapun, dia muak dengan sang ibu yang selalu membahas Martin.
Fenita memegang kedua bahu Jane, lalu mengguncangnya.
"Jane, sebenci itukah kamu pada Martin?" tanyanya.
Jane menepis kedua tangan Fenita, emosinya terpancing, meletup gara-gara sang ibu yang terus memojokkannya.
"Benci? Sangat, aku sangat membencinya, sejak dia membawa Airish. Aku bahkan menyesal karena terlahir menjadi benihnya. Lelaki menjijikkan!" cibir Jane sarkas.
"Aku tidak peduli!"
Dan duarrrrr!!!
Tiba-tiba suara ledakan terdengar memekik telinga, guncangannya dahsyat dan begitu terasa, menggetarkan rumah dan seisinya. Membuat semua orang yang ada di dalam, membludak keluar secara bersamaan.
Keadaan menjadi siaga satu, saat kobaran api menyala begitu besar dari arah gudang persenjataan milik Dewa.
Semua orang berbondong-bondong menyelamatkan diri, dan satu diantara mereka menyusul sang tuan untuk melaporkan kejadian ini.
Dewa yang hendak berlalu ke kamar mandi menjadi urung, mendengar bunyi ledakan itu dia langsung menarik kenop pintu, dan berlari dengan tergesa menuruni anak tangga.
Di bawah sana, anak buahnya sama cemasnya seperti dirinya.
"Tuan, gudang persenjataan kebakaran," jelasnya sambil berjalan, mengimbangi langkah Dewa yang hendak mengecek situasi.
Wajahnya nampak pias, dengan gurat ketakutan, dia hafal betul bagaimana murkanya sang Tuan.
Mendengar itu, kaki Dewa mendadak mandek, matanya langsung memicing tajam. "Bagaimana bisa?" cetusnya.
"Entahlah, Tuan. Sebelum kau pulang semuanya aman, dan ledakan itu terjadi begitu saja," jawab lelaki itu apa adanya.
Rahang Dewa mengeras, dia mengepalkan tangannya kuat, dengan gigi yang saling bertautan. Raut bengis itu sangat kentara, dan dengan kesal dia meninju udara di sekitarnya. "Kurang ajar!" umpatnya.
Dewa segera berlari ke arah gudang tersebut. Sesampainya di sana, dia bisa melihat, kobaran api yang menyala begitu hebat.
Semua orang mencoba memadamkan api itu, sedangkan dia mulai memasang kuda-kuda, Dewa memejamkan matanya seraya mengucapkan sebuah mantra.
Mantra yang menguras seluruh energinya. Keringat dingin mulai bermunculan, wajah Dewa terlihat sangat serius, dengan dahi yang sesekali mengernyit.
Hingga akhirnya, rintik-rintik air hujan mulai turun menderas tepat di kepala Dewa dan sekitarnya.
Semakin menderas, hingga dalam sekejap api itu pun padam, meski gudang senjatanya tak bisa lagi terselamatkan, semua yang ada di dalam sana ludes dibabat habis oleh si jago merah.
"Kau bertindak lebih cepat ternyata, tuan Kaisar. Aku yakin ini perbuatanmu, entah bagaimana caranya, aku akan mencari tahu itu semua!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vote terbanyak untuk visual Dewa Aaron yah🙏