My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Menyelamatkan Denis dan Sofia (2)



Dewa menyeringai penuh, dia begitu senang karena akhirnya jati diri Kaisar telah terbongkar. Dia merasa di atas awan, karena yakin, adik manusia vampir itu akan ketakutan, dan tidak akan lagi menerima Kaisar.


Kaisar menatap nyalang. Dengan nafas yang memburu, serta gejolak amarah yang bergemuruh, dia tidak segan lagi untuk membalas perbuatan Dewa.


Wushhh!!!


Kaisar melesat dan gerakan cepat dia memberikan tendangan keras pada manusia serigala itu. Hingga Dewa terpelanting ke belakang, tetapi dia masih bisa menahan tubuhnya, dia memutar lalu mencengkram kuat pijakannya.


Tubuhnya mengosek, hingga atap gedung itu terlihat merungkah karena kuku tajam Dewa. Serigala hitam itu mengangkat kepalanya, netranya memerah, dengan dengusan keras.


Tak lama kemudian, perkelahian kembali terjadi, mereka saling menyerang satu sama lain. Dengan mengerahkan seluruh tenaga.


Sedangkan di lantai yang lain, Airish dan Joni masih mengendap-endap, dengan pistol yang tak berhenti melesatkan timah panas, karena sepertinya Dewa tak main-main dalam membawa banyak pengawal.


"Kita harus waspada!" ucap salah satu pemimpin pengawal tersebut, dia membagi tim untuk berpencar.


"Pastikan mereka semua mati!" Pekiknya.


"Baik, Bos." jawab mereka kompak.


Mereka melangkah, dan menyelinap ke tempat-tempat yang sekiranya bisa menjadi persembunyian yang aman.


Namun, tanpa mereka ketahui, sudah ada malaikat pencabut nyawa yang terus mengawasi.


Dor! Dor!


Airish menarik pelatuk, begitu dua pengawal itu keluar dan melangkah melewatinya. Joni mengulum senyum melihat kerja Airish, dalam hatinya merasa bersyukur karena pelatihan yang Kaisar berikan tidak sia-sia.


"Hei, disana ada orang!" Pekik pemimpin yang ada disana. Seketika mereka berlari, dengan mengangkat senjata mereka masing-masing.


Dor! Dor! Dor!


Beberapa dari mereka membalas tembakan Airish, asisten Joni terlihat terkejut, dia ikut menembak seraya menarik tubuh Airish untuk bersembunyi, menghalau peluru.


Namun, Airish justru terkekeh, lalu tubuh langsingnya melompat ke dinding, dengan gerakan gesit Airish merenteti tempat pengawal itu menyelinap.


Seketika semua tubuh itu langsung ambruk, karena tembakan yang Airish berikan tepat mengenai kepala mereka, hingga kepala itu berlubang.


Lagi-lagi Joni berdecak kagum, dia mengacungkan jempol.


"Bagaimana asisten Joni? Apa aku bisa menjadi partner yang baik untukmu?"


Joni mengangguk mantap. "Of course, Mrs Hadev."


Kemudian keduanya kembali melangkah hati-hati, dengan asisten Joni yang memimpin di depan, untuk menyusuri gedung tersebut, mencari keberadaan Denis dan Sofia.


Jane mulai panik, begitu banyak suara letusan senjata saling bersahut-sahutan dari arah luar. Sementara Denis menarik kedua sudut bibirnya ke atas, yakin bahwa sang kakak telah datang untuk menyelamatkannya.


"Habislah riwayatmu!" Cibir Denis.


Mendengar itu, Jane langsung berdecih, dia langsung memukul mulut Denis dengan kencang. "Jaga bicaramu! Atau kau akan tahu akibatnya."


Denis mendengus, kulitnya terasa panas karena tamparan Jane. Dia akhirnya bergeming, karena teringat akan alat pemicu yang ada di tangan Jane. Sementara dalam hatinya terus berdoa, agar Kaisar tidak terlambat menyelamatkan Sofia.


Tiba-tiba brak!!!


Pintu ruangan itu hancur oleh tendangan seseorang, membuat Jane dan Denis kompak menoleh, Denis tersenyum senang. Sedangkan Jane terlihat terperangah.


Kemana semua pengawal yang berjaga? Kenapa sebanyak itu, tidak ada satupun yang menghadang seorang lelaki yang kini menodongkan senjatanya ke arah Jane.


"Menyerahlah, atau ku tembak isi kepalamu!" ucap asisten Joni dengan sinis.


Gadis muda itu tertawa terbahak-bahak. Membuat Joni dan Denis saling pandang.


"Berhentilah bercanda, karena sebentar lagi aku akan membunuhmu!" Pekik Joni lagi.


"Hahahaha. Kita lihat saja. Siapa yang akan menang diantara kita, kalian atau aku?" Jane menunjukkan alat pemicu itu pada asisten Joni.


Membuat lelaki itu bergeming.


"Turunkan senjatamu, atau nona muda Hadev akan mati meledak?" Sambungnya lagi dengan senyum meledek.


"Hei, hentikan omong kosongmu wanita jahat!" Pekik Denis.


Dan plak!


"Sekali lagi kau menghinaku, ku pastikan adikmu tidak akan selamat."


Denis dan Joni benar-benar tidak memiliki pilihan apapun. Karena keselamatan Sofia ada di tangan Jane sekarang. Joni menurunkan senjatanya.


"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanya asisten Joni.


"Simple. Aku hanya ingin meminta pada kalian, supaya Airish membenci Kaisar. Dan bawa wanita jalangg itu, jauh sejauh-jauhnya!"


"Hanya itu?"


"Ya, hanya itu. Putuskan sekarang, dan aku beri waktu satu minggu pada kalian untuk melakukannya."


Asisten Joni tampak berpikir, dan akhirnya dia mengangguk setuju. "Kalau begitu serahkan alat pemicu itu."


"Oh, no. Selama itu nona muda Hadev akan bersamaku."


"Tidak! Jangan lakukan itu asisten Joni, dia hanya ingin menipu kita." Denis yang merasa tak tahan dengan syarat yang diajukan oleh Jane, menolak keras.


Sementara Joni menggeleng, dan menyuruh Denis untuk diam. Dia akan pura-pura menyetujui keinginan Jane, padahal otaknya terus berputar, mencari cara lain untuk membebaskan nona muda Hadev, tanpa mengorbankan siapapun.


"Baik. Aku akan menyanggupi permintaanmu. Dan mulai sekarang jagalah baik-baik kepalamu!"


"Maksudmu?" Pekik Jane marah. Dan tanpa dia duga, sebuah peluru melesat begitu saja, mengenai tangan Jane, hingga alat pemicu itu jatuh ke lantai.


Mata Jane terbelalak, sedangkan di ujung sana Airish tersenyum smirk dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Kurang ajar!!!"


Dengan memegangi tangannya, Jane berlari untuk mengambil alat pemicu tersebut. Tak tinggal diam, Airish kembali menembak kaki Jane, dan pemicu tersebut diambil oleh asisten Joni.


Denis ikut merasa senang, dia begitu bangga pada Airish. Tak salah, dia mengagumi gadis itu.


"Kau kalah cepat, Jane!" Ucap Airish, dia melangkah ke arah Denis, sedangkan di belakang sana para penjaga kembali berdatangan.


Joni dengan sigap mengangkat senjatanya, dia melirik ke arah Airish dan gadis itu mengangguk. Waktunya tidaklah banyak, dia harus cepat menyelamatkan Denis dan mencari keberadaan Sofia.


Jane masih bisa tersenyum meski kecil, karena beberapa penjaga sudah berdatangan, Joni melawan para penjaga itu, sementara Airish melepaskan ikatan Denis dengan pisau yang berada di balik jaketnya.


Dan kesempatan itu membuat Jane bisa mengambil pistol yang dia sembunyikan, dengan tatapan penuh kebencian dia mengarahkan pistol tersebut ke arah Airish.


Tanpa segan dia menarik pelatuk.


Dan... Dor!