My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Menyelamatkan Denis dan Sofia (1)



Kaisar menarik tengkuk Airish dan menyatukan bibir mereka. Lelaki itu melumaatnya sekilas, karena merasa gemas.


"Tsk."


Pagutan itu terlepas, Kaisar menurunkan topi yang Airish kenakan sambil terkekeh. "Aku suka keberanianmu, Sweetie. Berjanjilah untuk tidak terluka." Ucap Kaisar dan Airish mengangguk cepat sebagai jawaban.


Setelah itu, Kaisar berjalan menuju gerbang dengan diikuti semua orang. Kedatangan mereka mengundang banyak pasang mata yang berjaga di sana, tepatnya di depan pintu masuk.


Brak!


Pintu gerbang itu Kaisar tendang dengan keras, tanpa mengeluarkan banyak tenaga, besi tua itu sudah sukses terbuka.


Dan... Dor! Dor! Dor!


Joni menembaki satu persatu pengawal yang berjaga. Hingga bunyi senjata tersebut, sampai ke telinga penjaga yang lain.


Mereka langsung sigap, karena musuh telah datang. Seperti instruksi sang Tuan. Semuanya berbondong-bondong untuk keluar.


Sedangkan Dewa menarik salah satu sudut bibirnya ke atas. Yakin seyakin-yakinnya, bahwa Kaisar telah datang.


Dia menatap sinis, gadis yang terus menangis di sampingnya. Ya, dia adalah Sofia, mulut gadis itu terkunci, sedang tubuhnya diikat lengkap dengan sebuah bom yang merekat.


Di bawah sana.


Kaisar tersenyum smirk, dan memerintahkan para pengawal yang ia bawa, menyebar ke berbagai penjuru arah, dengan senapan di tangan mereka masing-masing.


Dia akan mengepung gedung tersebut. Dia mau, semua yang ada di gedung ini mati, tak tersisa. Kaisar memberi tugas pada Joni dan Airish untuk pergi ke arah barat, dan menyusuri lantai demi lantai.


Sedangkan dia sendiri akan naik ke atap gedung.


Dalam sekejap tubuh Kaisar sudah menghilang. Dia menapaki anak tangga, dengan mata jeli untuk mencari kedua adiknya yang disekap oleh Dewa. Dia yakin keduanya disekap secara terpisah.


Hingga saat dia sampai di tangga terakhir. Dia mencium aroma serigala yang terasa semakin kuat. Dengan gerakan cepat, Kaisar mengayunkan kakinya.


Dor!Dor! Dor!


Suara senapan lagi-lagi terdengar, dari bawah sana Kaisar ditembaki oleh para pengawal Dewa. Lelaki itu hanya tersenyum miring, dia menyelinap di balik dinding dan menghilang.


Begitu para pengawal itu mencari-cari, dan ikut naik ke atas tangga. Kaisar datang tiba-tiba dan menarik satu persatu kepala mereka.


"Krek"


"Krek."


"Krek."


Suara mengerikan dan pekikan menyayat terdengar nyaring. Menggema seiring kepala itu terlepas dari tubuh mereka.


"Aargggghhhh!!!"


Kepala itu menggelinding begitu saja, para pengawal yang tersisa membelalakkan matanya, dengan mulut yang terbuka. Dan salah satu kepala tersebut Kaisar tenteng, dan dia hempaskan, menggelinding dan berhenti tepat di bawah kaki Dewa.


Di atap sana, vampir berdarah dingin itu berhasil menemukan manusia serigala, yang telah menjadi musuhnya.


Kaisar melangkah perlahan, kini dia bisa melihat adiknya Sofia berada di samping lelaki bengis itu, dengan tubuh yang gemetar dan tangis yang terus menderas.


"Akhirnya kau datang," ucap Dewa tersenyum miring.


Kaisar meneguk ludahnya kasar, dia meremat tangannya kuat. "Tidak perlu berbasa-basi, apa yang kau inginkan sehingga kau melibatkan adikku?"


Dewa bertolak pinggang. Dia tersenyum dengan senyum yang sangat menyebalkan di mata Kaisar. "Hahaha, tidak perlu terburu-buru, Tuan Kaisar. Lebih baik kita bermain, agar adikmu ini tahu, siapa kau sebenarnya." Ucap Dewa penuh penekanan, menunjuk Kaisar dengan telunjuknya.


Cih, Kaisar berdecih ke samping. Dia mulai mengambil posisi untuk menyerang Dewa dengan pistol di tangannya. Sebisa mungkin, dia harus menahan diri, agar jati dirinya tidak terbongkar di depan Sofia.


"Oh, ternyata kau takut adikmu tahu. Baiklah, kita lihat sejauh mana kau bisa bertahan dengan identitasmu sebenarnya," tantang Dewa menyeringai.


Dia menggerakkan tangannya, dengan dengusan keras.


Slappp!!!


Khhhhhh!!!


Dewa merubah wujudnya menjadi serigala hitam, yang siap menerkam mangsanya. Membuat Sofia membelalakkan matanya begitu lebar, dengan jantung yang berdetak semakin kencang.


Kaisar melihat ke arah adiknya, dia bisa melihat sebesar apa ketakutan Sofia.


Tanpa membuang waktu, Dewa melompat, dan mulai menyerang Kaisar. Sedangkan lelaki itu mulai memainkan pistolnya, dia mengarahkan timah panas itu tepat ke dada Dewa.


Kaisar terus mengelak meski serigala itu memancingnya agar merubah wujud aslinya.


Duel satu lawan satu itu terus berlangsung.


Sementara di lantai yang lain, Denis pun diikat dengan kuat, dia bersama dengan Jane yang memegang alat pemicu bom di tangannya.


"Lepaskan aku wanita jahat!" pekik Denis, sedari tadi dia tidak lelah memaki dan meronta agar tali yang mengikat tubuhnya itu terlepas.


Mendengar itu, Jane hanya terkekeh, lalu mengelus pipi Denis dengan gerakan lembut. "Sabar bocah tampan, setelah aku berhasil meledakkan adikmu, ku pastikan kau pergi dari gedung ini dengan selamat."


Denis mendengus, sumpah demi apapun. Dia ingin mencakar wajah Jane, di mata Denis, Jane bukanlah seorang wanita tetapi jelmaan iblis.


Srattt!!!!


Kembali ke pertarungan antara Kaisar dan juga Dewa.


Sebuah cakaran di pipi berhasil Kaisar dapatkan. Nafas lelaki itu terdengar memburu, sedangkan Dewa menunjukkan seluruh taringnya, merasa begitu senang.


Bunyi alarm yang terpasang di badan Sofia semakin terdengar, membuat gadis itu menangis dengan tubuh yang bergetar. Kaisar harus cepat, sementara Dewa tersenyum lebar.


Kaisar kembali menembaki tubuh Dewa. Dor! Dor!


Rentetan senjata itu terdengar tak berhenti, sementara tubuhnya berlari ke arah Sofia. Tak tinggal diam, Dewa menghindar, lalu kembali berlari kencang dan menubruk tubuh Kaisar, hingga lelaki itu terpental ke arah pagar pembatas.


Hingga pagar itu terlepas. Dan tubuh Kaisar akhirnya melayang, dia tidak dapat mempertahankan wujud manusianya lagi di depan Sofia. Karena kini, pilihannya hanya dua, jatuh ke bawah sana, atau terbang dan menjadi sosok yang sesungguhnya.


Sofia terperangah, dengan tubuh yang terasa lunglai dan tak bertenaga, kepala gadis itu tertunduk, dia tak sadarkan diri, setelah melihat semuanya.


Kaisar, kakak yang selama ini ia kenal, bukanlah manusia biasa.