
Nafas Kaisar terengah, hampir saja dia menumbangkan sepuluh serigala itu. Tetapi ternyata mereka berhasil kabur, saat dia tengah lengah.
Dadanya sedikit terasa nyeri. Dia berjalan ke sisi jalan, tempat dimana Joni sudah menunggu, karena Kaisar telah menelpon sang asisten untuk datang.
Begitu Kaisar sampai di mobil, Joni langsung melandaskan kijang besi itu.
Kaisar menepuk bahu Joni dari belakang, saat ia menyadari, kalau jalan yang dipilih lelaki itu adalah arah pulang ke rumah utama.
Tidak, Kaisar tidak ingin kesana. Dia ingin menemui Airish terlebih dahulu, dia sedikit khawatir karena lengan gadis itu terluka, dan mengeluarkan banyak darah.
"Ke kampus." Ucap Kaisar datar. Dia tahu kalau Joni sudah terlalu kesal dengan sikapnya. Tetapi dia memilih tidak peduli.
Joni tak mampu untuk menolak, dia hanya mendesah kecil, lalu menghela nafas panjang.
Memutar arah kembali ke kampus, dimana gadis itu berada.
Tak butuh waktu lama, Joni terlihat sudah menepikan mobilnya di halaman kampus, tempat dimana Airish menimba ilmu.
Tanpa menunggu Joni membukakan pintu, Kaisar segera berlari, menuju ruang kesehatan. Dan berharap Airish masih disana.
Hah sepertinya yang aku takutkan akan terjadi. Gumam Joni yang hanya mampu terdengar oleh telinganya sendiri.
Semua mata yang Kaisar lewati memandang dengan penuh selidik, mungkin bertanya-tanya, ada apa dengan seorang pengusaha, penyandang dana terbesar di kampus mereka, berjalan dengan tergesa-gesa.
Dan pandangan mereka terputus, begitu Kaisar menatap tajam ke arah semua orang. Tatapan menghunus, mematikan.
Hingga sampailah dia di ambang pintu ruang kesehatan tersebut. Tanpa mengetuk, ia langsung membukanya. Dan benar saja, seperti yang ia harapkan, Airish masih ada disana, dengan Zoya yang tengah membalut lengan gadis itu dengan kain kasa.
Zoya dan Airish kompak melihat ke arah Kaisar. Seolah mengerti, Zoya segera menyelesaikan tugasnya. Dan buru-buru pamit dari sana.
Meninggalkan Airish dan Kaisar hanya berdua.
Kaisar melangkah, mendekat ke arah brankar, tempat dimana Airish terduduk. Gadis itu tak mampu membalas tatapan mata Kaisar, dia hanya setia menunduk dengan menggigit bibir bawahnya.
Kaisar meraih lengan itu, memperhatikannya dengan seksama. Lalu duduk di samping Airish, meminta gadis itu mendongak. "Tatap wajahku."
Awalnya ragu, tetapi pelan-pelan Airish akhirnya menegakan kepalanya. Dari raut wajah Kaisar tidak tergambar apapun, entah cemas ataupun lega, Airish tidak mampu membacanya.
"Ada apa Tuan kembali lagi kesini?" Tanya Airish, entahlah rasanya dia ingin mendengar Kaisar datang dengan alasan mencemaskan dirinya. Meskipun dia tahu, itu semua hanyalah sesuatu yang semu.
Tak menjawab, Kaisar justru mencondongkan wajahnya ke arah Airish. Gadis itu reflek mundur, satu karena mereka berada di area kampus, dua karena ia masih ingat betul, bagaimana kasarnya Kaisar memperlakukannya semalam.
Kaisar berhenti sejenak, memandang ke arah Airish dengan tatapan tak suka. Dia tidak suka ditolak seperti ini. "Kau takut padaku?" Tanya Kaisar, semakin maju, dan Airish kembali mundur.
Membuat Kaisar semakin geram.
"Diam, atau kau akan melihatku marah." Ucapan Kaisar sudah seperti mantra. Tubuh Airish langsung membeku di tempatnya, seiring Kaisar mempertemukan bibir mereka.
Berbeda dari semalam, ciuman ini terasa sangat lembut, decap manis yang Kaisar berikan benar-benar memabukkan. Hingga Airish tidak sadar dia sedang berada dimana.
Apa arti ini semua?
Pelan, Kaisar membawa tubuh itu berbaring, tanpa melepas pagutannya. Di belakang sana, satu tangannya mengunci pintu, dengan kekuatan yang ia punya.
Kaisar menelusupkan lidah, mengabsen rongga mulut Airish, dan membelit lidah gadis itu untuk disesapnya.
Lama semakin lama, Airish hanyut dalam perlakuan Kaisar, ia membalas sebisa mungkin, mengandalkan materi ciuman yang Kaisar ajarkan.
Nafas Airish tersengal, nyatanya gadis itu belum mampu mengimbangi permainan lelakinya. Sekali lagi, Kaisar mengecup bibir basah itu, lalu mengusapnya dengan ibu jari.
"Jangan terluka." Dan hanya kalimat itu yang mampu ia ucapkan, sebelum ia kembali mengulang cumbuan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...