My Husband Is A Vampire

My Husband Is A Vampire
Extra 3



Kepala Roger senantiasa dipegang oleh satu pengawal Kaisar. Sementara kedua sejoli itu saling mengulum senyum, setelah saling menyesap satu sama lain. Kaisar menurunkan kakinya dari bahu Jane, lalu satu pengawal memberinya kursi.


Kaisar menarik kursi tersebut untuk Airish. "Duduklah, Sweetie. Istriku tidak boleh kelelahan. Karena ada banyak permainan yang akan kita mainkan setelah ini." Ucap Kaisar.


Airish menarik tangan Kaisar, lalu menyingkirkan kursi itu. "Tidak perlu, Sayang. Lebih baik kursi ini untuk kakakku saja, aku ingin berbaik hati padanya." Airish menatap Jane yang senantiasa menunduk.


Dia tersenyum sinis, lalu mengambil kursi itu, melangkah ke arah Jane. "Duduklah di sini, Kak. Lantai itu terlalu dingin untukmu."


Namun, Jane justru menggeleng, dia tidak mau duduk di sana. Dia yakin, Airish telah menyiapkan sesuatu untuknya, dia tidak mau percaya pada adik tirinya itu.


Airish terkekeh, lalu memegang dagu Jane, wanita itu mencelos, tetapi Airish kembali mencengkram dagu itu, kali ini dengan tekanan yang cukup kuat. "Aku bilang duduklah di kursi!" Pekik Airish.


Jane menggeleng cepat, tak menggubris pekikan Airish. Dan saat itu juga, Airish dengan cepat menjambak rambut Jane, hingga wanita itu berdiri, Jane meringis kesakitan, kalau saja tangannya tidak diikat, dia pasti sudah melawan Airish.


"Lepaskan aku bodoh!" ringis Jane.


Jane terduduk di kursi, kepalanya berdenyut begitu Airish sudah melepaskan rambutnya, Roger hanya membola menyaksikan itu semua. Airish sudah benar-benar berbeda. Wanita itu sudah berubah menjadi wanita jahat.


Airish menengadahkan tangan meminta sesuatu pada Kaisar. "Sayang, beri aku sesuatu." Ucap Airish.


Lelaki itu tersenyum, lalu menyerahkan sebuah benda kecil ke arah Airish. Roger dibuat mendelik, begitu Airish memainkan sebuah belati tajam di tangannya.


Airish menatap ke arah Roger, wanita itu tersenyum smirk, lalu mendekati Jane, dia mencengkram dagu kakak tirinya itu, satu pengawal yang berdiri di belakang Roger, memastikan lelaki itu menatap lurus ke depan.


"Lihat baik-baik, saksikan dengan mata kepalamu itu, karena mantan pacar yang kau jual dengan harga satu milyar, akan menebusnya dengan setimpal," ucap Airish dengan penuh penekanan.


"Mau apa lo?" tanya Jane ketakutan, saat Airish mendekatkan belati itu ke wajahnya. Tubuh wanita itu meronta-ronta, beringsut hingga dia jatuh dari kursi. Di lantai itu, Jane terus mundur ke belakang.


Melihat itu, Kaisar mendengus lalu tertawa keras. "Baru seperti itu, kau sudah ketakutan? Ke mana keberanianmu kemarin, kau bahkan menendang istriku, seperti ini!"


Bugh!


Tanpa diduga, Kaisar menendang perut Jane, hingga wanita itu terpelanting ke belakang dan menabrak dinding. Mengingat istrinya ditendang oleh wanita Medusa itu, membuat emosi Kaisar terpancing. Ingin rasanya dia langsung menghabisi Jane.


Airish terkejut, lalu menahan tubuh Kaisar yang hendak melesat.


"Sayang, bersabarlah. Dia bisa mati, jika kau hajar seperti itu," ucap Airish, memegang lengan Kaisar.


Nafas Kaisar memburu, dadanya naik turun dengan tangan yang terkepal kuat. "Dudukkan dia di kursi, dan ikat dengan kencang!" Pekik Kaisar.


Seketika dua orang pengawal langsung melakukan apa yang Kaisar mau, mereka mengikat tubuh Jane kuat, sementara Airish mengelus lembut dada suaminya, agar lelaki itu kembali tenang.


"Katakan jika kau tidak bisa melakukannya, Sweetie." Ucap Kaisar masih dikuasai emosi.


"Aku bisa melakukannya, tenang saja." Airish mengecup pipi Kaisar, lalu kembali melangkah ke arah Jane, wanita itu sudah diikat dengan kuat.


Airish kembali memutar belati itu, lantas tanpa ba bi bu lagi Airish langsung menyabetkan belati itu ke wajah Jane, Jane berteriak kencang tak menyangka Airish melakukan itu semua.


Tak peduli dengan teriakan pilu Jane, Airish terus menggores kulit mulus itu, hingga darah segar mengalir sana-sini. Jane merintih kesakitan, dan hal itu disaksikan oleh Roger.


Netranya terbelalak lebar menyaksikan apa yang dilakukan Airish. Rasa perih terus menjalar, dan Jane tak mampu untuk melakukan apapun, luka yang dia dapat benar-benar sangat menyakitkan. Kulit wajahnya tersayat-sayat, dia yakin, kini dia sudah menjadi si buruk rupa.