
Pukul 8 pagi, pintu kamar Airish dan Kaisar sudah digedor oleh Leela.
Tok... Tok... Tok
"Nona, bangunlah. Kita latihan untuk lari pagi ini." Teriak Leela dari luar sana. Berusaha membangunkan wanita milik Tuannya.
Wanita yang harus dia latih.
Airish pura-pura menggeliat. Lalu kembali memejamkan mata indahnya. Ini sudah kesekian kali Kaisar melihat kelakuan Airish. Tetapi masih dia biarkan, lelaki itu ingin melihat sejauh mana akting wanita satu ini.
"Nona jika dalam waktu 5 menit kau belum juga turun ke lapangan, saya terpaksa mendobrak pintu ini." Ucap Leela disertai ancaman. Lantas, gadis itu melengang pergi menuju lapangan, tempat dimana pelatihan akan dilaksanakan.
Sedangkan yang di dalam sana, seperti mendapatkan sebuah tamparan keras, Airish langsung membuka mata.
Melirik Kaisar yang tengah memperhatikannya dengan satu alis yang terangkat.
"Ayo, apalagi yang kau tunggu? Kau mau membuat pintu kamarku rusak?" Cetus Kaisar melihat Airish masih bermalas-malasan. Bukannya lekas bersiap, gadis itu malah mencebikkan bibirnya.
Airish bangkit, lalu tanpa diduga gadis itu naik ke atas tubuh Kaisar. Lelaki itu sampai terlonjak kaget melihat tingkah Airish pagi ini.
"Tuan, bisakah aku istirahat saja? Tidak perlu latihan lari, tubuhku lelah." Adu Airish dengan bola mata menggenang. Sumpah demi apapun, kalau saja tidak sedang ditunggu, lelaki itu pasti sudah menyerang Airish.
"Hentikan omong kosongmu! Cepat turun, dan lekas bersiap." Tidak menggubris, Kaisar justru melayangkan tatapan tajam. Tidak mau luluh dengan sikap manja istrinya.
Gadis itu menggeleng, lalu muah, muah, muah. Beberapakali dia memberi kecupan di dada Kaisar yang terbuka. "Please, biarkan hari ini aku istirahat."
Gadis ini sungguh berani. Dia bilang lelah, tetapi malah menggodaku. Apa-apaan dia ini.
"Kau_"
Hei, hei, hei
Apa yang dia lakukan?
Entah rasa lelah, atau dia tiba-tiba mendapatkan keajaiban. Airish tanpa kenal takut justru membekap mulut Kaisar dengan ciuman. Ciuman ala kadarnya, karena dia masih belum ahli di bidang tersebut.
Hingga brak!
Pintu besar nan tinggi itu benar-benar didobrak oleh Leela. Airish terkesiap dan langsung turun dari tubuh Kaisar, malu setengah mati, kelakuannya dilihat oleh orang lain.
Bahkan dia merutuk tak habis-habis. Dengan pipi yang sudah merah padam.
Cih, aku ini kenapa? Kenapa bisa seberani itu? Dan lihat, dia benar-benar mendobrak pintu ini. Berarti si bedebah gila benar-benar ingin aku mengikuti apa kata Leela?
Melirik Kaisar yang bergeming, bahkan tidak protes sedikitpun atas tindakan Leela.
Airish tertunduk lesu. Sedangkan Leela kembali bersuara. "Nona, aku sudah memperingatkanmu, tapi kenapa tidak mau mendengar juga?" Tanpa rasa bersalah, gadis itu berbicara sesantai mungkin, seolah tidak habis melihat kejadian apapun.
"Maaf." Lirih Airish dengan menilin-nilin jarinya.
Sedangkan Kaisar sudah lebih dulu bangkit, dia berdiri menyambar pakaian yang pelayan bawa untuk Airish.
"Bersiaplah dengan cepat! Atau bila perlu ku panggilkan Katty untuk membuatmu pergi ke lapangan?" Kaisar melemparkan pakaian itu di dekat tubuh istrinya.
Mendengar nama Katty, ingatan Airish langsung tertuju pada binatang yang memiliki kemampuan berlari paling cepat itu.
Apa? Apa kau akan menyuruhku lomba lari dengannya?
Akhirnya tanpa perdebatan lagi, dengan gerakan malas dan bibir yang mengerucut, Airish masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan kedua orang yang menurutnya kejam itu.
Cih, selalu saja menyiksa orang.
*******
Rumput yang hijau, ia pijak sesuka hati. Dan di sana, Leela sudah menunggu.
Dengan mengepalkan tangan, Airish menyemangati dirinya sendiri. Ia sedikit berlari untuk sampai di hadapan Leela. Tidak mau membuat gadis itu menunggu lebih lama.
"Kau terlambat sepuluh menit, Nona. Lain kali jangan ulangi, karena aku tidak akan memberimu dispensasi lagi. Cukup hari ini." Tegas Leela pada Airish. Karena itulah prinsipnya dalam mengajar seseorang. Soal ketepatan waktu.
Pelan, Airish mengangguk. Ia mengerti bahwa latihan tidak akan ada hanya hari ini. Tetapi hari berikutnya, dan entah sampai kapan.
Leela mengajaknya untuk pemanasan terlebih dahulu. Meregangkan otot-otot tubuh yang kaku, hingga terasa sedikit lebih lemas.
Hingga saat tubuh Airish sudah lebih berkeringat. Leela memberi perintah. "Aku beri waktu dua puluh menit, sepuluh kali putaran." Melihat stop watch, siap menghitung.
Sedangkan Airish membelalakkan matanya. Lapangan seluas ini, ia hanya diberi waktu dua puluh menit untuk sepuluh kali putaran? Benar-benar gila. Sungguh ini gila.
"Leela, apa tidak terlalu cepat waktunya?" Protes Airish, membayangkannya saja sudah membuat otaknya lelah.
"Kau menyerah sebelum mencoba? Apa Nona seorang pecundang?" Cibir Leela dengan bibir tertarik sinis.
Cih, benar juga ucapannya. Kenapa aku jadi plin-plan begini.
"Goooo.... Waktumu sembilan belas menit lima puluh sembilan detik lagi." Teriak Leela mengagetkan.
Karena terkejut, Airish reflek berlari secepat mungkin, membuat Leela tersenyum kecil, merasa lucu.
Airish dengan keringat yang mengucur deras. Nafasnya terengah dengan dada yang naik turun. Dia baru saja menyelesaikan satu kali putaran.
Ayo Ai, kamu bisa! Jangan tunggu sampai dia membuka kandang Katty sialan itu!
Hingga putaran yang ke tujuh, Airish sudah tidak sanggup lagi. Cuaca yang cukup terik, dengan tubuh yang kelelahan, membuat langkahnya gontai, dan akhirnya gadis itu tumbang.
Bruk!
Tak sampai jatuh ke tanah. Tubuh Airish sudah ditangkap oleh seseorang. Harith, yang kala itu melihat Airish sempoyongan langsung berlari menuju gadis itu.
Hingga akhirnya, Airish jatuh dalam pelukan Harith.
Apa yang sebenarnya Kai rencanakan. Kenapa membawa gadis selemah ini untuk dilatih.
Leela yang melihat itu ikut merasa cemas. Dia berlari untuk menghampiri Harith dan Airish. Ini bukan salahnya kan? Dia hanya mengikuti apapun perintah Kaisar.
"Kak Nona kenapa, apa dia pingsan?" Tanya Leela dengan wajah pias.
Dan Harith hanya bisa mengangguk seraya menghela nafas. "Kita bawa saja dia ke kamarmu."
Harith menggendong Airish, berniat membawanya ke kamar Leela. Karena selama ini, tidak ada yang berani masuk ke kamar Kaisar, kecuali ada lelaki itu sendiri.
Namun, di pertengahan jalan. Kaisar dan diikuti oleh Joni, nampak berjalan dengan langkah lebar. Begitu tepat di hadapan Harith, lelaki itu langsung merebut tubuh Airish. Lantas menggendongnya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Kaisar dingin. Apalagi melihat tubuh Airish yang begitu lemah.
Cih, bertanya ada apa dengannya? Tanya saja pada dirimu, kenapa menyuruh Leela mengajar wanitamu sekeras itu. Harith membatin.
Sebenarnya dari hari pertama dia sudah kasihan melihat Airish. Sorot mata teduh itu mengatakan dia hanyalah seorang gadis yang lemah. Tetapi Kaisar kukuh dalam pendiriannya, meminta Leela mengajari Airish seperti dia mengajari para pengawal.
"Sweetie, kau baik-baik saja?" Tanya Kaisar saat ia melihat bola mata itu mulai mengerjap. Ia mengendus-endus pipi Airish. Pipi yang terlihat memucat.
"Dia hanya pingsan karena kelelahan. Lebih baik bawa dia untuk beristirahat dulu, nanti di lanjutkan lagi." Jelas Harith tak tega. Untuk pertama kalinya, lelaki itu peduli pada seseorang.
Tanpa banyak berdebat, Kaisar menggendong tubuh Airish ke kamarnya. Meninggalkan Leela dan Harith yang saling memandang.