
Peluh membanjiri ranjang panas diantara keduanya, sedangkan Airish tak berhenti melenguh hebat akibat tindakan Kaisar di atas tubuhnya.
Candu yang ingin terus mereka ulangi, surga dunia yang ingin terus mereka arungi. Ditambah gelora asmara yang semakin menggelegak, menerbangkan seluruh angan antara Airish dan juga Kaisar.
Sekali lagi, tentang kata cinta yang belum pernah terucap dari bibir masing-masing. Tentang rasa kasih dan sayang yang tak pernah terungkap. Tetapi segala tindakan, dan seluruh bahasa tubuh mereka sudah membuktikan.
Bahwa aku mencintaimu, dan kau juga mencintaiku.
Aku menyayangimu, dan kau juga menyayangiku.
"Sweetie," Kaisar menggeram seraya meremat kain sprei, semangatnya semakin membara begitu melihat wajah Airish begitu menikmati sensasi percintaan mereka.
Desiran dalam dada Kaisar menggeleyar. Dia tidak pernah memikirkan bagaimana kehidupan mereka selanjutnya, dia hanya ingin menjalaninya bersama Airish, sebagaimana yang selama ini mereka lakukan.
"Sweetie, apa kegiatan ini menyenangkan?" Kaisar menatap wajah sensual Airish yang berubah memerah, bak kepiting rebus.
Ditanya seperti itu, Airish berubah jadi malu-malu. Bagaimana tidak, Kaisar sudah melihat semua yang ada pada dirinya, tubuhnya, ekspresinya, serta lenguhannya, tetapi dia masih bertanya soal menyenangkan atau tidak?
Hah, omong kosong! Kalau sampai Airish menggelengkan kepala.
"Sweetie, tatap mataku," pinta Kaisar menggoda, dia tahu Airish sedang malu padanya, gadis itu terlihat melengoskan wajah, tetapi Kaisar berhasil membuat Airish menjerit tertahan, saat pucuk itu dikulum dengan gemas.
Nafas Airish terengah dengan dada yang membusung, Kaisar merunduk hingga membuat tubuh bagian atas mereka berhimpitan.
"Katakan ini menyenangkan, Sweetie," bisik Kaisar, lalu menjilati daun telinga Airish, hingga gadis itu menyerah, dia mengalungkan tangannya di leher Kaisar.
"Yeah, it's fun, My Husband," ungkap Airish lugas, Kaisar langsung tersenyum lebar, dan kembali menyerang bibir ranum Airish.
Tak terelakan, kedua benda kenyal itu kembali berpaut, dan saling berbagi saliva, Kaisar tak henti-hentinya memberikan sensasi yang menggelitik, Airish beberapa kali memiringkan wajahnya, menikmati decap manis yang diberikan suaminya.
Hingga malam semakin bergulir menuju fajar. Embun basah menitik pada daun yang bergoyang. Akhirnya Airish tumbang, tubuh semampai yang bermandikan peluh itu tergolek lemah di samping Kaisar.
Lelaki itu menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya, lalu memeluk Airish, membiarkan gadis itu terlelap dalam dekapannya.
Aku mencintaimu, Sweetie.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menyapa.
Di kediaman Dewa Aaron, suasana hati lelaki sangar itu nampaknya sedang tidak baik-baik saja. Itu terbukti dari sorot matanya yang terus menajam, serta tindak-tanduknya yang lebih tidak sabaran.
Dia lebih baik tinggal terpisah dengan anaknya.
Karena hatinya terus dihantui rasa was-was, sampai tidur pun Fenita tidak pernah merasakan ketenangan.
Jane bangkit, lalu berjalan ke arah Dewa, dia mengusap punggung lebar lelaki itu dengan pelan. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" bertanya dengan nada halus.
Dewa melirik Fenita dengan tatapan nyalang, serta gigi yang saling bertautan, membuat wanita paruh baya itu meneguk ludahnya kasar, dan langsung menunduk secara otomatis. Fenita ketakutan.
Tahu kalau Dewa tak bisa bicara di depan sang ibu, lantas Jane menarik tangan Dewa untuk menjauh dari sana. Dia membimbing Dewa untuk masuk ke dalam sebuah ruangan.
Kini, mereka berada di ruangan milik Dewa. Gadis itu mendudukan Dewa di kursi, sedangkan dia duduk di atas meja.
Jane kembali mengusap pipi Dewa, berharap lelaki itu akan lekas bicara. Dewa menangkap pergelangan tangan Jane, dan menatapnya.
"Aku butuh rencana. Aku ingin membuat Airish membenci Kaisar dan meninggalkan vampir sialan itu!" tegas Dewa tanpa basa-basi lagi, karena dia sudah menceritakan semuanya pada Jane.
Tentang latar belakang Kaisar, kehebatan serta kekejaman lelaki itu.
"Pelan-pelan, Sayang. Kita tidak bisa langsung membuat Airish membenci Kaisar. Terlebih dahulu, lebih baik kita menyusun rencana mendekati keluarga Kaisar. Apa kamu tahu siapa mereka?" Jane memberi saran, dia turun dari atas meja dan berganti mendudukan dirinya di pangkuan Dewa.
Sedangkan tangan langsingnya melingkar penuh di leher lelaki itu. Dewa tidak keberatan sama sekali, bahkan beberapa kali mereka sudah berciuman, melepaskan hasrat kecil yang tiba-tiba membuncang.
"Dua keturunan Hadev. Mereka keluarga Kaisar yang tersisa, tetapi mereka dijaga begitu ketat, orangku tidak bisa menyentuh mereka sembarangan," jelas Dewa apa adanya, karena selama ini pun seperti itu.
Bahkan keduanya tidak bisa pergi di sembarang waktu. Ada ketentuan yang dibuat oleh Kaisar, dan Dewa tahu itu.
"Kalau begitu kamu yang harus menyentuh mereka," Jane berkata dengan sungguh-sungguh, otak piciknya mulai bekerja untuk menyusun rencana berikutnya.
Membunuh, baginya kini adalah hal yang paling mudah. Rasa ibanya kini telah mati, terkubur dalam oleh rasa benci dan juga iri hati.
"Aku? Aku memiliki banyak pengawal, dan aku harus melakukannya sendiri?" protes Dewa tak habis pikir.
Dan Jane terkekeh kecil, dia menangkup kedua rahang Dewa hingga tatapan mereka bertemu.
"Hei, tapi bukankah ini tujuanmu. Kenapa tidak? Aku akan selalu setia membantumu."
Mendengar itu, Dewa bergeming sejenak, hingga akhirnya dia mengangguk setuju. Tidak sia-sia dia membawa Jane ke sisinya. Ia merasa memiliki kekuatan baru untuk menghancurkan Kaisar, dan alangkah lebih baik, jika rencana itu dilakukan secepatnya.