
Melihat Kaisar datang, sontak saja Airish langsung berdiri, lalu berlari cepat menuju tubuh tegap itu. Tanpa segan, Airish langsung memeluk Kaisar. Erat, sangat erat.
Menumpahkan segala ketakutannya. Tangis Airish kembali pecah. "Tuan, aku takut." Lirih Airish.
Pelan, Kaisar mengangkat tangannya, lalu membalas pelukan Airish tak kalah erat. Ia menelusupkan kepala Airish ke dalam dada bidangnya.
Dan dia terus mengelus-ngelus punggung yang terasa naik turun itu.
Bagai dicambuk, dia benar-benar merasa perih, melihat Airish yang seperti ini.
Bahkan Kaisar tidak bisa, walaupun hanya sekedar bernafas dengan lega.
Apa yang sebenarnya terjadi. Andai ini sebuah kesengajaan, aku tidak akan melepaskan orang yang telah membuat wanitaku menangis seperti ini. Dia harus menerima akibatnya, karena telah bermain-main denganku.
Hingga cukup lama mereka terus berpelukan, akhirnya perlahan Airish mulai tenang.
Gadis itu menarik diri, tapi tidak melepaskan pelukannya dari tubuh Kaisar. Dia mendongak, dari raut wajahnya Kaisar bisa melihat, secemas apa Airish sekarang.
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan ayah?" Tanyanya dengan bibir yang bergetar.
Kaisar lebih dulu melepaskan tangan Airish yang melingkar penuh di pinggangnya. Dia membuka jas, lalu melekatkannya di tubuh mungil itu.
Dengan penuh sayang, Kaisar mengusap air mata Airish, lalu mengecupi seluruh wajah itu tanpa celah.
Dia menatap lekat, dengan tangan yang menangkup kedua pipi istrinya. "Jangan khawatir, ada aku. Dan percayalah tidak akan terjadi apapun pada ayahmu. Dia akan baik-baik saja, percaya padaku, Sweetie."
Mendengar itu, Airish merasa terharu. Sebelumnya tidak ada yang bisa membuatnya bisa setenang ini. Dan bersama Kaisar, dia bisa merasakan semuanya.
Airish memegang kedua tangan Kaisar yang masih setia menangkup kedua sisi wajahnya, dia mengangguk kecil dengan lelehan air mata, lalu ia merasakan Kaisar mendekatkan wajah mereka.
Lelaki itu mencium bibir ranum Airish, sedikit memberi lumataan, dan detik selanjutnya Airish kembali memeluk erat tubuh suaminya itu.
Dia merasa beruntung, meski entah perasaan apa yang menghinggapi mereka. Airish percaya pada Kaisar, dia percaya lelaki itu tidak main-main dengannya.
"Sambil menunggu, kita duduk yah." Ucap Kaisar setelah mengecup puncak kepala Airish.
Lelaki itu sama sekali tak melepaskan Airish, dia terus mendekap tubuh mungil itu, seolah memberi kekuatan.
Hingga tak berapa lama kemudian, lampu ruangan itu berganti. Itu artinya, operasi telah selesai. Kaisar dan Airish kompak berdiri, lalu menghampiri Dokter yang baru saja keluar.
"Dokter, bagaimana kondisi ayah saya?" Tanya Airish cepat.
Dia sudah tidak sabar ingin mendengar keadaan sang ayah, dia berharap apa yang dia takutkan tidak terjadi, Martin pasti selamat.
"Kalian harus bersyukur, Tuan Martin dapat kami selamatkan, hanya saja, saat ini dia mengalami koma," jelas Dokter tersebut.
Mata Airish membulat sempurna, dengan mulut yang sedikit terbuka, hampir saja tubuhnya terhuyung, tetapi Kaisar yang berdiri di sampingnya dengan cepat menangkap tubuh Airish.
"Koma, Dok? Bagaimana bisa, dan kapan dia akan sadar?" Airish kembali menangis, seolah air mata itu tidak akan habis.
Bak diiris sembilu, dia merasa benar-benar tidak sanggup jika harus kehilangan ayahnya.
"Benturan di kepalanya sangat kuat, Nona. Bahkan tadi Tuan Martin kehilangan banyak darah. Untuk itu kami tidak bisa memastikan kapan tepatnya Tuan Martin akan sadar, lebih baik Nona banyak-banyak berdoa, agar ayah anda cepat diberi kesehatan."
Airish bergeming, dia hanya bisa menatap nanar pintu ruangan tempat dimana ayahnya berada.
"Jika tidak ada lagi yang ditanyakan, saya permisi, Nona dan Tuan." Pamit sang Dokter, dan dijawab anggukan oleh Kaisar.
"Ini pasti mimpikan?" Airish menoleh ke arah Kaisar, dia berharap Kaisar berkata ya sebagai jawaban atas pertanyaannya.
"Sweetie, tenanglah."
"Ini pasti mimpikan, Tuan. Ayah baik-baik saja kan? Ayah tidak mungkin koma." Airish kembali histeris, tetapi sebisa mungkin Kaisar menenangkan istrinya itu.
Dia menarik Airish kembali dalam pelukannya. Airish memukul-mukul pelan dada Kaisar, tetapi lelaki itu tidak peduli.
"Ayah pasti sembuh, kita tunggu beberapa hari agar dia sedikit pulih, setelah itu aku akan membawanya ke rumah sakit terbaik yang ada di negara ini. Aku berjanji, Sweetie. Aku janji."