
"Kau yang jangan bermain-main dengan Nona muda kami," ucap salah seorang yang tiba-tiba datang dengan dua rekannya.
Tubuh tegap mereka berbalut seragam hitam, lengkap dengan pistol yang ada dalam genggaman. Ketiga lelaki itu menodongkan langsung senjata laras pendek itu ke arah lima lelaki yang mengejar Airish dan Zoya.
Membuat mereka semua meneguk ludahnya secara kasar. Perlahan mereka mundur, sedangkan Airish yang tidak tahu apa-apa merasa terkejut.
Darimana datangnya mereka semua?
"Siapa kalian?" tanya pria bertato pada pengawal Kaisar. Pengawal yang sengaja lelaki tampan itu kirim untuk mengikuti kemanapun Airish pergi. Pengawal bayangan.
"Kami pengawal Nona muda yang diutus oleh tuan kami, kalau kalian berani mengganggunya, maka kalian akan tahu akibatnya!"
Mendengar itu, Airish yakin bahwa ketiga pria tersebut adalah orang suruhan suaminya. Dia mengulum senyum kecil, dan merasa bersyukur karena mereka datang di waktu yang tepat.
"Kami hanya ingin membawa gadis itu menghadap bos." Tunjuknya pada Zoya, membuat gadis itu kembali meneguk ludahnya dan menunduk semakin dalam, dia ketakutan.
"Tapi Nona muda kalian menghalangi kami," sambungnya, melirik sekilas ke arah Airish dengan picingan sinis.
"Itu karena dia sahabatku," pekik Airish tak kenal takut.
"Itu artinya kalian juga mengganggu Nona muda. Cepat pergi jika kalian tidak ingin berurusan dengan kami."
"Cih, kalian pikir kami takut? Kau hanya memiliki dua rekan, sedangkan aku memiliki empat, bukankah seharusnya aku yang berkata seperti itu?"
Dengan penuh keangkuhan lelaki bertato yang merupakan ketua para badjingan itu membusungkan dada, menatap tajam para pengawal Kaisar.
"Baik, kita buktikan saja," tantangnya.
"Lepaskan senjata kalian. Kita beradu dengan tangan kosong."
Dan tak lama kemudian perkelahian pun dimulai. Para pengawal Kaisar melawan kelima para badjingan itu dengan tangan kosong, senjata yang mereka pegang, diselipkan kembali di samping tubuh.
Satu lawan satu. Sedangkan kedua lelaki yang tertembak itu menunggu giliran, mereka akan maju saat rekan mereka tumbang.
"Nona pergilah," pekik salah satu dari pengawal Kaisar, seraya menghalau serangan yang terus menerjang tubuhnya.
Satu tendangan berhasil mengenai perutnya, dia terdorong dan menabrak tembok salah satu gedung di sekitarnya.
Zoya yang tidak pernah merasakan situasi seperti ini hanya bisa meringkuk dengan tubuh yang bergetar karena ketakutan.
Lututnya terasa lemas, dan rasanya dia tidak bisa bangkit berdiri untuk melarikan diri. Padahal biasanya dia berlagak sok kuat, tetapi dengan situasi yang ada, dia justru terlihat seperti penakut.
"Zoy, ayo!" Airish mengulurkan tangannya ke arah Zoya untuk kabur, tetapi gadis itu malah menggelengkan kepalanya.
"Gue nggak kuat, Ai. Kaki gue lemes," lirih Zoya dengan lelehan air mata. Dan tanpa mereka ketahui, satu lelaki dari para badjingan itu mendekat, hendak memukul punggung Airish.
"Nona!"
Mendengar teriakan itu, Airish dengan cekat mendorong kedua sikutnya ke belakang, dan tepat mengenai perut lelaki itu, hingga lelaki itu memekik kesakitan.
Airish berbalik dan mengibaskan rambutnya ke belakang, dia mengepalkan tangannya kuat dan memasang kuda-kuda siap menghajar lelaki tersebut.
"Ternyata kau licik!" cibir Airish.
Satu tendangan melayang. Dan Airish menghalaunya, dia mencoba untuk melawan. Mempraktikkan seluruh jurus yang diajarkan oleh Leela kepadanya.
Namun, tiba-tiba sebuah sabetan pisau mencoba menggores kulitnya. Airish membelalakkan mata, bergerak ke kanan dan ke kiri, dan kembali mengambil sesuatu dari saku celananya, lalu...
Dor!
Satu tembakan Airish lepaskan tanpa beban, karena lelaki itu berani menggunakan senjata tajam untuk melawannya.
Sejenak lelaki itu bergeming, dan tak lama kemudian ambruk begitu saja ke atas tanah, karena timah panas itu menembus tepat di dadanya. Mata Zoya terbelalak lebar dengan mulut yang menganga, lagi-lagi dia merasa terkejut dengan keahlian Airish.
Tetapi tak lama dari itu, Zoya merasakan tubuhnya diseret, dia dibekap oleh tangan besar.
"Berhenti! Atau gadis ini akan mati?" ancam salah satu dari mereka lagi. Melihat rekannya tumbang, dia tidak bisa meremehkan Airish dan para pengawal yang tiba-tiba datang itu.
Seketika semua orang terdiam.
Airish langsung berbalik dengan nafas yang terengah-engah. Dia harus hati-hati, dan tidak boleh gegabah, karena Zoya sedang dalam genggaman salah satu badjingan itu, apalagi kini di leher Zoya sudah terpasang sebuah belati tajam.
"Sebenarnya berapa hutang yang harus mereka bayar, sampai kau mau menangkap sahabatku?" tanya Airish dengan dada yang masih naik turun, mengatur nafasnya agar kembali normal.
Lelaki itu menatap Airish dengan sorot mata penuh tanda tanya. Mau apa, pikirnya.
"Lima ratus juta, itu belum termasuk bunga," jawabnya.
"Hanya itu?" Airish kembali menyimpan senjatanya, dia berjalan ke arah Zoya.
Zoya semakin terisak kencang, dengan buncahan rasa takut yang mengikat tubuhnya. Seolah ajal sudah di depan mata.
Sementara lelaki itu mengangguk sebagai jawaban.
"Tidak akan! Sebelum uang itu ada, aku tidak akan melepaskannya, kau pasti ingin menipu kami kan?" Lelaki itu mundur, membawa tubuh Zoya menjauh dari Airish.
Airish menatap bayangan hitam di bawah sana, dia menarik sudut bibirnya ke atas, lalu kembali menatap lelaki itu.
"Aku pastikan besok pagi uang itu sudah ada, aku sendiri yang akan membawanya ke hadapan kalian!"
"Tidak!"
"Cih, kalian benar-benar tidak bisa diajak kerja sama rupanya. Baiklah, kalau begitu rasakan akibatnya!"
Dan tiba-tiba, dari atas sana Kaisar turun, membawa pedang panjang di tangannya, sekali sabet kepala orang yang memegangi tubuh Zoya langsung menggelinding ke atas tanah dengan bersimbah darah.
Mata semua orang membulat sempurna. Tak terkecuali Zoya. Dengan wajah yang pucat pasi, dia membekap mulutnya dan tiba-tiba Zoya ikut terkulai di atas tanah, karena tubuhnya sudah tak memiliki tenaga.
Dan Airish langsung menghampiri sahabatnya itu.
Kaisar mengangkat kepalanya, pedang di tangannya terlihat berkilat-kilat.
"Masih mau berurusan dengan istriku?" tanya Kaisar santai, dia memikul pedang panjang itu di atas bahunya, berjalan menuju ketiga badjingan yang tersisa.
Begitu sampai, Kaisar menuding mereka dengan pedangnya, membuat ketiga orang itu mundur dengan tangan terangkat. Tubuh mereka langsung bergetar hebat.
Tanpa dipinta, mereka semua kompak berlutut di bawah kaki Kaisar. Ketiganya yakin, lawan mereka bukanlah orang sembarangan.
"Ampun, Tuan. Kami berjanji tidak akan mengganggu istrimu lagi. Kami akan bilang pada bos kami, bahwa hutang itu akan segera dibayar," ucap salah satu dari mereka dengan terbata. Bahkan keringat dingin sudah membasahi tubuh mereka.
Mereka benar-benar tidak memiliki keberanian walaupun hanya sekedar mengangkat kepala.
"Bagus! Kalau begitu bereskan tempat ini. Aku mau dalam waktu kurang dari satu jam, tempat ini sudah bersih. Kalau sampai aku masih melihat sisa darah sedikit saja, akan ku tambahkan darah kalian! Mengerti?" cetus Kaisar menunjuk mereka satu persatu.
Glek!
"Mengerti, Tuan," jawab mereka serentak.
Setelah itu, Kaisar melempar pedangnya ke arah Joni yang sudah berdiri tak jauh darinya. Dia menghampiri Airish yang masih menenangkan Zoya.
Tak ingin melihat Airish kerepotan, Kaisar meminta Joni untuk mendekat, lalu memberi tugas pada lelaki itu untuk mengantar Zoya pulang ke rumahnya.
Joni mengangguk patuh.
"Sweetie, kau tidak apa-apa?" tanya Kaisar seraya mengecek beberapa bagian tubuh Airish.
Namun, gadis itu menggeleng dengan senyum mengembang. Dia menghentikan aksi Kaisar dengan mengusap pipi lelaki itu penuh sayang. Hingga netra mereka bertemu, dan Kaisar langsung memeluk tubuh Airish.
Kaisar menghirup dalam-dalam aroma tubuh gadis itu, hingga saat dia merasakan kelegaan, dia melepaskannya, dan berganti mengecupi seluruh wajah Airish.
"Aku baik-baik saja, Sayang."
Mendengar itu, Kaisar lantas mengangkat tubuh Airish, dia berniat membawa gadisnya untuk pulang.
"Kalau begitu, beri aku sesuatu yang menyenangkan," ucap Kaisar di sela-sela langkahnya.
Airish terkekeh, lalu mengecup singkat bibir Kaisar. "Nanti ku beri hadiah."
Kedua alis Kaisar terangkat. "Hadiah apa?"
"Hadiah yang tidak ada duanya," bisik Airish, bisikkan yang membuat Kaisar merasa tak sabar membawa gadis itu untuk pulang, dan menguncinya di dalam kamar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai Desember!
Dan hai, untuk kalian yang masih stay di cerita ini, makasih udah setia terus sama Airish dan Kaisar. Aku minta maaf banget, kemarin aku jarang up dan sebagainya.
Dikarenakan memang real lifeku sedang banyak kesibukan. Bukan karena aku mengabaikan novel ini yah, semua novel yang sedang aku tulis memang kemaren bener-bener terbengkalai.
Kalo nggak percaya tanya aja sama penghuni novel sebelah, memang Kakak pacar lancar up nya? Nggak juga kan?
Aku baca komentar-komentar kalian, ada yang ngeluh lama, merasa bosan dan sampe lupa alur ceritanya gimana.
Hah, dan aku nggak bisa apa-apa. Karena memang begini keadaannya. Aku nggak bisa maksain diri aku. Tapi Insyaallah, mulai tanggal satu ini, aku bisa lancar upnya. Doain yah🙏
Aku minta dukungan kalian, karena itu bener-bener jadi moodboster buat aku❤️
Big love reader setiaku yang paling anu❤️❤️❤️❤️❤️
Salam anu dariku👑