
Dor!
Denis yang sudah terlepas dari ikatan langsung memeluk tubuh Airish, dan memutar arah. Hingga timah panas itu tepat mengenai punggungnya, Denis tersentak dengan tubuh yang sedikit gemetar, dia mengangkat kepala, dan memandang Airish yang membulatkan kelopak matanya.
Gadis itu terperangah.
"Denis?" lirih Airish tak percaya, dan Denis tersenyum melihat gadis yang dicintainya baik-baik saja. Dia berhasil melindungi Airish.
Seketika darah segar mengalir deras dari punggung itu, membasahi pakaian yang Denis kenakan, Airish merabanya dan noda merah itu langsung melekat pada tangannya.
Mata Airish memicing tajam, dia menatap lurus dan mencari-cari keberadaan Jane, dan ternyata gadis itu sudah tidak ada di sana. Karena Jane telah kabur, bersama seorang pengawal yang membantunya.
Suara rentetan senjata seolah tak habis-habis memenuhi gedung tinggi tersebut. Para pengawal Dewa dan Kaisar masih saling beradu. Mayat-mayat berjatuhan tak dihiraukan, mereka semua mati sebagai tanda bakti mereka terhadap sang Tuan.
Airish membawa Denis ke pojok ruangan. Dia meminta lelaki muda itu untuk bertahan sebentar, karena dia ingin membantu yang lain.
Tak kenal takut, Airish mengambil dua pistol sekaligus, dan mulai menembaki lawan, para korban kembali berjatuhan, amarah Airish benar-benar memuncak saat itu, hingga pasukan yang di pimpin oleh asisten Joni mampu memukul mundur.
Sementara di atap sana, perlawanan semakin tak terelakkan, dada Dewa merasakan sakit luar biasa, karena Kaisar terus menendangnya.
Hingga sebuah firasat mengatakan, bahwa pasukannya telah kalah, pelan-pelan Dewa mundur.
Lantas saat dia sampai di pagar pembatas, dengan gerakan cepat dia melompat ke bawah sana, tubuh gempalnya berlari kencang, Kaisar hendak melesat untuk mengejar manusia serigala itu.
Namun, suara alarm bom dalam tubuh Sofia terasa semakin kuat. Niat Kaisar menjadi urung, dia mendesah kesal, dan akhirnya memilih untuk mendekat ke arah adiknya yang sedari tadi belum sadarkan diri.
Dalam alarm tersebut, menunjukkan sebuah waktu yang dihitung mundur. Dan waktu yang tersisa adalah sepuluh menit lagi, Kaisar harus bisa melepaskannya dengan cepat, dan membawa pergi para pengawalnya dari gedung tersebut.
"Ck, sialan!" umpat Kaisar.
Tanpa ba bi bu, Kaisar langsung melepaskan ikatan yang melilit tubuh Sofia, begitu juga dengan bom tersebut.
Dia tidak bisa menggunakan kekuatannya, karena sudah terkuras cukup banyak untuk meladeni Dewa, jantungnya bisa melemah dan dia akan butuh banyak darah untuk memulihkan tenaganya.
Dengan perjuangan yang cukup menegangkan, akhirnya Kaisar bisa menjinakkan bom tersebut, dia membiarkannya begitu saja. Dan mengangkat tubuh Sofia.
Joni menarik mundur pasukannya, beberapa pengawal terlihat mengangkat tubuh Denis untuk segera sampai di mobil, lelaki muda itu hampir tidak sadarkan diri, dengan nafas tersengal-sengal, dan hal itu membuat Airish terus menggeleng dengan lelehan air mata.
Sedangkan Denis terus merasakan sakit pada sekujur tubuhnya. Dia menatap Airish yang tak berhenti menangis, dengan sisa tenaganya Denis menghapus air mata Airish saat dia sudah sampai di mobil.
"Berhentilah menangis, aku akan baik-baik saja." ucap Denis terbata, dengan suara yang tercekak.
Airish mengangguk, dia menyuruh pengawal itu cepat mengantarkan Denis ke rumah sakit. Sementara hatinya tak bisa bohong, selain mengkhawatirkan Denis, dia pun mencemaskan keadaan Kaisar yang belum terlihat batang hidungnya.
Hingga saat dia hendak berbalik, dia mendengar suara yang begitu familiar di telinganya.
"Sweetie." panggil Kaisar lembut dari arah belakang.
Airish menoleh, dan dia bisa melihat lelaki yang dicintainya berdiri tegak, tepat di depannya. Tak ingin mengulur waktu, Airish langsung berlari ke arah Kaisar, dan memeluk tubuh tegap itu.
"Aku mengkhawatirkanmu, Sayang."
Sama halnya dengan Airish, Kaisar pun begitu mencemaskan gadis itu. Dia memeluk erat tubuh itu, dan tak berhenti mengecup puncak kepala Airish.
"Aku lebih mengkhawatirkanmu, Sweetie. Apa kau terluka?" Kaisar mengecek beberapa anggota tubuh Airish.
Dengan gerakan cepat Airish menggeleng. "Aku tidak apa-apa, Denis melindungiku, dia tertembak oleh Jane karena menyelamatkan aku." ucap Airish, merasa bersalah.
"Tenanglah, Denis tidak akan kenapa-kenapa, dia lelaki yang kuat." balas Kaisar, meyakinkan Airish yang tengah dilanda ketakutan. Hingga gadis itu akhirnya mengangguk, mencoba percaya ucapan Kaisar.
"Bagaimana dengan Sofia?"
"Sofia selamat, aku sudah menyuruh pengawal untuk membawanya ke rumah utama."
Airish mengulum senyum, lalu kembali memeluk Kaisar, dia benar-benar merasa lega, tidak terjadi apa-apa pada lelakinya.
"Oh ya, bagaimana dengan bom itu? Apa kau sudah membuangnya?" tanya Airish, dan seketika Kaisar langsung teringat dengan bom yang ia letakkan begitu saja di atap gedung.
"Sweetie, kita harus segera pergi dari sini."
Belum sempat bertanya, Kaisar sudah menarik tubuh Airish, dan membawa gadis itu untuk melesat, menjauh dari gedung itu.
Dan seketika, suara ledakan terdengar cukup dahsyat. Meluluhkan dinding tua yang terlihat masih kokoh itu, dan melahapnya hingga hancur berkeping-keping, dan menyatu dengan tanah.