MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Bucin



"Hah? Maksud Mas, aku harus buka baju aku gitu?" tanya Nata membulatkan bola matanya dengan perasaan tidak percaya.


"Hehehehe! Seharusnya sih begitu, tapi karena Mas takut khilaf nantinya jadi gak usah deh. Cukup di pijit biasa aja kayak gini,'' jawab Daren tersenyum cengengesan seraya memijit pinggang Nata membuat gadis itu sontak meringis kesakitan.


"Arghhh! Sakit, Mas. Awwww ...!" ringis Nata kemudian.


"Hah? Maaf ... Maaf ... Mas gak sengaja. Apa kita ke tukang pijat aja ya?"


"Apa? Mas gila apa?"


"Ko gila? Mas waras lho ini."


"Waras gimana, emangnya Mas mau tubuh aku yang se*si ini di pegang-pegang sama tukang urut? Di raba-raba, tukang urutnya pura-pura buta pakai kaca mata hitam padahal dia gak buta sama sekali. Mau seperti itu?"


"Hah? Benar juga sih, daripada di pegang-pegang sama dia mendingan sama Mas mu ini aja deh,'' decak Daren, entah mengapa dia merasa bahwa perasaan cintanya kepada gadis kecilnya ini telah menguasai jiwanya.


Membayangkan tubuh Nata yang langsing dan mulus ini di raba-raba oleh tukang urut membuatnya bergidik ngeri. Sepertinya, dia tidak akan pernah rela Nata berdekatan dengan laki-laki lain meskipun laki-laki itu adalah putranya sendiri yang notabenenya mereka memang sudah dekat sejak kecil.


Apalagi jika dia harus melihatnya dengan laki-laki yang sama sekali tidak dikenal di pegang-pegang segala, membayangkannya saja membuat darahnya terasa mendidih. Sebucin itukah Daren kepada Nata? Tanpa dia sadari rasa cintanya kepada gadis itu mengalahkan segalanya.


"Mas? Malah melamun lagi,'' decak Nata menoleh dan menatap wajah Daren kemudian.


"Hah? Iya ... Eu ... Sebaiknya kamu tidur di sini aja untuk malam ini. Mas janji gak akan ngapa-ngapain kamu.''


"Yakin?"


"Tentu saja, mana mungkin Mas merusak gadis kesayangan Mas dudamu ini. Meskipun Mas menginginkan hal itu, tapi Mas akan mencoba menahannya sekuat tenaga. Mas janji." Daren mengangkat kedua jarinya ke udara.


"Awas aja ya kalau sampai ingkar janji."


"Dih.''


Keduanya pun berbaring di ranjang yang sama. Nata meringkuk tepat di depan tubuh kekar Daren dengan menjadikan tangannya sebagai bantalan kepala. Dia pun melingkarkan tangannya di perut kotak-kotak sang duda lalu tersenyum kemudian, rasanya hangat dan nyaman.


Ingin rasanya dia segera membawa duda kesayangannya itu ke Kantor Urusan Agama dan segera mengesahkan hubungan mereka, agar kehangatan ini bisa dia rasakan setiap saat. Belum lagi, aroma maskulin yang menguar terasa menusuk hidung dan membuat jiwanya terasa damai. Sedetik kemudian, Nata benar-benar terlelap di dalam dekapan sang duda tampan yang kini telah menjadi kekasihnya.


* * *


"Mas, apa yang Mas lakukan?" tanya Nata saat tubuhnya meng*eliat terasa merinding di sekujur tubuhnya.


"Mas sudah tidak tahan lagi, sayang. Akhh!" De*ah Daren memejamkan kedua matanya kini.


"Akh ... Mas, geli Mas!"


Nata benar-benar dibuat tidak berdaya. Sen*uhan sang duda benar-benar telah membuatnya terasa melayang ke udara. Bibirnya bahkan berkali-kali mengeluarkan suara lacknut yang dia sendiri merasa jijik saat mendengarnya. Des*han demi des*han pun terdengar saling bersahutan memecah keheningan malam.


Peluh dan keringat benar-benar melebur menjadi satu. Sprei yang semula tertata rapi kini tidak beraturan lagi, begitu pun dengan selimut tebal yang semula menutupi tubuh keduanya kini tergeletak begitu saja di atas lantai.


Gila! Ini benar-benar gila, Nata di buat kelimpungan. Tubuhnya pun berkali-kali ber*etar juga meng**ang, pele*asan demi pele*asan pun dia lakukan. Terakhir, dia pun mengeluarkan suara len**han panjang sebagai tanda bahwa pelepasan yang dia lakukan benar-benar terasa luar biasa.


Apakah ini yang namanya surga dunia yang kenik*atannya banyak di buru manusia di muka bumi ini?


"Akhhh ... Hmmm ... Mas! Kamu benar-benar luar biasa,'' teriak Nata memejamkan kedua matanya kini merasakan kenik*atan yang tiada terkira.


BERSAMBUNG


...****************...