
Tinggal sedikit lagi, bibir Daren hampir saja landing dengan sempurna di bibir Nata. Namun, dia seketika menelan rasa kecewa karena gadisnya itu menutup bibirnya dengan telapak tangan. Tentu saja hal itu membuat duda tampan itu menahan keinginannya.
"Aku belum sikat gigi, Mas. Kata Mas tadi aku ileran," gumam Nata tersenyum malu.
"Benar juga? Tapi gak masalah sama sekali ko, kamu tahu cinta itu bukan hanya buta? tapi juga membuat indra penciuman orang yang sedang jatuh cinta tidak dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Iler kamu ini baunya wangi banget lho,'' lirih Daren mengeluarkan keahliannya dalam menggombali wanita.
"Rumus dari mana itu? Aku baru dengar sekarang,'' gumam Nata, menutup mulutnya sendiri tidak ingin bau tidak sedap tercium oleh hidung Daren nantinya.
"Rumus? Emangnya ini pelajaran Matematika apa? Ini tuh pelajaran Biologi, rumus paling dasar dalam hal bercocok tanam."
"Dih, dasar modus hahahaha!'' Nata tertawa lepas lalu sedikit mendorong tubuh Daren agar sedikit tercipta jarak di antara mereka.
"Hahahaha! Kamu benar-benar menggemaskan Nata, ingin rasanya Mas menelan kamu bulat-bulat saat ini juga, arghhhh!" Daren membuka mulutnya lebar-lebar bergaya seperti singa yang hendak menelan mangsanya.
Sontak, Nata bergegas bangkit lalu turun dari atas ranjang. Dia berlari ke arah kamar mandi dengan wajah yang tersenyum cengengesan. Terlihat semakin menggemaskan di mata Daren.
"Mas boleh menelan aku bulat-bulat kalau aku udah mandi nanti hahahaha!" tawa Nata sebelum dia membuka pintu kamar mandi lalu menutupnya kemudian.
Ceklek!
Blug!
Pintu kamar mandi pun di buka lalu di tutup kembali setelah dirinya masuk ke dalam sana.
"Janji ya, sayang. Setelah kamu mandi nanti, Mas akan melahap kamu, mengunyahnya pelan lalu menelan kamu kemudian," teriak Daren dari luar sana.
Seketika, Nata merasa sekujur tubuhnya merinding disko. Di lahap, dikunyah pelan, lalu di telan kemudian? Membayangkannya saja membuat gadis itu merasa ngeri, lebih tepatnya merinding ngeri.
"Dasar hot duda, bisa aja deh gombalannya. Ternyata, kamu bukan hanya tampan, mapan, jago masak, tapi kamu juga pandai menggombal. Pantas saja banyak wanita yang mengejar-ngejar kamu, Mas Daren. Haaaa! Beruntungnya aku bisa mendapatkan cinta kamu my hot duda," gumam Nata berbicara sendiri lalu meraih sikat gigi.
* * * * *
20 menit berlalu, Nata pun telah selesai membersihkan diri. Dia memastikan tubuhnya benar-benar wangi lengkap dengan rambut basahnya yang di gerai panjang. Setelah semuanya sempurna menurutnya, dia pun mulai keluar dari dalam mandi.
Ceklek!
"Mas Daren ke mana? Dih katanya mau melahap aku bulat-bulat," decak Nata lalu keluar dari dalam kamar tersebut.
"Mas! Mas dudaku sayang, kamu dimana?" teriak Nata menatap sekeliling.
"Mas di sini, sayang," jawab Daren dari luar Vila.
"Mas lagi ngapain?'' Nata berjalan menghampiri sang Duda yang saat ini sedang menyalakan mesin mobil.
"Maaf, sayang. Sepertinya kita harus pulang sekarang. Tiba-tiba ada masalah di kantor,'' jawab Daren kemudian.
"Hmm ... Ya udah kalau begitu. Padahal aku masih kangen lho sama Mas.''
Nata menghampiri Daren lalu memeluknya manja. Dia menyandarkan kepalanya di dada bidangnya juga melingkarkan kedua tangannya di pinggang kekasihnya itu. Nata tidak ingin berpisah sedetik pun dengan kekasihnya itu, meskipun mereka masih bisa bertemu setiap harinya.
"Katanya Mas mau melahap aku bulat-bulat?" rengeknya dengan nada suara manja.
"Mas akan melakukannya nanti. Kapan-kapan kita bisa kemari lagi, Hmm ... Gimana kalau minggu depan kita ke sini lagi?"
"Janji?"
"Iya, Mas janji, sayang. Muach!'' Daren memberikan kecu*pan kecil di bibir Nata lembut dan penuh kasih sayang.
Akhirnya, mereka benar-benar meninggalkan Vila tersebut meskipun kerinduan masih mendera jiwa masing-masing. Kendati begitu, mereka masih bisa bertemu setiap harinya nanti. Akan tetapi, hal itu sama sekali berbeda karena keduanya harus menjaga jarak dihadapan Eden maupum orang tua Nata.
Ckiiit!
Mobil pun berhenti tepat di depan kediaman Daren. Keduanya keluar dari dalam mobil secara bersamaan. Sungguh hati sepasang kekasih beda usia itu benar-benar merasa bahagia. Akan tetapi, ada satu hal yang mereka lupakan bahwa seharunya mereka bedua tidak keluar dari mobil yang sama.
"Kalian?"
BERSAMBUNG
...****************...