
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
Jude membuka pintu kamar Nata sang putri. Dia pun masuk ke dalam kamar dimana Nata sedang meringkuk di atas ranjang. Gadis itu bahkan pura-pura memejamkan kedua matanya, malas menanggapi kedatang sang ayah.
"Apa kamu tidur?" tanya Jude duduk di tepi ranjang.
Nata bergeming.
"Daddy cuma ingin minta maaf sama kamu, selama ini Daddy terlalu keras. Seharusnya Daddy tidak bersikap seperti itu sama putri Daddy sendiri. Terlebih, kamu adalah putri satu-satunya yang Daddy punya. Maafkan Daddy Nata."
Nata akhirnya membuka kedua matanya, tapi dia masih enggan mengatakan sepatah katapun.
"Sekarang katakan apa yang kamu inginkan, Daddy akan turuti apapun yang kamu minta."
"Aku udah dewasa. Kalau aku menginginkan sesuatu, tak perlu aku minta izin atau meminta untuk di belikan," jawab Nata akhirnya membuka suara.
"Hmm ... Bukan keinginan itu yang Daddy maksud."
"Lalu?"
"Kamu boleh memilih jodoh kamu sendiri. Daddy gak akan pernah lagi menjodohkan kamu dengan siapapun ataupun mengenakkan kamu dengan laki-laki manapun, asalkan--" Jude sang ayah tidak meneruskan ucapannya.
"Asalkan apa? Asalkan bukan Mas Daren maksud Daddy?"
Jude memalingkan wajahnya, menatap keluar jendela.
"Kenapa diam saja? Lebih baik Daddy keluar, percuma Daddy mengatakan hal yang tidak penting seperti itu. Aku akan melajang seumur hidup, biarkan aku jadi biarawati aja sekalian."
"Hah? Jangan dong, sayang. Daddy sama Mommy sudah ingin sekali menggendong cucu yang lucu.''
"Jangan harap."
"Eu ... Apa kamu yakin kalau hubungan kamu sama Daren belum berakhir sama sekali? Apa selama 5 tahun ini kamu masih berhubungan sama dia?"
"Buat apa Daddy tau? jika akhirnya, Daddy akan meminta aku buat ninggalin dia juga nantinya.''
Jude menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun meraih pergelangan tangan putrinya yang saat ini masih saja memunggungi dirinya. Jude mengusap lembut punggung tangan sang putri membuat Nata akhirnya berbalik dan menatap wajah ayahnya itu dengan tatapan heran. Kenapa ayahnya itu mendadak bersikap lembut terhadapnya?
"Daddy sadar, kalau ternyata sebesar itu cinta kamu sama si Daren itu. Daddy juga sadar tak ada gunanya memisahkan kalian jika hati kalian masih terpaut meskipun jarak membentang dan lima tahun telah berlalu,'' lembut sang ayah membuat Nata seketika bangkit lalu duduk di atas ranjang.
"Dad--'' gumam Nata menatap wajah sang ayah dengan tatapan tidak percaya.
"Kita pulang ke rumah lama, jika kamu memang ingin sekali menikah dengon si Daren, maka Daddy akan segera menikahkan kamu dengan dia."
"Tak perlu, Dad. Dia akan di kota ini ko, semalam aku malahan udah ketemu sama dia," celetuk Nata segera menutup mulutnya menggunakan telapak tangan.
"Hah? Jadi, semalam kamu menginap dengan dia?"
'Mampus! Kenapa aku pake keceplosan segala sih? Ini mulut gak bisa di jaga dikit omongannya,' (batin Nata).
"Hehehehe! Iya, Dad." Nata tersenyum cengengesan.
"Astaga, Natalia Agatha! Suruh ke sini di Daren itu. Akan Daddy suruh dia untuk bertanggung jawab!"
"Hah?"
"Huh ... Hah ... Huh ... Hah ...! Kalau kamu gak mau, Daddy batalkan ucapan Daddy yang tadi itu, mau?"
"Tidak, Dad! Jangan, akan aku suruh Mas Daren buat datang ke sini sekarang juga.''
Grep!
Nata seketika langsung memeluk tubuh sang ayah erat. Dia bahkan tersenyum lebar, sangat lebar benar-benar merasa senang. Rasa syukur pun dia panjatkan di dalam hatinya. Akhirnya, dia pun menarik ucapannya di dalam hati yang mengatakan bahwa dirinya akan melajang seumur hidup.
'Akhirnya aku akan segera menikah dengan Mas duda. Aku juga tak perlu melajang seumur hidup. Ya Tuhan, aku tarik ucapan aku yang tadi,' (batin Nata).
"Terima kasih, Dad. Makasih karena Daddy telah berubah pikiran," lirih Nata kemudian.
"Berterima kasihlah kepada Mommy mu, Daddy dimarahi habis-habisan sama dia."
Jude seketika membulatkan bola matanya lalu mengurai pelukan dan menatap tajam wajah Nata sang putri.
"Hehehehe! Daddy keluar dulu kalau begitu, aku harus menelpon Mas Daren sebentar."
Jude pun bangkit lalu berdiri dan hendak pergi.
"Dad, sekali lagi makasih. Aku senang sekali, sungguh!"
"Hmm!" Sang ayah hanya menjawab dengan gumaman.
Ceklek!
Blug!
Pintu kamar pun di buka dan tutup setelah Jude keluar dari dalam kamar.
* * *
Malam hari.
Nata berjalan mondar-mandir di dalam rumahnya, sudah lebih dari satu jam dia melakukan hal itu. Mas Darennya masih belum juga datang padahal dia telah berjanji akan datang jam 7 malam. Gadis itu bahkan mengigit ujung kuku jari telunjuknya merasa khawatir.
"Kamu sedang apa, Nata? Gak pusing apa dari tadi mondar-mandir kayak gitu? Mommy aja yang liatnya pusing lho," tanya sang ibu tersenyum kecil.
"Mas Daren ko belum datang ya? Tadi katanya mau datang jam 7 malam, sekarang udah jam 7 lewat 10 menit ko masih belum datang juga, gimana sih?"
"Astaga, sayang. Baru juga telat 10 menit. Jam segini memang jalanan sibuk, mungkin Daren terjebak macet. Mendingan kamu duduk deh, pusing Mommy liat kamu kayak gitu."
Tok! Tok! Tok!
Pintu di ketuk 3 kali, Nata dengan begitu antusiasnya segera berlari arah pintu lalu membukanya kemudian.
Ceklek!
Pintu pun di buka lebar. Daren dengan memakai jas berwarna hitam, lengkap dengan sekuntum bunga mawar di tangannya berdiri tepat di depan pintu kini. Sontak gadis itu pun segera memeluk tubuh Daren erat membuat Merry sang ibu menggelengkan kepalanya juga tersenyum cengengesan.
'Sesenang itu kamu ketemu sama si Daren? Nata-nata,' (batin Merry).
"Kenapa Mas lama sekali? Katanya mau datang jam 7 malam?'' rengek Nata mulai mengurai pelukan.
"Sekarang 'kan jam 7, sayang. Mas mampir dulu ke koto bunga, makannya terlambat. Ini untuk kamu, bunga cantik untuk wanita yang sangat cantik,'' ucap Daren mempersembahkan bunga mawar yang dia bawa.
"Waah! Makasih, sayang. Hmm ... Bunganya cantik."
"Persis seperti kamu, Natalia Agatha."
Nata tersenyum lebar lalu mencium aroma wangi bunga tersebut yang tercium begitu menyegarkan.
"Ehem!"
Tiba-tiba Daren mendengar suara Jude dari dalam rumah tersebut. Sontak, laki-laki itu sedikit memundurkan langkah kakinya agar sedikit tercipta jarak di antara tubuhnya dan juga tubuh Nata. Jika boleh berkata jujur, Daren benar-benar merasa gugup, bahkan sangat gugup. Dia tidak menyangka rasanya akan segugup ini saat dirinya berjumpa dengan calon ayah mertua yang sebenarnya adalah sahabat lamanya sendiri.
"Apa kamu mau berdiri saja di situ? Gak sopan, menantu macam apa kamu ini, Daren?" ketus Jude menatap wajah Daren dengan tatapan tajam.
"Hahahaha! Maaf calon ayah mertua, bertemu denganmu sebagai calon mertua benar-benar membuatku merasa gugup jujur saja," jawab Daren, berjalan masuk ke dalam rumah lalu menyalami Jude juga memeluknya sebagai seorang sahabat, hal yang sama pun dia lakukan kepada Merry istri Jude.
"Astaga! Kenapa wajah kamu tidak berubah sama sekali? Aku aja semakin menua bahkan rambutku saja sudah beruban. Sementara kamu, masih tampan seperti dulu,'' ucap Jude menepuk bahu Daren ramah.
"Akh! Kamu bisa aja deh, calon ayah mertua. Hahahaha!" Daren benar-benar salah tingkah.
"Silahkan duduk, ada banyak yang ingin aku bicarakan sama kamu, Daren. Nata sayang, boleh 'kan Daddy bicara 4 mata sama Mas Daren mu ini?''
"Daddy mau bicarain apa emangnya? Ko aku gak boleh ikut ada di sini?"
"Bicarain apa lagi? Tentang hubungan kalian dong, tapi Daddy ingin bicara dari hati ke hati sama dia. Kamu tenang aja, Daddy gak akan ngomongin yang macam-macam ko."
BERSAMBUNG
...****************...