
Bukan hanya Daren saja yang sedang berbahagia, Eden putra satu-satunya yang di miliki oleh Daren pun sedang merasakan kebahagiaan yang sama. Airin istrinya melahirkan di Rumah Sakit yang sama.
"Terima kasih, Airin. Kamu sudah melahirkan putra kita dengan selamat," lirih Eden seraya menggendong buah hatinya yang berjenis kelamin laki-laki.
Cup!
Satu kecupan pun mendarat di kening Airin mesra juga penuh rasa cinta.
Airin yang masih berbaring lemas di atas ranjang pun seketika tersenyum menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu.
"Bukannya Mommy Nata juga melahirkan di sini?" tanya Airin.
"Betul sekali," jawab Eden seraya menatap wajah sang putra yang kini berada di dalam gendongannya.
"Kamu udah ke sana?"
"Belum, sayang. Saya belum sempat ke sana, mana mungkin saya tega ninggalin kamu di sini," jawab Eden mengalihkan pandangan matanya kepada Airin sang istri.
"Hmm! Sebaiknya kamu ke sana dulu, jengukin adik kamu, sayang," pinta Airin.
"Adik? Hahahaha! Rasanya aneh sekali udah tua kayak gini punya adik, mana adik saya sama putra saya ini seumuran lagi," decak Eden seketika tertawa nyaring.
Ceklek!
Pintu ruangan seketika di buka. Baik Eden maupun istrinya sontak menoleh dan menatap ke arah pintu. Daren sang ayah masuk ke dalam ruangan dengan wajah ceria, dia Bahkan tersenyum begitu lebarnya. Daren benar-benar merasa bahagia, dirinya bukan hanya mendapatkan 2 anak kembar berjenis kelamin perempuan, tapi juga mendapatkan cucu laki-laki yang sangat tampan. Cucu pertamanya dari putranya.
"Daddy?" sapa Eden dengan ke dua mata yang berkaca-kaca, entah mengapa perasaanya tiba-tiba saja melow penuh rasa haru.
Ayah dan anak itu sama-sama berjalan menghampiri lalu berdiri saling berhadapan. Daren merentangkan ke dua tangannya lalu memeluk tubuh sang putra.
"Iya, Dad. Terima kasih," jawab Eden lalu kembali mengurai pelukan, "Selamat juga buat Daddy karena telah menjadi Ayah dan Kakek di waktu bersamaan."
Daren seketika tertawa nyaring dengan ke dua mata yang berair, "Benar juga, Daddy menjadi seorang Ayah dan Kakek di waktu yang bersamaan. Daddy benar-benar merasa senang," ucap Daren seraya mengusap ke dua matanya yang terlihat memerah, "Ini cucu Daddy? Ya Tuhan, kamu ganteng sekali, Nak. Ganteng seperti Kakek kamu.
Daren meraih bayi merah yang masih di balut dengan kain bedong dari dalam gendongan Eden. Ke dua matanya nampak menatap wajah sang bayi dengan tatapan mata sayu. Menjadi seorang Kakek adalah hal yang tidak dia duga akan merasakannya secepat ini.
"Ish! Daddy apaan sih? Masa mirip Kakeknya, emangnya Daddy ikut nyumbang apa?" decak Eden seraya tersenyum merasa lucu, "Yang ada juga mirip saya Ayahnya, ngaco!"
"Hahahaha! Bercanda, Eden. Astaga! Baru jadi Ayah sehari aja, udah baperan kayak gini," decak Daren menggelengkan kepalanya merasa tidak habis pikir.
"Bagaimana keadaan Mommy Nata, Dad?" tanya Airin dengan nada suara lemah.
"O iya, Daddy sampai lupa menyapa menantu Daddy yang paling cantik dan paling baik ini," jawab Daren seraya berjalan menghampiri lalu berdiri tepat di tepi ranjang bersama sang cucu di dalam gendongannya, "Terima kasih karena telah melahirkan cucu Daddy dengan selamat," imbuh Daren mengusap kepala Airin lembut dan penuh kasih sayang.
"Sama-sama, Dad. Daddy belum menjawab pertanyaan aku. Bagaimana keadaan Mommy Nata?" Airin mengulangi pertanyaannya dengan wajah serius.
"Mommy kalian sudah baik-baik saja, dia baru saja melahirkan bayi kembar," jawab Daren seraya tersenyum lebar.
"Bayi kembar? Ya Tuhan, jadi saya punya adik kembar?" sahut Eden benar-benar terlihat senang.
"Selamat, Dad. Aku ikut senang sekali mendengarnya, jadi gak sabar ingin segera bertemu dengan si kembar," imbuh Airin yang juga merasa senang mendengar kabar tersebut.
"Hmm! Terima kasih. Daddy juga senang sekali. Di usia Daddy yang sudah semakin tua ini, Tuhan masih memberi Daddy kesempatan untuk menjadi seorang Kakek dan Ayah sekaligus," lirih Daren menatap sang cucu yang masih berada di dalam gendongannya, "Nikmat mana lagi yang Engkau dustakan. Hidup Daddy benar-benar sempurna, sangat sempurna."
BERSAMBUNG