
Dret! Dret! Dret!
Ponsel Eden seketika bergetar. Dia yang saat ini sedang menatap layar laptop pun seketika mengulurkan tangannya meraih ponsel tersebut tanpa menoleh ke arah dimana ponselnya berada.
📞 "Halo,'' Eden mengangkat telpon tanpa menatap layar ponsel terlebih dahulu.
📞 "Aku hamil, Eden,'' ucap seorang wanita di sebrang sana, suaranya terdengar berat juga menahan tangis.
📞 "Airin?''
📞 "Aku hamil, pokoknya kamu harus menikahi aku sekarang juga?''
📞 "Apa? Kamu hamil? Hahahaha! Kamu tidak bercanda kan?"
📞 "Memangnya aku terdengar lagi bercanda apa? Hiks hiks hiks.'' Tangis Airin pun seketika pecah.
📞 "Jangan menangis seperti itu, sayang. Aku pasti nikahi kamu, kalau perlu sekarang juga aku terbang ke sana. Tapi, kita harus bicara dulu sama orang tua kita masing-masing. Aku janji akan segera menemui orang tua kamu secepatnya, sayang.''
📞 "Janji? Kamu gak akan lari dari tanggung jawab 'kan?"
📞 "Astaga, sayang. Siapa yang akan lagi dari tanggung jawab? Aku malahan senang banget mendengar kamu hamil. Kamu tau, aku bakalan punya seorang adik dan putra secara persamaan, bukankah itu adalah hal benar-benar luar biasa, hahahaha!" Tawa Eden terdengar begitu senang.
📞 "Pokoknya, aku gak mau tahu kamu harus menemui orang tua aku secepatnya. Jangan menunggu perutku semakin membesar nanti.''
📞 "Iya, sayang. Kamu tenang aja ya, Aku janji gak akan pernah ninggalin kamu. Sekarang jangan menangis lagi, kamu jaga kesehatan juga jaga kandungan kamu.''
📞 "I love you, Ed."
📞 "I love you too, Airin."
Sambungan telpon pun seketika di tutup. Wajah Eden benar-benar terlihat bahagia. Jika sebagian laki-laki akan merasa terpukul saat mendengar kekasihnya hamil, hal berbeda dirasakan dengan Eden kini. Dia yang memang selalu merasa kesepian tanpa saudara dan hanya tinggal berdua saja dengan sang ayah, merasa mendapatkan anugerah yang tiada terkira.
Eden pun bangkit lalu keluar dari dalam ruangan menuju ruangan dimana Daren sang ayah bekerja saat ini. Pemuda itu akan memberitahukan kabar bahagia ini kepada ayahnya tercinta.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek!
"Kalau masuk ke ruangan orang itu ketuk pintu dulu, Ed. Meskipun masuk ke ruangan Daddy kamu sendiri, di sini Daddy bos kamu lho." Ketus Daren menatap kesal wajah sang putra.
"Maaf, Dad. Maaf ... Aku lagi seneng banget soalnya."
"Kenapa, ada apa? Apa yang membuat kamu seneng kayak gini?"
"Daddy tau? Daddy bakalan punya cucu sebentar lagi."
"Kamu meledek Daddy? Jangan mentang-mentang Daddy udah tua ya. Calon baby Daddy di bilang cucu!"
"Tidak, Dad. Bukan itu maksud aku. Maksudnya, Airin hamil. Pacar aku hamil, Dad. Hahahaha! Bukan hanya Daddy aja yang bakalan punya putra, tapi aku juga. Amazing 'kan?"
Daren seketika merasa terkejut tentu saja. Mereka belum lama berpacaran, tapi kekasih dari putranya itu sudah hamil? Daren mengusap wajahnya kasar. Dia merasa kesal bukan karena tidak bersyukur akan memiliki cucu, tapi dia menyesal karena Eden tidak bisa membatasi diri dalam hal berpacaran.
"Astaga, Ed. Ya Tuhan ... Anak gadis orang kamu hamili?"
"Emangnya kenapa? Aku juga bakalan tanggung jawab ko. Aku akan nikahi dia secepatnya, lagian Daddy juga menanam benih dulu sebelum nikah 'kan?''
Wajah Daren seketika memerah tentu saja. Dia merasa malu bukan main sebenarnya. Namun, dia pun sadar bahwa pepatah yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, itu adalah sebuah kenyataan.
Dia pun tidak bisa menyalahkan Eden sang putra. Karena putranya seperti itu juga karena dirinya yang kurang dalam mendidik putra kesayangannya itu, terutama dirinya telah memberikan contoh yang salah untuk sang putra.
"Bawa Daddy ke rumah pacar kamu. Secepatnya kamu harus segera menikah dengan dia. Jangan di tunda lagi,'' ucap Daren penuh penekanan.
"Justru itu tujuan aku datang ke sini. Aku meminta Daddy buat datangi orang tua Airin dan langsung tentuin tanggal pernikahan kami."
"Hmm ... Ya sudah, sore ini kita terbang ke sana."
"Yes! Akhirnya, aku kawin juga. Hahahaha!" Eden seketika bersorak gembira, tentu saja hal itu membuat Daren tersenyum kecil.
Apakah dia harus mengatakan hal ini adalah sebuah anugerah, dimana dia akan mendapatkan satu orang cucu dan putra secara bersamaan.
"Hahahaha!" Daren tiba-tiba saja tertawa lepas dan keduanya pun tertawa bersama kini.
BERSAMBUNG