
Budiman masuk ke dalam rumah masih mengenakan seragam yang sama seperti saat dia datang ke Rumah Sakit. Laki-laki paruh baya itu berjalan seraya menatap tajam wajah Eden kekasih dari putri semata wayangnya.
Eden yang semula tersenyum penuh percaya diri pun seketika merubah raut wajahnya. Dia menatap wajah Budiman sekejap lalu menunduk dengan wajah pucat pasi. Niatnya untuk berduaan dengan kekasihnya pun harus kandas karena kehadiran orang ke tiga.
"Ayah! Tumben masih siang udah pulang?" tanya Michel seketika berdiri tegak menyambut kedatangan sang ayah, "Biasanya Ayah pulang sore, eu ... Ayah langsung istirahat aja, kasihan Ayah pasti lelah setelah menunaikan tugas negara."
"Yang seharusnya istirahat itu kamu, bukan Ayah," sahut Budiman tiba-tiba saja duduk tepat di samping Eden membuat tubuh laki-laki itu seketika gemetar, "Ayah mau ngobrol banyak sama pacar kamu ini, katanya dia pengen di ajak ngobrol sama Ayah," ujarnya seraya menoleh dan menatap wajah Eden, dia menepuk pundak calon menantunya membuat Eden seketika tersentak.
"Hah! I-iya, Om. Eu ... saya memang ingin ngobrol banyak sama Om," jawab Eden tanpa menoleh, "Tapi sayangnya, saya masih banyak pekerjaan di kantor. Saya sudah terlalu lama meninggalkan kantor, Om."
"Ish, tadi katanya ingin ngobrol banyak sama calon Ayah mertua kamu ini? Om juga asik lho di ajak ngobrol," imbuh Budiman mencengkram bahu Eden kuat juga tersenyum mengejek, "Santai aja, Ngeden. Om tidak segalak yang kamu bayangkan ko, Om baik lho orangnya."
"Maaf, Om. Nama saya Eden, bukan Ngeden," ujar Eden tersenyum cengengesan juga menahan rasa sakit di bahu sebelah kirinya.
"O iya, saya lupa. Eden sama Ngeden agak-agak mirip soalnya," ralat Budiman mulai menurunkan telapak tangannya, "Michel, lebih baik kamu istirahat, kamu baru saja pulang dari Rumah Sakit, wajah kamu juga masih pucat gitu. Pacar kamu biar Ayah yang menemani."
"Aku gak apa-apa, Ayah. Aku udah baik-baik saja," jawab Michel merasa tidak enak jika harus meninggalkan kekasihnya di sana, "Lebih baik Ayah yang istirahat, wajah Ayah terlihat kelelahan sekali."
Budiman menatap tajam wajah Michel, "Sayang, kamu tahu 'kan kalau Ayah tidak suka di bantah."
Michel seketika menundukkan kepalanya.
"Izinkan Ayah untuk mengenal lebih dekat dengan calon menantu Ayah ini, gimana sih?" Budiman melanjutkan ucapannya.
"Tapi Ayah janji gak bakalan ngapa-ngapain dia?" rengek Michel masih dengan kepala yang menunduk.
"Kamu apaan sih? Memangnya si Eden ini mau Ayah apakan? Kamu tidak dengar apa yang Ayah katakan tadi? Ayah hanya ingin mengenal dia lebih dekat."
Michel dengan berat hati harus mengikuti perintah sang ayah. Dia menatap sekilas wajah kekasihnya sebelum akhirnya berbalik dan meninggalkan ruang tamu dengan perasaan gelisah.
'Jangan Michel, jangan tinggalkan saya. Please, saya takut di telan bulat-bulat sama Ayah kamu ini,' batin Eden seraya menatap punggung Michel berharap kekasihnya akan kembali berbalik.
Akan tetapi, harapannya tentu saja sia-sia. Sang kekasih sama sekali tidak memutar badan apalagi menghentikan langkah kakinya. Michel benar-benar menghilang di balik tembok membuat Eden merasa kecewa sekaligus semakin merasa ketakutan.
Ini bukanlah pertama kalinya dia berhadapan dengan calon ayah mertua. Dirinya pun pernah dihadapkan dengan calon ayah mertua ketika dia akan mempersunting Airin beberapa tahun yang lalu. Namun, dirinya tidak setakut ini kala itu. Dia bahkan dengan begitu percaya dirinya melamar Airin di depan ke dua orang tuanya beberapa tahun silam.
Akan tetapi, kenapa rasanya berbeda ketika dia berhadapan dengan Budiman ayahanda Michel? Apa mungkin karena calon mertuanya yang satu ini memakai seragam Tentara yang identik dengan peperangan? Entahlah, yang jelas pembawaan laki-laki bernama Budiman ini terlihat begitu menakutkan di mata Eden.
"Kamu serius mencintai putri saya?" tanya Budiman membuka pembicaraan membuat Eden menyudahi lamunan panjangnya.
"Apa yang kamu sukai dari dia?" Budiman kembali bertanya dengan wajah serius.
Eden terdiam sejenak. Dia menatap lurus ke depan mencoba untuk menelaah rasa cintanya kepada Michel yang datang secara tiba-tiba tanpa di duga juga tanpa dia rencanakan. Dirinya pun seketika merasa bingung, apa yang dia sukai dari sosok sekretarisnya itu?
"Apa cinta itu butuh alasan, Om?" Eden balik bertanya membuat Budiman seketika mengerutkan kening.
"Tentu saja, apa ada mencintai, menyukai seseorang tanpa alasan?"
"Ada, Om. Saya contohnya."
Budiman semakin mengerutkan kening merasa tidak mengerti.
"Om pasti bingung dengan apa yang baru saja saya katakan. Sebelumnya, izinkan saya memperkenalkan diri saya secara resmi," sahut Eden perasaanya sudah mulai tenang, tidak setegang sebelumnya.
"Silahkan, perkenalkan diri kamu secara resmi. Saya tidak mau lho menikahkan putri saya dengan laki-laki yang tidak jelas asal-usulnya."
"Nama saya Eden, saya seorang duda, Om."
"Kamu duda?" Budiman seketika merasa terkejut, ke dua matanya bahkan membuat sempurna merasa tidak menyangka bahwa putrinya ternyata berpacaran dengan seorang duda.
"Betul, Om. Istri saya meninggal setelah dia melahirkan putra kami, putra saya berusia 5 tahun sekarang," jawab Eden sementara Budiman hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, "Jika Om bertanya alasan kenapa saya menyukai, mencintai putri Om, jawabannya saya juga tidak tahu."
Budiman seketika tersenyum miring seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Awalnya, saya tidak berniat untuk menyukai putri Om, apalagi berniat menjadikan dia istri," Eden kembali melanjutkan ucapannya, "Tapi rasa itu hadir tiba-tiba, tidak melihat dia sekejap saja membuat hati saya gelisah. Saya ingin melihat Michel setiap saat, saya bahkan tidak suka dia berdekatan dengan laki-laki lain. Sampai akhirnya saya sadar, bahwa saya telah jatuh cinta sama dia, tapi jika Om masih bertanya alasannya? Hmm! Saya juga belum menemukan jawabannya," jelas Eden panjang kali lebar.
Sementara Budiman hanya diam seribu bahasa tanpa sepatah katapun.
"Saya pernah mendengar dari seseorang, bahwa cinta Itu seperti jelangkung, datang tidak undang pulang tidak di antar, tapi saya tidak setuju jika cinta saya disamakan dengan jelangkung," sahut Eden lagi dengan wajah penuh percaya diri.
"Kenapa?" tanya Budiman keningnya semakin mengkerut akibat terlalu panjangnya penjelasan yang baru saja diucapkan oleh calon menantunya ini.
"Jelangkung itu tidak menetap, dia datang tidak di undang dan pergi tidak di antar. Sedangkan cinta saya untuk putri Om," Eden menarik napas terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya, "Cinta saya untuk putri Om memang datang tidak undang tapi tidak akan pernah pergi meskipun di usir sekalipun, karena apa? Karena cinta ini akan menetap selamanya di hati saya, Om."
BERSAMBUNG