
Eden dan juga Michel baru saja tiba di Rumah Sakit di mana Jackie di rawat. Dia segera menuju ruangan VVIP tempat anak itu mendapatkan perawatan dari Dokter. Eden benar-benar merasa khawatir, dia takut sesuatu yang buruk akan menimpa putra satu-satunya itu. Eden berjalan dengan langkah kaki lebar membuat Michel merasa kesulitan dalam mengimbangi langkah kaki kekasihnya.
"Tunggu, Pak Bos," pinta Michel dengan napas yang tersengal-sengal.
Eden sontak menghentikan langkah kakinya. Dia mengulurkan telapak tangannya tanpa sepatah katapun. Michel segera menerima uluran tangan kekasihnya lalu berjalan beriringan menuju ruangan yang di tuju. Sampai akhirnya, mereka tiba di ruangan tersebut.
Ceklek!
Pintu di buka tanpa di ketuk. Eden segera masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia berjalan menuju ranjang seraya menatap wajah Jackie yang saat ini berbaring lemah dengan wajah pucat pasi.
"Kamu baik-baik saja, Nak? Kamu sakit apa? Tadi pagi kamu masih baik-baik saja," tanya Eden seraya mengusap kepala Jackie lembut dan penuh kasih sayang, "Maafkan Daddy, Nak. Daddy benar-benar minta maaf."
Eden tiba-tiba saja terisak juga menahan rasa sesak. Kenapa hatinya sakit sekali ketika melihat putra semata wayangnya itu terlihat lemah tidak berdaya dengan wajah pucat? Dia tidak menyangka bahwa rasanya akan sesakit ini. Dia baru menyadari bahwa putranya itu teramat sangat berharga di dalam hidupnya.
"Kaka Eden kenapa nangis kayak gini?" tanya Jackie dengan nada suara lemah, "Aku gak apa-apa, sepertinya aku salah memakan sesuatu di sekolah, makannya aku tiba-tiba saja demam dan sempat muntah-muntah tadi."
Eden memejamkan ke dua matanya seraya mengecup punggung tangan Jackie lembut, "Kaka khawatir sama kamu, sayang. Kaka segera datang ke sini setelah Daddy mengabari Kaka tadi."
"Jackie baik-baik saja, Ed. Sepertinya dia keracunan makanan di sekolahnya, beruntung Dokter sudah mengeluarkan jat berbahaya yang sempat dia makan," sahut Nata menjelaskan keadaan Jackie.
Eden menoleh sejenak wajah sang ibu lalu kembali mengalihkan pandangan matanya kepada Jackie, "Memangnya kamu jajan apa di sekolah? Jangan beli jajanan yang macam-macam, Jack," tanya Eden dengan nada suara lembut.
"Iya, Kaka. Aku janji gak bakalan jajan yang macam-macam lagi," jawab Jackie masih dengan nada suara lemah.
Michel nampak menatap sayu wajah Jackie. Mengingat apa yang diceritakan oleh Eden membuatnya menaruh rasa iba kepada anak itu. Meskipun begitu, dia pun dapat merasakan ketulusan hati Eden calon suaminya. Laki-laki itu sudah benar-benar menyesali perbuatannya dan akan menebus waktu yang telah Eden sia-siakan selama 5 tahun ini. Yang harus dia lakukan sekarang adalah, memberi dukungan juga berada di sisi kekasihnya dalam keadaan apapun.
"Michel, bukannya kamu juga baru pulang dari Rumah Sakit ya?" tanya Natalia menoleh dan menatap wajah Michel, "Tante dengar kamu dan Eden terjebak di dalam lift. Apa keadaan kamu sudah baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Tante. Aku hanya syok saja tadi," jawab Michel seketika menyudahi lamunan panjangnya, "Aku khawatir dengan keadaan Jackie, makannya aku ikut Pak Bos datang ke sini."
"Pak Bos?" sahut Daren yang juga berada di sana seketika membulatkan bola matanya, "Masa sama calon suami manggilnya Pak Bos? Gimana sih?" decak Daren seraya tersenyum menertawakan.
"Iya, Om. Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu, hehehe!" Michel seketika tersenyum cengengesan.
"Aduuh! Panggilan macam apa itu? Panggil Kang Mas kek, atau Mas Eden gitu. Ini malah Pak Bos. CK! CK! CK!" Daren kembali berdecak sembari menggelengkan kepalanya.
"Iya, iya deh. Daddy lagi mode ngalah sama kamu, Ed. Yang jelas, pernikahan kalian harus di adalah secepatnya, oke?" jawab Daren seketika memutar bola matanya merasa kesal.
"Nantilah, Dad. Kalau Jackie udah sehat dan Dokter sudah memperbolehkan dia pulang ke rumah, baru kita membicarakan prihal pernikahan kami," sahut Eden seraya menatap wajah Jackie dengan tatapan penuh kasih sayang.
Daren berjalan mendekati ranjang lalu berdiri tepat di samping Eden, dia mengusap kepala Jackie lembut dan penuh kasih sayang, "Jackie sayang, karena sekarang udah ada Kaka Eden, Daddy sama Mommy pulang dulu ya. Kasihan si kembar di rumah," ucapnya kemudian.
"Iya, Dad. Aku gak apa-apa ko di sini sama Kaka Eden," jawab Jackie menatap sayu wajah laki-laki yang dia kira adalah ayahnya.
"Ed, Mommy titip Jackie. Jaga dia dengan baik," pesan Nata penuh penekanan, "Sebenarnya Mommy ingin sekali menemani Jackie di sini, tapi bagaimana dengan si kembar? Kasihan jika mereka harus ikut menginap di Rumah Sakit."
"Iya, Mom. Mommy tenang saja, saya dan Michel akan menjaga Jackie, iya 'kan sayang?" sahut Eden mengalihkan pandangan matanya kepada sang kekasih tercinta.
"Iya Tante, Om. Saya akan menemani Pak Bos di sini, eu ... maksud saya Mas Bos, eh ... mas Eden," jawab Michel seketika merasa gugup, dirinya masih belum terbiasa memanggil atasannya dengan sebutan Mas seperti yang di sarankan oleh calon ayah mertuanya.
"Hahahaha! Santai saja, sayang. Kenapa kamu jadi gugup kayak gini?" Eden seketika tertawa nyaring, ekspresi wajah kekasihnya terlihat begitu menggemaskan.
"Ya sudah, Daddy sama Mommy pulang dulu ya. Kalian baik-baik di sini, kalau ada apa-apa segera hubungi kami, oke?" Pamit Nata lalu berjalan meninggalkan ruangan tersebut bersama suaminya tentu saja.
Sepeninggal Daren dan juga Natalia Agatha, kini tinggallah mereka bertiga. Jackie nampak menatap sayu wajah Eden. Sepertinya anak itu ingin sekali menanyakan sesuatu yang terasa mengusik hatinya.
"Kamu kenapa, sayang? Apa kamu menginginkan sesuatu?" tanya Eden menyadari ada yang aneh dengan tatapan mata putranya.
"Boleh aku bertanya sesuatu sama Kaka?" tanya Jackie.
"Tentu saja boleh, sayang. Katakan, kamu ingin bertanya apa sama Kaka?"
"Kenapa Kaka mengatakan sesuatu yang aneh tadi?"
"Maksud kamu?"
"Kenapa Kaka memanggil Kaka sendiri dengan sebutan Daddy tadi? Daddy aku 'kan Daddy Daren?"
BERSAMBUNG