
Eden yang semula duduk di tepian meja seketika berdiri tegak. Apa dirinya baru saja di tembak oleh seorang wanita? Dengan begitu beraninya Michel mengatakan bahwa dia menyukai dirinya. Eden tersenyum menyeringai, dia sama sekali tidak mempercayai apa yang baru saja diucapkan oleh wanita ini.
"Jangan bercanda, Michel. Kamu bilang sama saya kalau kamu menyukai saya?" tanya Eden berdiri tepat di depan wanita itu, "Jangan pikir saya akan percaya dengan apa yang kamu katakan."
Michel balas menatap wajah Eden lekat hingga ke dua mata mereka seketika saling bertemu, "Saya tidak memaksa Bapak untuk mempercayai saya ko, saya hanya bicara jujur Bapak Eden yang terhormat," jawab Michel penuh penekanan.
"Jadi secara tidak langsung, kamu sedang menembak saya, begitu?" Eden lagi-lagi tersenyum menyeringai.
"Siapa bilang? Kalau saya nembak Bapak, pasti saya akan bertanya, 'Apa kamu mau jadi pacar aku?'" jawab Michel dengan penuh percaya diri, "Apa saya ada bertanya seperti itu sama Bapak? Tidak, kan?"
"Benar juga. Jadi gimana, kamu mau tidak jadi pacar bayaran saya?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Saya maunya jadi pacar beneran. Percuma kalau cuma Pacar bohongan."
"Hah?"
Eden tiba-tiba saja merasa gugup. Tatapan mata Michel kian lekat bahkan semakin intens dalam menatap wajahnya. Laki-laki itu seketika memalingkan wajahnya ke arah lain karena tatapan mata wanita bernama Michel ini terlihat begitu tajam bak busur panah yang siap di tembakan.
"Kenapa Bapak diam saja? Sekarang Bapak pilih, mau jadi pacar benerannya saya, atau dijodohkan sama wanita pilihan Bos Daren?" tanya Michel membuat Eden semakin merasa bingung, "Kalau saya sih gak bakalan maksa Bapak lho, bagi saya mengagumi Bapak dalam diam saja sudah cukup, mencintai tanpa memiliki adalah resiko saya karena telah berani menyukai Bapak yang sempurna ini."
Eden diam seribu bahasa. Jantungnya tiba-tiba saja berdetak tidak beraturan, keringat dingin bahkan mulai membasahi pelipis wajahnya. Ini adalah pertama kalinya dia berada sangat dekat dengan seorang wanita setelah sekian lama.
"Jadi gimana, Pak Eden? Apa Bapak akan tetap menerima perjodohan itu? Atau, Bapak akan mencoba berkencan dengan saya?" Michel kembali bertanya.
"Tapi saya tidak cinta sama kamu, Michel."
"Cinta bisa datang belakangan."
"Saya hanya mencintai Airin, Istri saya."
"Tapi istri Bapak sudah tiada."
"Tapi cinta saya hanya untuk dia."
"Kenapa Bapak tidak mencoba untuk mencintai saya?"
"Saya tidak bisa."
"Bapak tidak mau mencoba bukan tidak bisa. Apa Bapak tahu, pintu tidak akan terbuka dengan sendirinya jika tidak ada yang membukanya. Hal itu juga yang terjadi dengan Bapak, bagaimana Bapak dapat mencintai wanita lain jika Bapak tidak pernah membuka pintu hati Bapak."
Wajah Eden seketika merah merona. Tubuh mereka berdua pun semakin dekat saja karena Michel dengan sengaja mendekatkan tubuhnya sendiri juga kian intens dalam menatap wajah atasannya itu. Eden sama sekali tidak menyangka bahwa skretarisnya akan bersikap seberani ini, sisi lain yang tidak dia ketahui selama ini.
"Buka pintu hati Bapak untuk saya, maka saya akan mencoba untuk masuk dan mengisi kekosongan ruang di dalam hati Bapak ini," lirih Michel seraya meletakan jari telunjuknya di dada sebelah kiri laki-laki bernama Eden itu, "Saya akan mengobati rasa kesepian yang selama ini Bapak rasakan."
"Si-siapa bilang saya kesepian?" tanya Eden terbata-bata semakin merasa gugup saja, "Sa-saya tidak kesepian sama sekali."
"Ten-tentu saja."
Michel seketika memundurkan langkah kakinya hingga terciptalah jarak di antara mereka. Seketika itu juga, Eden segera menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Laki-laki itu bahkan memejamkan ke dua matanya sejenak seraya mengusap dada sebelah kiri di mana jantungnya sempat berdetak kencang.
'Astaga! Saya baru tahu kalau si Michel bisa seagresif ini? Selama ini saya kira dia ini pendiam, ternyata sebaliknya,' batin Eden seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Jadi gimana, apa yang akan Bapak lakukan sekarang?" Michel kembali bertanya, "Apa Bapak akan menerima perjodohan itu, atau menerima saya sebagai pacar Bapak?"
"Kamu luar biasa Michel, selain pintar, kamu juga agresif," decak Eden berbalik dan berjalan ke arah kursi lalu duduk dengan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.
"Agresif? Bapak terlalu berlebihan menilai saya. Saya bukannya agresif, tapi saya hanya mencoba untuk membantu Bapak, 'kan Bapak sendiri yang meminta tolong sama saya," jawab Michel dengan penuh percaya diri.
"Oke, kita pacaran," jawab Eden tidak ada pilihan lain lagi.
"Pacar beneran, kan? Bukan pacar bayaran?"
"Iya-iya, tapi--"
"Tapi?" Michel mengerutkan kening.
"Jika dalam kurun waktu 3 bulan saya masih tetap tidak dapat mencintai kamu, maka kita harus putus apapun yang terjadi."
Michel seketika berjalan mondar-mandir tepat di depan meja, "Jadi, kita pacaran, terus jika dalam kurun waktu 3 bulan Bapak masih belum bisa mencintai saya, maka Bapak akan memutuskan saya," sahut Michel mengulangi apa yang baru saja di ucapkan oleh Eden, "Tapi, jika dalam waktu 3 bulan ternyata Bapak mencintai saya maka--"
"Saya akan segera menikahi kamu," sela Eden penuh keyakinan.
Michel tersenyum lebar merasa senang, "Deal?" ujarnya seraya mengulurkan telapak tangannya untuk bersalaman sebagai tanda sepakat.
"Deal," jawab Eden menerima uluran tangan wanita bernama Michel yang tidak lain dan tidak bukan adalah sekertatisnya sendiri.
Michel benar-benar merasa senang. Akhirnya cintanya berlabuh dengan sempurna meskipun belum berlayar dengan semestinya. Namun, Michel yakin betul bahwa perasaan cinta itu akan segera hadir di dalam lubuk hati laki-laki bernama Eden ini.
Sedangkan Eden, dia yakin bahwa hubungan mereka anak kandas dalam kurun waktu 3 bulan, karena dirinya memang tidak berniat untuk membuka hati apa lagi mencoba untuk mencintai wanita ini. Cintanya hanya untuk Airin, istrinya yang telah tiada.
Ceklek!
Pintu tiba-tiba saja di buka tanpa di ketuk. Daren masuk ke dalam ruangan begitu saja tanpa di duga juga mengejutkan mereka berdua. Dia menatap wajah Eden putranya juga wajah Michel secara bergantian dengan kening yang dikerutkan.
"Astaga! Di sini kalian rupanya," decak Daren seraya menggelengkan kepalanya juga berdiri tepat di samping Michel, "Mana laporan yang saya minta? Saya nungguin dari tadi lho. Masa saya yang harus datang kemari sih!?" sahut Daren menahan rasa kesal.
"Jangan marah-marah sama pacar saya dong, Dad. Kasihan dia. Michel saya ini tidak salah, saya yang salah," jawab Eden seketika berdiri tegak.
"Apa? Kamu bilang apa tadi? Pacar?" tanya Daren merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh sang putra, "Kalian tidak sedang membodohi saya, kan?"
BERSAMBUNG