
Baik Daren maupun Nata seketika merasa tercengang mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Eden. Bagaimana bisa dia mengatakan hal yang sangat tidak manusiawi kepada darah dagingnya sendiri? Kehilangan sang istri adalah hal yang sangat menyakitkan bagi siapapun yang mengalaminya, tapi apa yang menimpa Airin bukanlah kesalahan baby Jackie. Semua yang terjadi adalah takdir yang telah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
"Ed--" Daren hendak mengejar putranya yang pergi begitu saja tanpa mengindahkan tangisan Jackie putranya sendiri.
"Tunggu, Mas," pinta Nata menahan kepergian suaminya, "Gak usah di kejar, beri waktu kepada Eden untuk menenangkan diri. Biarkan dia sendiri dulu."
Daren seketika memejamkan ke dua matanya seraya menarik napas berat. Dia tahu lebih dari siapapun kesakitan yang saat ini sedang dirasakan oleh Eden, tapi dirinya sama sekali tidak menyangka jika putranya itu akan melimpahkan semua kesalahan kepada bayi yang masih merah dan tidak tahu apa-apa itu.
"Mas gak nyangka kalau Eden akan mengatakan hal seperti itu," decak Daren seketika mengusap wajahnya kasar.
"Mungkin karena Eden masih syok, Mas. Dia masih belum menerima semua ini," jelas Nata seraya menimang bayi Jackie yang belum berhenti menangis. Daren menatap wajah Jackie dengan tatapan mata sayu penuh rasa iba.
"Sini sama Kakek, sayang," ucap Daren seraya meraih sang bayi dari dalam gendongan istrinya, "Cup! Cup! Cup! Sayangnya Kakek, udah ya jangan nangis lagi, ada Kakek di sini, sayang."
Tanpa sadar, ke dua mata Daren mulai berkaca-kaca seraya menatap cucu pertamanya itu. Bayi malang yang harus di tinggalkan untuk selamanya oleh ibu kandungnya bahkan di benci oleh ayahnya sendiri.
'Malang sekali nasib kamu, Nak. Ayahmu sendiri membenci kamu, padahal kamu tidak salah sama sekali, tapi kamu tidak usah khawatir masih ada Kakek. Jika Ayahmu menolak di panggil Ayah sama kamu, maka kamu boleh memanggil Kakek dengan sebutan Ayah,' batin Daren, buliran bening seketika bergulir dari pelupuk matanya.
* * *
5 Tahun Kemudian
"Mas bisa lebih cepat tidak? Kita sudah terlambat, Mas. Astaga!" decak Nata sementara si kembar dan Jackie sudah menunggu di dalam mobil.
Hari ini adalah hari pertama mereka bertiga sekolah di salah satu Taman Kanak-Kanak di kota Jakarta. Mereka terlihat seperti kembar 3, padahal seperti diketahui, bahwa Jackie adalah putra dari Eden yang kehadirannya tidak pernah di anggap sampai saat ini.
"Apa kalian mau berangkat sekolah?" tanya Eden yang kebetulan hendak berangkat ke kantor seperti biasa.
"Iya, Ed. Tapi Daddy-mu itu lho, dia lelet sekali. Padahal udah siang ini," jawab Nata seraya menatap arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Daddy memang lambat kaya keong," celetuk Eden seraya tersenyum kecil.
"Eu ... gimana kalau kamu saja yang mengantarkan kami ke sekolah? Kalau harus nungguin Daddy-mu bisa jamuran Mommy," pinta Nata penuh harap.
Eden terdiam tidak menanggapi ucapan Nata, dia menatap ke dalam mobil di mana si kembar dan juga Jackie sedang berada di dalam sana. Sampai saat ini, dirinya tidak pernah menganggap anak itu sebagai buah hatinya. Rasa sakit di dalam hati seorang Eden masih terasa begitu menyiksa ketika dirinya menatap wajah Jackie putranya sendiri.
"Hmm! Saya buru-buru, Mom. Maaf ya," jawab Eden berjalan dengan tergesa-gesa menuju mobilnya sendiri lalu masuk ke dalam sana.
"Tapi, Ed," sahut Nata seraya menarik napas berat, "Astaga, anak itu. Sampai kapan dia akan bersikap seperti ini kepada Jackie? Kasihan dia," decak Nata merasa tidak habis pikir.
Mobil milik Eden pun di nyalakan lalu melesat begitu saja meninggalkan halaman.
"Kenapa lama sekali, Mom?" tanya Jackie mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil.
"Iya, sayang. Sepertinya Daddy masih kebelet di kamar mandi. Tunggu sebentar lagi ya," pinta Nata seraya tersenyum.
"Maaf sayang, Mas kebelet tadi," ucap Daren yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa, "Sepertinya Mas terkena diare. Kita berangkat sekarang?"
"Kamu baik-baik saja, Mas? Kalau nanti di kantor Mas bolak-balik ke kamar mandi, gimana?" tanya Nata merasa khawatir.
"Mas udah bawa obat diare, nanti Mas minum di kantor," jawab Daren seraya membuka pintu mobil lalu masuk ke dalamnya kemudian.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Nata. Dia duduk di kursi depan sementara 3 anak mereka duduk di kursi belakang. Mesin mobil pun dinyalakan lalu perlahan meninggalkan halaman dan melesat di jalanan.
* * *
Di Perjalanan
"Mom, nanti Mommy tidak langsung pulang, kan? Aku gak mau di tinggal di sekolah lho," rengek Axelia dengan nada suara manja.
"Iya, Mom. Aku maunya dekat sama Mommy terus," imbuh Axela dengan nada suara yang sama.
"Iya, sayang. Mommy gak bakalan tinggalin kalian bertiga," jawab Nata menoleh ke arah belakang.
"Kan ada Kaka Jackie, kenapa kalian harus takut?" sahut Jackie dengan penuh percaya diri.
"Ikh, Kaka Jackie 'kan anak kecil juga seperti kami," ketus Axelia menoleh dam menatap wajah Jackie.
"Stt! Sudah, jangan berdebat kayak gitu, Mommy janji gak bakalan ninggalin kalian bertiga. Lagian hari ini 'kan hari pertama kalian sekolah," imbuh Nata menatap wajah ketiganya secara bergantian.
Daren hanya tersenyum kecil mendengarkan celotekan anak-anaknya yang terdengar lucu dan menggemaskan. Kehidupan rumah tangganya benar-benar menjadi lebih berwarna semenjak kehadiran mereka bertiga. Daren tidak menyangka di usianya yang sudah menginjak kepala 5, dia masih di beri kesempatan untuk merasakan bahagianya mendengarkan suara cempeleng anak-anak yang sangat dia sayangi.
"Mom, Dad. Boleh aku bertanya sesuatu sama kalian?" tanya Jackie berdiri tepat di belakang jok mobil di mana Nata duduk saat ini.
"Kamu mau bertanya apa, sayang?" jawab Nata menoleh dan menatap wajah anak itu.
"Eu ... kenapa sih Kaka Eden tidak pernah mau dekat sama aku?" tanya Jackie raut wajahnya seketika berubah muram, "Kaka Eden selalu bersikap baik sama Xela dan Xelia, tapi kenapa selalu bersikap ketus sama aku?"
Nata dan Daren seketika saling melirik wajah satu sama lain. Mereka bingung harus menjawab apa atas pertanyaan cucu mereka ini. Bagaimana perasaan Jackie jika dia sampai tahu bahwa Eden sebenarnya adalah ayah kandungnya sendiri? Membayangkannya saja mereka tidak sanggup.
"Kenapa Daddy sama Mommy diam saja?" tanya Jackie menatap wajah Nata dan juga Daren secara bergantian dengan kening yang dikerutkan.
"Eu ... sayang, kita sudah sampai di sekolah kalian, ngobrolin Kaka Eden-nya nanti lagi ya," jawab Daren seraya menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal sama sekali.
"Apa Kaka Eden membenci aku? Tapi kenapa? Sebenarnya salah aku apa? Aku sama si kembar sama-sama adiknya Kaka Eden, 'kan?"
BERSAMBUNG