
Eden berjalan mondar-mandir tepat di hadapan sahabat dan ayahnya sendiri yang sepertinya memang menyembunyikan sesuatu darinya. Dia menatap kedua tersangka yang saat ini menundukkan kepala layaknya seorang maling yang baru saja tertangkap basah oleh warga. Daren bahkan tidak mampu menjelaskan apapun kepada putra semata wayangnya itu.
"Katakan dengan jujur, sedang apa kalian berduaan di kamar?" tanya Eden penuh selidik, menatap wajah Nata dan juga ayahnya secara bergantian.
"Kami--" Nata dan juga Daren secara bersamaan.
"Satu-satu! Nata, coba kamu jelaskan. Sedang apa kamu di dalam kamar Daddy? Apa kamu sengaja merangkak ke sana dan ngintipin Daddy aku ini? Aku su--"
"Bukan seperti itu kejadian yang sebenarnya, Daddy yang--"
"Daddy diam. Aku gak nanya sama Daddy," sela Eden menatap wajah sang ayah dengan tatapan tajam.
"Baik," jawab Daren patuh.
"Jawab, Nat. Kenapa kamu diam aja.''
"Siapa yang diam aja, aku mau jelasin ko. Kamunya aja yang nyerocos terus."
'Bagus Nata, lawan aja tuh anak kurang ajar ini,' (batin Daren.)
"Ya udah jelasin sekarang."
" Sebenarnya, aku sama Mas Daren--"
"Mas? Mas Daren? Hahahaha! Sejak kapan kamu manggil Daddy dengan sebutan Mas?"
"Cukup, Ed. Jangan terlalu keras sama calon Mommy kamu ini.''
"Calon Mommy? Hahahaha! Daddy pasti bercanda 'kan? Dia? Si Nata ini calon Mommy sambung aku? Gak, aku gak percaya," decak Eden membulatkan bola matanya.
"Semua itu benar, Ed. Aku sama ayah kamu memang pacaran. Kenapa memangnya? Gak boleh?" ucap Nata dengan penuh percaya diri.
Bruk!
Eden seketika terduduk lemas di atas kursi. Jadi kecurigaannya selama ini benar? Wanita yang selama ini di sembunyikan oleh ayahnya itu adalah wanita yang dia kenal. Itu sebabnya sang ayah mati-matian berbohong saat di Vila, bahkan sampai mengancam akan mencoret namanya dari kartu keluarga.
Hebat ... Kedua orang ini benar-benar pandai menyembunyikan rahasia. Eden menarik napas berat lalu menghembuskannya kasar. Dia pun mengusap wajahnya dengan telapak tangan seraya memejamkan kedua matanya kini. Mana bisa teman masa kecilnya, sahabatnya sendiri bahkan dia sempat mengatakan bahwa mereka berdua seperti saudara kembar yang sulit dipisahkan, kini akan menjadi ibu sambungnya?
Akh ... Rasanya Eden benar-benar sulit mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini. Apakah dunia ini sudah terbalik? Batin Eden merasa tidak percaya.
"Kami saling mencintai, meskipun kamu menentang. Kami tak akan pernah gentar. Kamu tahu sendiri kalau sudah lama aku mengagumi Daddy kamu ini," lirih Nata kemudian.
"Usia kalian itu beda jauh, Nata lebih pantas jadi putri Daddy. Mana mungkin dia menjadi istri Daddy?" Eden sedikit menaikan suaranya.
"Apa salahnya? Banyak ko pasangan di luaran yang menikah dengan usia yang terpaut cukup jauh. Kenapa Daddy gak bisa? Apakah kamu gak tahu kalau cinta itu buta? Seperti kata Nata waktu itu, cinta itu seperti jelangkung, datang tak di undang dan pulang tak di antar. Hanya saja cinta Daddy sama Nata ini agak beda dengan jelangkung.''
"Hah? Maksud Mas?" Nata menoleh dan menatap wajah sang duda kemudian.
"Kalau jelangkung itu, datang tak di undang dan pulang tak di antar, tapi kalau cinta Mas sama kamu itu, datang tak di undang dan tak akan pulang-pulang selamanya. Cinta Mas sama kamu itu gak akan habis di makan waktu, gak akan hilang di telan jaman. Walau aral melintang di depan, Mas Daren mu ini gak akan pernah ninggalin kamu, sayang."
"Oh Mas Daren ku sayang, aku benar-benar tersentuh dengan ucapan kamu ini. Makin cinta deh sama kamu, Mas!"
"Sudah cukup, gak lucu dan kalian sama sekali gak cocok. Titik!" Ketus Eden bangkit lalu berjalan begitu saja meninggalkan mereka berdua dengan perasaan kesal.
"Ed ... Eden! Mau kemana kamu? Kita masih belum selesai bicara!" teriak Daren berdiri dan hendak mengejar.
"Biarkan saja, Mas. Beri Eden waktu untuk berpikir. Walau bagaimanapun, dia pasti terkejut dan sulit menerima hal ini pada awalnya. Kita tunggu saja, biarkan dia sendiri dulu, aku yakin hatinya akan luluh dan menerima aku juga pada akhirnya," lirih Nata menahan.
"Makasih, sayang. Mas benar-benar berterima kasih karena kamu mau mengerti, Mas janji akan bicara pelan-pelan sama dia. Ternyata Mas gak salah dalam memilih calon istri. Kamu bukan hanya, muda, bening, dan cantik, tapi kamu juga dewasa. Mas semakin cinta sama kamu, sayang. Muach ...''
Satu kec*pan pun mendarat di kening Nata kini. Gadis itu pun sontak memejamkan matanya saat bibir lembut kekasihnya itu mendarat sempurna di keningnya itu. Baru saja mereka menyelesaikan kesalahpahaman yang membuat keduanya bertengkar hebat, sekarang keduanya pun harus menghadapi masalah yang lebih besar lagi yaitu meluluhkan sikap keras kepala Eden.
"Aku pulang dulu, Mas. Aku minta jangan terlalu keras sama dia," pamit Nata hendak pergi.
"Tunggu, sayang."
Nata sontak mengurungkan niatnya.
"Ada apa lagi, Mas?" tanya Nata menatap lekat wajah Daren sang duda kesayangan.
"Jika masalah Eden sudah selesai dan dia merestui hubungan kita. Izinkan Mas untuk meminta kamu secara resmi kepada Jude, eu ... Maksud Mas, melamar kamu secara resmi dihadapan kedua orang tua kamu." Lirih Daren bersungguh-sungguh.
"Mas dudaku sayang," guman Nata penuh haru.
BERSAMBUNG