
"Kamu yakin mau ikut suamimu ke kota?" tanya Merry sang ibu, suaranya terdengar berat.
"Mommy gak apa-apa 'kan kalau kami pindah? Tadinya 'kan Mas Daren yang akan pindah ke sini, tapi setelah di pikir-pikir kasian dia kalau harus bolak-balik keluar kota.'' Nata menatap lekat wajah sang ibu yang terlihat muram, tapi masih saja mencoba untuk tersenyum.
"Ya kalau Mommy si gak masalah, sudah kewajiban kamu ikut kemanapun suamimu pergi. Seperti Mommy, Mommy juga ikut kemanapun Daddymu di tugaskan."
"Tapi, apa Mommy baik-baik saja aku tinggal?"
"Apa maksud kamu? Tentu saja Mommy baik-baik saja, hal seperti ini pasti akan terjadi pada anak perempuan. Kalau kamu sudah menikah tentu saja kamu akan ikut suami kamu, tidak mungkin 'kan kamu terus-terusan ngintilin kami? Kasian suami kamu nanti.''
"Hmm ... Mommy ... Aku tahu Mommy sedih sebenarnya, tapi mau gimana lagi. Aku gak bisa jauh dari Mas Daren, apa lagi aku dalam keadaan hamil seperti ini. Aku janji bakalan sering ngunjungi kalian ke sini,'' lirih Nata, seketika langsung memeluk tubuh sang ibu. Dia pun merasa berat sebenarnya harus berpisah dengan kedua orang tuanya itu.
"Gak apa-apa, sayang. Mommy doakan semoga rumah tangga kamu adem ayem. Tidak ada masalah apapun, jika pun ada, anggap saja itu sebagai cobaan yang harus kalian lewati. Yang paling penting lagi, jaga cucu Mommy, makan yang teratur dan jangan melakukan pekerjaan rumah yang terlalu berat. Eu ... Memangnya kapan rencananya kalian mau pindah?''
"Entahlah, aku juga belum mengatakan hal ini kepada Daddy, aku gak tau apa beliau akan ngijinin atau tidak kalau aku pindah, secara 'kan Daddy sudah mewanti-wanti dari sebelum kami menikah, meminta Mas Daren buat gak bawa aku jauh dari beliau.''
"Ya sudah, nanti Mommy bantu bicarakan hal ini kepada Daddy kamu, oke?''
Nata mengganggukan kepala lalu menyandarkan kepalanya di pundak sang ibu.
* * *
Satu minggu kemudian.
Daren benar-benar memboyong Nata sang istri untuk pindah keluar kota atas persetujuan Jude sang ayah mertua tentu saja. Perpisahan mereka pun terlihat penuh haru mengingat Nata adalah putri satu-satunya yang mereka punya dan mereka sama sekali belum pernah berpisah sekalipun dengan sang putri.
Jude bahkan tidak kuasa menahan air matanya saat dia melepaskan kepergian Natalia Agatha. Dia memeluk erat tubuh Nata sebelum putri kesayanganya itu benar-benar meninggalkan kediamannya.
"Daddy kenapa menangis? Cengeng banget sih," lirih Nata setengah bercanda.
"Daddy gak menyangka kalau rasanya akan sesedih ini saat melepaskan kamu pergi, sayang," jawab sang ayah, mengurai pelukan lalu menatap wajah putrinya dengan tatapan sayu.
"Aku cuma pindah keluar kota ko, Daddy juga masih bisa mengunjungiku kapan saja." Nata mencoba untuk tersenyum meskipun hatinya pun merasa berat untuk berpisah dengan sang ayah.
"Iya-iya, Daddy janji akan sering mengunjungi kamu di sana. Jaga diri baik-baik, jaga juga calon cucu Daddy ini. Istirahat yang cukup dan jangan mengerjakan pekerjaan yang berat-berat.''
Nata menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.
"Daren, aku titip putriku, aku percayakan dia kepadamu, awas aja kalau kamu sampai menyakiti dia. Kanu bakalan berhadapan sama aku nanti,'' ucap Jude, mengalihkan padanngannya kepada Daren sang menantu.
"Pasti Daddy mertua. Saya pasti akan menjaga Nata dengan baik, apalagi dia sedang dalam keadaan hamil muda kayak gini. Pokoknya, Daddy mertua gak usah khawatir. Percayakan Nata sama saya,'' jawab Daren penuh keyakinan.
Nata kini mengalihkan padanagannya kepada sang ibu yang lebih terlihat tegar, tapi dia yakin sekali bahwa ibunya memendam kesedihan yang mendalam atas perpisahan ini. Namun, ibunya adalah orang yang paling pandai dalam hal menyembunyikan perasaannya.
"Mommy ... Hmmm ... Jaga diri baik-baik, kalau Daddy nakal jangan sungkan buat marahin dia. Jaga kesehatan, dan jangan lupa makan yang banyak," lirih Nata memeluk erat tubuh sang ibu kini.
"Iya, Mom. Akan aku ingat semua pesan Mommy ini. Aku janji akan menjadi istri yang berbakti untuk Mas Daren."
Keduanya pun mulai mengurai pelukan. Daren dan juga Nata mulai berjalan ke arah mobil dengan tatapan mata yang tidak beranjak sedikitpun dari kedua orang tuanya. Buliran air mata pun seketika membasahi wajah Natalia Agatha saat sang suami mulai membukakan pintu mobil dan memintanya untuk masuk ke dalam sana.
Ceklek!
Blug!
Pintu mobil pun di buka dan di tutup kemudian setelah Nata masuk dan duduk di dalam mobil dengan perasaan sedih. Dia pun menatap ke arah luar dimana kedua orang tuanya berdiri menatap mobil yang dia naikinya.
Perlahan, mobil pun mulai berjalan pelan meninggalkan halaman sampai akhirnya melesat di jalanan. Nata hanya bisa menatap wajah kedua orang tuanya dengan tatapan sayu penuh dengan kesedihan.
Tangannya nampak melambai tak henti-henti sampai kedua orang tuanya itu benar-benar tidak terlihat lagi. Mobil pun mulai meninggalkan kota itu menuju kota dimana dia akan memulai hidup baru sebagai istri dari laki-laki bernama Daren.
* * *
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari 6 jam. Mereka pun akhirnya sampai di tempat tujuan. Rumah yang sudah selama lebih dari 5 tahun Nata tinggalkan. Rumah yang memiliki banyak kenangan bagi Nata tentu saja.
Nata menatap rumah tersebut dengan seksama dimana rumah itu masih saja terlihat sama. Hanya cat temboknya saja yang nampak sudah berubah terlihat lebih cerah. Dia pun mengalihkan padangannya kepada Daren sang suami yang saat ini berdiri tepat di sampingnya kini.
"Welcome to home, istriku," ucap Daren merentangkan satu tangannya seraya tersenyum lebar.
"Hmm ... Aku gak nyangka bakalan balik lagi ke rumah ini. Rumah Daddy yang lama juga masih terlihat sama,'' jawab Nata mengalihkan pandangan matanya ke arah samping dimana rumah lama sang ayah masih berdiri kokoh di tempat yang sama.
Keduanya pun mulai berjalan dan hendak masuk ke dalam rumah. Daren nampak menarik koper besar milik sang istri sementara tangan lainnya menggandeng mesra pinggang Natalia.
Ceklek!
Pintu pun di buka, keduanya pun masuk ke dalam rumah dengan perasaan bahagia tentu saja.
"Ko sepi banget? Eden gak ada di rumah?" tanya Nata menatap sekeliling.
"Entahlah, padahal ini 'kan hari libur, tapi mobilnya ada di ko di belakang," jawab Daren yang juga mengedarkan pandangan matanya menatap sekeliling rumah.
Ceklek!
Pintu kamar Eden pun seketika buka. Pemuda itu keluar dari dalam kamar bersama seorang wanita. Mereka bahkan terlihat begitu mesra. Nata nampak membulatkan kedua matanya, dia mengenali wanita itu.
"Airin?"
BERSAMBUNG
...****************...