MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Tahan, Mas. Tahan.



Hanya dalam sekejap mata, Nata sudah berganti pakaian menggunakan jaket jeans milik Daren sang kekasih. Jaket tersebut dikancingkan secara sempurna hingga bagian atas tubuh gadis itu benar-benar tertutup rapat kini.


Daren yang menyaksikan hal itu hanya bisa menelan ludah kasar juga celana jeans yang dia kenakan mendadak terasa sesak kini. Jika boleh berkata jujut, dia tidak menyangka bahwa gadisnya itu akan melakukan hal itu tepat di depan matanya, sungguh sesuatu yang sama sekali tidak dia duga sebelumnya.


"Nat, kamu-- Astaga ... Tega sekali kamu melakukan hal seperti ini di depan Mas?" tanya Daren dengan nada suara terbata-bata.


Nata hanya tersenyum cengengesan seraya menggerai panjang rambut basahnya juga mengibaskannya secara berkali-kali membuat kecantikannya kian terpancar lebih memukau dari biasanya. Lagi-lagi Daren hanya bisa menelan ludahnya kasar. Dirinya tidak tahu apakah dia masih bisa menahan gejolak di dalam sana yang kian berontak membuat jiwanya semakin merasa tersiksa.


"Ya maaf, Mas. Aku kedinginan soalnya. Hujannya mendadak turun, deras lagi. Gak ada tempat buat berteduh juga di sini, jadi terpaksa deh," jawab Nata dengan begitu polosnya.


"Ya tetap saja, kamu gak mikirin perasaan Mas, sayang. Daren junior tegang tahu. Lagian kamu gak malu apa ganti pakaian di depan Mas?"


"Kenapa harus malu segala? Toh tubuh aku ini akan menjadi milik Mas juga nantiya, dari ujung kaki hingga ujung rambut semuanya buat Mas. Masih gress lho, tersegel lagi."


Glegek!


Lagi dan lagi, Daren kembali menelan ludahnya kasar. Kali ini dia melakukannya secara berkali-kali. Daren menatap wajah Nata dengan tatapan mata sayu merasa tersentuh dengan ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Nata kekasih tercinta.


"Mas kenapa? Inget ya, semua ini milik Mas kalau Mas sudah membawa aku ke penghulu dan Mas sah menjadi suami aku suatu saat ini. Mengerti?" Nata penuh penekanan.


"Icip-icip dikit gak boleh?"


"Nggak, nggak boleh.''


"Dikit aja, cuma kenalan sama Daren junior aja."


"Dih, Mas apaan sih. Sekali nggak ya nggak. Titik ..."


"Jahat kamu, Nat." Daren mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa lalu mulai menyalakan mesin mobil dan melaju kemudian.


"Hahahaha! Tahan, Mas. Tahan ... Kalau kita melakukanya sekarang, gak ada yang spesial dengan malam pertama kita nanti. Gimana sih?''


"Hehehehe! Iya-iya sayang. Tapi, beneran gak mau kenalan dulu sama Daren junior? Dikiiiit aja.''


"Maaaaas.''


"Hehehehe! Iya deh, Mas bakalan tahan sekuat tenaga Mas. Hadeuh ... Jude, putrimu ini pandai sekali bikin saya klepek ... Klepek ...'' gerutu Daren menyerah jiga pada akhirnya.


Mendengar Daren menyebut nama sang ayah, membuat Nata seketika mengingat kembali perjodohan yang diaturkan oleh ayahnya. Dia pun seketika menunduk lesu seraya memasang wajah muram.


"Kamu kenapa?" tanya Daren melirik ke arah Nata kemudian.


"Kita mau kemana?" Nata balik bertanya.


"Gak apa-apa dong, aku juga udah izin sama Daddy. Ada yang ingin aku katakan juga sama Mas. Penting ...''


"Masalah perjodohan itu?"


"Ko Mas tahu?"


"Kita bicara di Villa aja. Sekarang kamu tiduran aja dulu, perjalanan kita masih lumayan jauh.''


"Baiklah, aku juga ngantuk banget sebenarnya. Bangunkan aku kalau kita udah sampai ya.''


"Oke, sayang. Love you.''


''Love you too, Mas dudaku sayang.''


Perlahan Nata pun mulai memejamkan kedua matanya. Dinginnya udara membuatnya meringkuk dengan mengangkat kedua kakinya ke atas kursi lalu memeluknya kemudian. Dalam hitungan detik saja, gadisnya itu benar-benar terlelap lengkap dengan suara dengkuran yang terdengar nyaring membuat Daren seketika tersenyum seraya melirik ke arahnya.


"Kamu benar-benar gadis yang luar biasa. Kamu mempu membuat Mas mati kutu tadi, andai saja bukan Natalia Agatha mungkin Mas sudah benar-benar melahap kamu bulat-bulat,'' gumam Daren mengusap rambut panjang kekasih pujaan hati.


Sesampainya di villa.


"Nata, sayang. Kita sudah sampai, cinta," lirih Daren menggoyangkan tubuh Nata pelan.


"Huaaa ...! Kita udah sampai? Hmm ... Ko cepet banget," tanya Nata merentangkan kedua tangannya lebar-lebar seraya menguap menahan rasa kantuk.


"Mau Mas gendong?"


"Gak usah, aku bisa jalan sendiri ko. Nanti dijatuhkan lagi kayak waktu itu." Tolak Nata.


Ceklek!


Dia pun membuka pintu mobil lalu keluar dari dalamnya. Daren hendak melakukan hal yang sama. Namun, dia seketika mengurungkan niatnya lalu menoleh ke arah kursi belakang. Sang duda pun mengulurkan tangannya lalu meraih sesuatu berwarna pink yang tergeletak begitu saja di atas jok mobil.


"Hah? Apa ini?" gumam Daren merentangkan benda bulat tersebut dan menatapnya dengan kening yang di kerutkan.


"Astaga Natalia Agatha, kenapa benda ini bisa ada di sini!" teriak Daren membulatkan bota matanya menatap be*a milik Natalia Agatha kekasihnya.


BERSAMBUNG


...****************...