
"Saya mohon, sayang. Saya mohon jangan pernah mengatakan hal seperti itu," pinta Eden, air matanya seketika tumbah membasahi wajahnya, "Kamu pasti kuat Airin, Dokter bilang kamu akan segera dipindahkan ke ruangan rawat inap."
Airin tersenyum getir. Dia sadar betul bahwa tubuhnya tidak akan mampu untuk bertahan. Rasa sakit yang dia rasakan terpaksa di sembunyikan karena dirinya tidak ingin membuat suaminya semakin merasa khawatir nantinya.
"Aku ngantuk, Mas. Aku mau tidur," lirih Airin dengan nada suara lemah, rasa kantuk itu tiba-tiba saja datang mendera dan tidak mampu lagi untuk dia tahan.
"Iya, sayang. Kamu tidur saja, saya akan selalu menemani kamu di sini," jawab Eden seraya mengusap kepala istrinya lembut dan penuh kasih sayang.
Airin menatap wajah suaminya dengan tatapan mata sayu. Dia pun mulai mengedipkan pelupuk matanya pelan hingga wajah tampan seorang Eden mulai memudar dan terlihat samar-samar. Segurat senyuman kecil pun terukir dari ke dua sisi bibir mungil seorang Airin.
'Maafkan aku, Ed. Maaf karena aku tidak sekuat seperti apa yang kamu katakan,' batin Airin sebelum dia benar-benar menutup ke dua matanya.
Eden mengecup kening istrinya lembut dan penuh kasih sayang. Dia pun mengusap kepala sang istri seraya menatap wajahnya dengan tatapan mata penuh rasa cinta. Setelah itu, Eden pun menyandarkan kepalanya di sisi ranjang seraya menggegam jemarinya erat.
'Saya akan selalu berada di sini, sayang. Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu,' batin Eden seraya memejamkan ke dua matanya. Laki-laki itu pun seketika terlelap.
* * *
Satu Jam Kemudian
Eden mengedipkan ke dua matanya saat telinganya mendengar suara aneh yang terdengar samar-samar. Suara elektrokardiograf mesin pendeteksi detak jantung terdengar datar juga menunjukan garis lurus di layarnya. Eden seketika mengusap wajahnya kasar seraya menatap layar elektrokardiograf dengan seksama. Ke dua matanya membulat sempurna.
"Airin? Kamu kenapa, Rin?!" teriak Eden benar-benar merasa panik, "Dokter, tolong istri saya, Dok!"
Eden kembali berteriak histeris, suara terdengar memekikkan telinga hingga terdengar keluar. 2 orang Perawat juga Dokter segera berlari masuk ke dalam ruangan ICU tersebut.
"Silahkan Mas tunggu di luar," pinta salah satu Perawat.
"Tidak, Dok. Saya akan menemani istri saya di sini, dia kenapa, Sus?" tanya Eden tubuhnya benar-benar terasa lemas.
"Kami akan memeriksa keadaan pasien," jawab Perawat segera memapah tubuh Eden keluar dari dalam ruangan agar mereka dapat memeriksa keadaan pasien.
Eden tidak dapat melakukan apapun lagi selain mengikuti apa yang diperintahkan oleh perawat tersebut. Dia berdiri tepat di depan pintu dengan tubuh yang gemetar. Ke dua lututnya bahkan terasa bergetar.
"Apa yang terjadi dengan kamu, Rin? Kenapa tiba-tiba kamu seperti ini," gumam Eden seraya mengusap wajahnya kasar juga berjongkok tepat di depan ruangan tersebut.
Ceklek!
Pintu ruangan pun kembali dibuka Dokter keluar dari dalam ruangan dengan wajah penuh penyesalan.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Eden seketika berdiri tegak.
"Mohon maaf, Mas. Kami sudah berusaha semampu kami untuk--"
"Tidak! Tidak mungkin!" teriak Eden menyela pembicaraan sang Dokter bahkan sebelum Dokter menyelesaikan apa yang ingin dia sampaikan.
Langkah Eden terlihat gemetar, suara tangisnya pun coba dia tahan sesaat setelah dirinya sampai tepat di samping ranjang. Eden membuka selimut yang menutup bagian wajah istrinya. Wajah Airin terlihat pucat pasi. Ke dua matanya pun terpejam sempurna.
"Sayang, bangun Rin. Kamu mengatakan kepada saya kamu ngantuk, hanya ingin tidur sebentar," tanya Eden mengusap kepala Airin lembut dan dengan nada suara gemetar, "Kenapa kamu malah tidur untuk selamanya, Rin? Saya mohon jangan tinggalin saya."
Air mata itu kembali tumpah, Eden memeluk kepala istrinya seraya menangis sesenggukan. Hatinya seperti di iris pisau tajam. Sakit, rasanya sangat sakit. Sekujur tubuhnya terasa melemas. Suara tangis seorang Eden bahkan tedengar nyaring memekikkkan telinga.
"Bangun, Rin. Bangun, saya mohon. Jangan tinggalkan saya," rengek Eden nada suaranya semakin melemah, "Jika saya tahu dengan melahirkan akan mengambil nyawa kamu, lebih baik kamu gugurkan saja bayi kita waktu itu."
"Ed! Eden!" tiba-tiba saja terdengar suara Daren sang ayah, "Kamu yang sabar, Nak. Daddy tahu bagaiamana perasaan kamu."
Eden segera meletakan kepala istrinya seperti semula. Dia menoleh dan menatap wajah sang ayah dengan tatapan mata kosong. Wajahnya benar-benar membanjir, kesedihan itu terlihat begitu dalam. Daren tentu saja paham kesedihan seperti apa yang sedang dirasakan oleh putranya ini karena dirinya pun pernah merasakan hal yang sama sepertinya kala itu. Daren segera memeluk tubuh sang putra karena hanya itu yang bisa dia lakukan untuk saat ini
"Airin sudah tenang di alam sana, Nak. Kamu harus kuat, kamu pasti kuat, Eden," lirih Daren mencoba untuk menenangkan di tengah perasaannya yang sebenarnya hancur berkeping-keping.
"Tidak, Dad. Aku tidak sekuat Daddy, aku tidak sanggup kehilangan istriku. Aku tak bisa," jawab Eden kembali mengurai pelukan lalu berbalik dan menatap wajah istrinya, "Airin sayang. Bangun, sayang. Tadi katanya kamu bilang hanya mengantuk, tapi kenapa kamu tidur untuk selamanya, kenapa kamu tinggalkan saya. Huaaaa!"
Eden seketika berteriak kencang. Dia melontarkan berbagai pertanyaan, meskipun dirinya tahu betul bahwa Airin sama sekali tidak akan menjawab pertanyaan apapun yang dia layangkan. Nyawanya sudah tidak berada lagi di tempatnya, tubuhnya pun benar-benar dingin sedingin es.
Apa yang pernah menimpa Daren dahulu, kini menimpa putranya. Rasa sakit yang pernah di rasakan oleh Daren kini dirasakan oleh sang putra. Sakitnya di tinggalkan untuk selamanya oleh orang yang di cintai adalah sesuatu yang tidak mudah di terima oleh siapapun.
"Cukup, Ed. Cukup, sayang. Jangan seperti ini, kasihan Airin. Dia sudah tenang di alam sana," pinta Daren masih mencoba untuk menenangkan putranya, "Ingat, Ed. Masih ada Jackie yang saat ini membutuhkan kamu, kasihan dia."
Eden menghentikan suara tangisnya. Dia pun mengusap wajahnya kasar seraya melayangkan tatapan mata kosong. Laki-laki itu mengecup kening istrinya untuk yang terkahir kalinya sebelum akhirnya kembali menutup bagian wajahnya lalu benar-benar keluar dari dalam ruangan ICU.
'Seharusnya Airin tidak pernah melahirkan Jackie, gara-gara dia melahirkan anak itu istri saya harus kehilangan nyawanya,' batin Eden seraya mengepalkan ke dua tangannya.
* * *
Jenazah sudah dikebumikan. Seluruh keluarga baru saja kembali dari pemakaman, para pelayat yang datang pun sudah kembali ke rumah masing-masing menyisakan keluarga inti saja. Hanya Nata dan Merry sang ibu saja yang tidak ikut mengantarkan Airin ke tempat peristirahatannya yang terakhir karena harus menjaga si kembar dan juga Jackie.
Daren berjalan seraya memapah tubuh Eden masuk ke dalam rumah. Wajah Eden benar-benar kuyu dan lesu. Kedua matanya nampak memerah dengan wajah pucat pasi, tatapan matanya nampak kosong. Dia benar-benar terpuruk pasca di tinggalkan oleh istri yang baru 1 tahun dia nikahi.
Jackie yang saat berada di dalam gendongan Nata tiba-tiba saja menangis setelah Eden masuk ke dalam rumah, sepertinya anak itu menyadari kehadiran sang ayah. Tatapan matanya nampak tertuju kepada Eden yang saat ini melintas tepat di hadapannya dengan wajah datar bahkan tanpa menoleh ke arahnya sedikit pun.
"Ed, sepertinya Jackie ingin di gendong sama kamu," ucap Nata seraya menimang baby Jackie.
Eden seketika menghentikan langkah kakinya. Dia menoleh lalu menatap wajah sang bayi dengan tatapan mata sinis. Aura kebencian terpancar dari sorot matanya, padahal Jackie adalah anak kandungnya sendiri. Sepertinya dia melimpahkan kesalahan atas meninggalnya sang istri kepada putranya sendiri yang sebenarnya tidak salah apapun di sini.
"Jauhkan anak ini dariku, gara-gara dia Airin kehilangan nyawanya," ketus Eden lalu melanjutkan langkah kakinya.
BERSAMBUNG