MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
MHD season 2



Michel menatap sayu wajah Eden, dia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan mendengar hal yang sangat mengejutkan. Laki-laki bernama Eden yang tidak lain dan tidak bukan adalah atasannya sendiri, mengatakan bahwa dia akan melamarnya, bahkan terang-terangan mengungkapkan perasaannya. Sungguh, hati seorang Michel benar-benar merasa bahagia. Cintanya di sambut dengan tangan terbuka. Cinta yang dia idam-idamkan akhirnya berlayar juga.


"Kamu sudah bangun, Michel?" tanya Eden seketika tersenyum merasa lega, "Kamu baik-baik saja, kan? Katakan, bagian mana yang sakit? Saya akan memanggil Dokter agar Dokter bisa memeriksa keadaan kamu."


Eden benar-benar merasa lega. Pernah merasakan sakitnya dipisahkan oleh kematian dengan wanita yang dia cinta membuat Eden dilanda rasa khawatir yang berlebihan. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang dia cintai untuk yang ke dua kalinya. Meskipun, kadar cintanya untuk wanita bernama Michel berbeda dengan apa yang pernah dia berikan kepada Airin, istrinya yang telah tiada.


"Tidak usah, Pak. Aku baik-baik saja," jawab Michel dengan nada suara lemah, "Apa Pak Bos serius dengan apa yang baru saja Bapak katakan kepadaku?" tanya Michel ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah dengar.


"Yang mana?" tanya Eden seraya tersenyum cengengesan.


"Jadi aku cuma salah dengar tadi?" Michel seketika memasang wajah masam seraya mengerucutkan bibirnya sedemikian rupa, "Aku pikir Pak Bos serius mengatakan semua itu. Sepertinya aku hanya berhalusinasi saja. Kenapa aku harus bangun segala? Kenapa aku gak pingsan lagi aja?"


Eden seketika tertawa nyaring seraya mengusap satu sisi wajah Michel lembut juga penuh kasih sayang, "Iya, sayang iya. Kamu tidak salah dengar ko, saya memang serius mengatakan semua itu sama kamu," ucap Eden kemudian, "Kamu tidak sedang berhalusinasi, maaf karena saya terlambat menyadari perasaan saya sama kamu."


Michel yang semula mengerucutkan bibirnya seketika tersenyum lebar, "Beneran? Pak Bos tidak bercanda, kan?"


Eden menggelengkan kepalanya samar.


"Pak Bos mencintai aku?"


Eden menganggukkan kepalanya seraya tersenyum ringan.


"Pak Bos juga bakalan segera melamar aku?"


Eden kembali menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Lalu, kapan Pak Bos akan melamar aku?"


Eden hendak menjawab pertanyaan Michel, tapi dirinya segera menahan ucapannya ketika mendengar suara yang sangat dia kenal tiba-tiba mendahului apa yang ingin di katakan.


"Minggu depan, Eden akan melamar kamu secara resmi Minggu depan, Michel," sahut Daren tiba-tiba keluar dari balik gorden berjalan menghampiri mereka dengan wajah ceria.


"Daddy? Sejak kapan Daddy ada di situ? Astaga!" decak Eden menatap wajah sang ayah, "Jangan-jangan Daddy menguping apa yang kami bicarakan?" tanya Eden penuh selidik.


"Daddy tidak menguping apa yang kalian bicarakan. Telinga Daddy normal, bahkan sangat normal. Daddy bisa mendengar apa yang kamu katakan tanpa berniat untuk menguping," jawab Daren santai seraya berdiri tepat di samping Eden.


"Ish! Seharusnya Daddy bilang dong kalau Daddy ada di sini? Tiba-tiba datang menyela ucapan saya, gak sopan tau," imbuh Eden menatap sinis wajah sang ayah.


"Ish! Mana ada gak sopan, Daddy justru tidak mau menganggu kalian. Itu sebabnya Daddy nunggu waktu yang tepat untuk masuk ke sini, gimana sih?" jawab Daren balas menatap sinis wajah sang putra, "Walau bagaimana pun, Daddy juga khawatir dengan keadaan calon mantu Daddy ini. Gimana keadaan kamu, Michel? Kamu baik-baik saja?" Daren mengalihkan pandangan matanya kepada Michel yang saat ini berbaring lemah di atas ranjang.


"Syukurlah, saya sempat khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa kalian. Saya takut lift akan meluncur bebas ke bawah, heuuuh! Membayangkannya saja saya gak kuat lho," ujar Daren jujur apa adanya.


"Daddy khawatir sama Michel doang? Sama saya tidak?" tanya Eden membuat Daren seketika tertawa nyaring.


"Hahahaha! Dasar anak nakal, mana mungkin Daddy tidak khawatir sama kamu, Ed?" sahut Daren seraya menepuk pundak putranya pelan, "Walaupun kadang-kadang suka nyebelin bahkan tidak jarang kamu membangkang sama Daddy, tapi kamu tetap putra kesayangan Daddy."


Eden tersenyum lebar seraya memeluk tubuh ayahnya, "Terima kasih karena sudah khawatir sama saya, Dad. Orang pertama yang saya ingat ketika saya terjebak di dalam lift itu adalah Daddy. Saya takut kami tidak selamat dan saya belum sempat meminta maaf kepada Daddy, karena saya selalu membantah apapun yang Daddy katakan."


Suasana tiba-tiba saja terasa haru. Eden memeluk tubuh Daren. Ayah yang telah membesarkannya seorang diri. Daren bukan hanya ayah baginya, tapi teman, sahabat bahkan lawan berdebat baginya. Dia menyayangi sang ayah lebih dari siapapun.


"Sama-sama, Ed. Daddy bersyukur sekali kalian selamat tanpa kurang satu apapun," jawab Daren mengusap punggung sang putra lembut, "Bagi Daddy, apa yang baru saja terjadi ini adalah musibah yang membawa berkah."


"Hah?" Eden seketika mengurai pelukan, "Maksud Daddy musibah membawa berkah?" tanya Eden mengerutkan kening.


"Ya, berkat musibah ini akhirnya Daddy melihat cinta dari mata kamu, cinta yang tidak pernah Daddy lihat selama 5 tahun ini," imbuh Daren meras haru, "Kamu menatap Michel dengan tatapan yang sama ketika kamu menatap wajah Airin, istri kamu."


Baik Eden maupun Michel seketika saling menatap satu sama lain dengan ekspresi wajah berbeda. Eden tersenyum cengengesan merasa malu, sedangkan Michel tersenyum kecil merasa haru. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa dirinya akan menjadi menantu dari laki-laki bernama Daren. Laki-laki paruh baya bermata teduh juga pembawaannya yang kebapaan, tapi tetap penuh wibawa ketika menyangkut urusan pekerjaan.


"Akh, itu hanya perasaan Daddy aja kali. Perasaan saya biasa aja deh," imbuh Eden merasa tidak percaya bahwa dirinya menatap wajah Michel dengan tatapan mata yang sama ketika dirinya menatap wajah Airin.


"O ya? Hmmm! Daddy sedang malas berdebat dengan kamu, Daddy iyain aja deh ucapan kamu," jawab Daren seraya mengangkat ke dua alis tebalnya ke atas.


"Om sama Eden lucu," imbuh Michel seraya tersenyum cengengesan, "Aku beruntung bisa jadi bagian dari keluarga kalian, aku benar-benar bersyukur." Michel menatap ayah dan anak itu secara bergantian, "Terima kasih Om Daren, terima kasih karena Om mau menerima aku sebagai calon menantunya Om."


Daren tersenyum ramah seraya mencubit gemas satu sisi wajah Michel, "Sama-sama, Michel. Seharunya Om yang berterima kasih sama kamu karena kamu telah berhasil menarik keluar putra Om dari bayang-bayang masa lalunya," ucap Daren lalu menoleh dan menatap sinis wajah Eden, "Kalau putra Om nakal sama kamu, jangan sungkan bicara sama Om biar Om marahi dia."


"Astaga, Daddy. Bisa gak sih tangannya gak usah pegang-pegang gitu?" pinta Eden balas menatap sinis wajah sang ayah, "Saya bilangin Mommy lho," ancamnya tiba-tiba saja merasa kesal.


"Hah? Hahahaha! Anak ini, masa cemburu sama Ayah sendiri? Dasar aneh," decak Daren seketika tertawa nyaring, "Daddy sudah menganggap Michel seperti putri sendiri, mana mungkin Daddy punya niat lain sama dia?"


"Iya, Ed. Astaga! Ternyata kamu lebih posesif dari yang aku bayangkan. Aku juga sudah menganggap Om Daren seperti Ayahku sendiri," imbuh Michel merasa tidak habis pikir.


Eden seketika menggaruk kepalanya yang tiba-tiba saja terasa gatal. Dia pun menatap wajah Michel seraya tersenyum lebar. Entah mengapa, perasaannya benar-benar merasa bahagia, melihat senyuman yang mengembang dari ke dua sisi bibir wanita itu pun membuat hatinya merasa tenang.


"Michel! Apa kamu baik-baik saja? Kamu tidak terluka, kan?" tiba-tiba saja Rizal masuk ke dalam sana merusak suasana yang ada.


BERSAMBUNG