MY HOT DUDA

MY HOT DUDA
Akhirnya



Daren benar-benar kembali ke kota dimana dia tinggal, meninggalkan Nata dengan perasaan berat sebenarnya. Meskipun keduanya akan segera menikah dalam waktu 3 bulan ke depan, tapi tetap saja 2 hari rasanya tidak cukup untuk mengobati kerinduan yang sudah selama 5 tahun ini mereka tahan.


Nata pun melewati hari-harinya seperti biasa, sebagai salah satu direktur eksekutif di salah satu perusahaan besar di kota tersebut. Setiap hari selalu dia habiskan dengan bekerja dan bekerja dan berharap hari spesial itu akan segera tiba.


Meskipun mereka menjalani hubungan jarak jauh, mereka masih bisa melepas rasa rindu lewat sambungan telpon ataupun Video call yang selalu keduanya lakukan lebih dari 10 kali setiap harinya ketika keduanya memiliki waktu senggang.


Tanpa terasa 3 bulan pun berlalu begitu cepat. Hari itu pun akan segera tiba, baik Nata maupun Daren telah mengambil cuti dalam bekerja. Keduanya sibuk mempersiapkan acara sakral yang akan di selenggarakan di hotel berbintang 5 seperti yang diinginkan oleh Jude orang tua Natalia Agatha.


📞 "Kamu dimana, Mas?" tanya Nata dalam sambungan telpon di malam sebelum mereka melangsungkan pernikahan besok harinya.


📞 "Aku Eden bukan Mas Daren, calon ibu tiri," jawab Eden samar-samar terdengar nan jauh di sana.


📞 "Lho, ko hp Mas Daren ada sama kamu? Mas Daren aku mana?"


📞 "Daddy udah tidur, dia takut bangun kesiangan, makannya Daddy tidur lebih awal. Lagian kamu juga kenapa gak tidur? Besok bangunnya kesiangan lho? Mas Daren kamu itu gak akan kemana-mana juga ko.''


📞 "Ish, kamu ini.''


📞 "Calon Mommy tiri, lebih baik Mommy tidur deh. Mas Daren-nya Mommy biar aku yang jagaian,'' ledek Eden.


📞 "Emangnya gak bisa di bangunin ya Mas Daren-nya? Aku cuma mau denger suaranya dia benataran doang, Ed.''


📞 "Gak bisa, Nata. Daddy berpesan tadi supaya tidurnya jangan di ganggu. Kalau aku ganggu, dia bisa marah nanti."


📞 "Hmm ... Ya sudah, aku tutup kalau begitu."


Tut! Tut!


Sambungan telpon pun di tutup kemudian.


"Padahal aku cuma ingin mendengar suara Mas sebentar aja. Mas malah udah tidur. Ko bisa Mas tidur cepat? Aku malah gak bisa tidur sama sekali,'' gumam Nata memeluk bantal guling dan membayangkan bantal tersebut adalah Daren calon suaminya.


* * *


Keesokan harinya.


"Saya terima nikah dan kawinnya Natalia Agatha binti Jude dengan Mas kawin Emas 50 gram dan uang tunai sebesar 1 Miliar di bayar kontan!''


"Sah?"


"Saaaaah!"


Daren mengucapkan ijab qobul dengan suara lantang juga hanya dengan satu kali tarikan napas saja Natalia Agatha kini telah sah menjadi istrinya. Rasa haru pun di rasakan oleh keduanya. Akhirnya perjalanan panjang yang telah mereka lewati berakhir dengan sebuah pernikahan yang telah mereka impikan selama ini.


Hal yang sama pun dirasakan oleh Jude kini. Dia sadar bahwa tidak ada yang bisa melawan takdir, sekeras apapun dirinya mencoba untuk memisahkan mereka, akhirnya dia sendirilah yang menikahkan putrinya dengan sahabatnya sendiri.


Jude menatap wajah menantu juga sang putri secara bergantian. Kelopak matanya pun tanpa terasa mulai berair. Tugasnya sebagai seorang ayah pun telah berakhir. Dengan iklhas hati, dia akan menyerahkan tanggung jawabnya sebagai seorang ayah kepada Daren suami dari sang putri.


* * *


Setelah acara pesta pernikahan selesai diadakan, kini tibalah waktunya untuk sepasang pengantin baru itu bermalam pertama. Nata nampak sudah berganti pakaian, dirinya dengan sengaja mengenakan lingerie tembus pandang yang terlihat menerawang memperlihat lekuk tubuhnya yang terlihat samar-samar tanpa menutup apapun.


Ceklek!


Pintu kamar mandi pun di buka lebar. Daren keluar dari dalam sana dengan hanya mengenakan kimono handuk berwarna putih menpelihatkan dada bidangnya yang ditumbuhi sedikit bulu-bulu halus membuat kedua mata Natalia Agatha seketika berbinar lalu berjalan menghampiri.


"Mas? Kamu seksi banget. Ya ampun!" decak Nata, mengatakan hal yang seharusnya diucapkan oleh suaminya.


"Bukan Mas yang seksi, tapi sebaliknya. Jagan mencuri kata-kata yang seharusnya Mas ucapkan dong. Gimana sih,'' jawab Daren memainkan sesuatu yang menonjol tanpa menutup apapun dengan satu jarinya.


"Tapi kamu suka 'kan?"


"Suka, suka banget. Malam ini akan menjadi malam yang tidak akan pernah Mas lupakan. Aku sampai gak tidur semalam lho."


"Hah? Emangnya kamu habis ngapain sampai gak tidur semalaman?''


Nata seketika mendekatkan wajahnya di telinga suaminya itu. Dia pun membisikan sesuatu yang sontak membuat Daren tertawa terbahak-bahak. Daren mengacak-acak rambut panjang istrinya merasa gemas.


''Hahahaha! Nakal ya kamu, kamu sampai nonton video kayak gitu semalaman? Astaga, Nata! Kalau kamu sampai mupeng gimana?'' tawa Daren terdengar nyaring.


"Ya aku 'kan pengen melakukan berbagai gaya di malam pertama kita ini. Bagaimana kalau kita mencobanya? Hmm ... Dogy style gaya yang paling populer lho," ucap Nata tanpa rasa malu sedikitpun.


"Sudah jangan banyak teori, gimana kalau kita praktekan aja langsung."


Daren segera menggendong tubuh istrinya. Nata melingkarkan kedua tangannya di leher sang suami persenyum lebar merasa tidak sabar ingin segera mempraktekkan berbagai gaya yang telah dia tonton semalaman.


Akan tetapi, Nata tiba-tiba saja merasakan ada sesuatu yang aneh dengan tenggorokannya. Rasa mual pun tiba-tiba saja mendera terasa menyesakan dada.


Sedetik kemudian ...


"Huek! Huek! Huek!" Nata seketika menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia pun turun dari pangkuan suaminya lalu berlari ke arah kamar mandi.


"Sayang? Kamu kenapa? Apa kamu masuk angin gara-gara bergadang semalam?" tanya Daren mengikuti istrinya ke dalam kamar mandi.


"Huek! Huek! Huek!"


Nata berjongkok di dengan mengarahkan kepalanya ke dalam toilet. Dia pun benar-benar memuntahkan seluruh isi di dalam perutnya, sampai rasa mualnya itu perlahan mulai berkurang.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Daren mengusap punggung istrinya lembut juga dengan perasaaan khawatir.


"Gak tau, Mas. Tiba-tiba saja aku mual. Kepala aku juga pusing banget ini. Padahal, sebelumnya aku biasa aja lho. Aku malah bersemangat banget pengen nyoba berbagai gaya yang aku tonton tadi malam, huek!'' jawab Nata lalu kembali berjongkok di depan toilet.


Daren seketika terdiam sejenak. Dia pernah mengalami hal yang seperti ini saat mendiang istrinya mengandung putra pertama mereka kala itu. Daren tiba-tiba saja tersenyum lebar membuat Nata seketika merasa heran.


"Ko Mas malah senyum-senyum kayak gitu? Emangnya aku ini lucu apa?'' tanya Nata mengerucutkan bibirnya merasa kesal.


"Sayang, dengarin Mas. Mas mau tanya sama kamu, kapan terakhir kali kamu datang bulan?"


"Hah?" Nata sontak mengerutkan kening. Kenapa dia sampai melupakan hal itu. Sudah beberapa bulan ini dirinya memang tidak datang bulan.


"Kenapa diam saja, sayang?"


"Eu ... Sejak kita terakhir kali kita melakukan hal itu, aku memang belum datang bulan lagi sampai sekarang," jawab Nata akhirnya mengingat.


"Hahahaha! Itu artinya kamu hamil, sayang. Waah ... Mas gak nyangka kita akan mempunyai momongan secepat ini."


"Ha-mil? Mas serius?"


"Tentu saja, dulu juga ibunya Eden persis seperti ini saat dia telat datang bulan.''


"Kalau aku hamil, itu artinya aku gak bisa nyobain gaya-gaya dalam bercinta di malam pertama kita ini dong?''


"Hah? Hahahaha! Nata-nata ... Astaga ... kamu benar-benar menggemaskan!''


BERSAMBUNG


...****************...