
''Apaan si, Mas?'' tanya Nata memasukan kepalanya ke dalam mobil lalu menatap benda yang saat ini direntangkan oleh Daren.
Sontak, dia pun membulatkan bola matanya. Nata segera meraih benda tersebut lalu keluar dari dalam mobil dengan wajah memerah merasa malu tentu saja.
''Dasar bodoh, kenapa benda ini bisa berada di tangan Mas Daren? Nata-nata, malu-maluin aja si?' (batin Nata).
Sementara itu, Daren tertawa renyah sendirian di dalam mobil. Gadisnya itu benar-benar luar biasa lucu menurutnya. Nata benar-benar pandai mengobrak-abrik perasaanya. Dari mulai membuka pakaian di depan matanya sampai pakaian dalam gadis itu yang tergeletak begitu saja di jok mobil miliknya. Sungguh, gadis itu membuat hati dan perasaan seorang Daren merasa sangat bahagia.
"Dasar Nata, kamu benar-benar menggemaskan. Jude ... Jude ... Tolong restui hubungan kami aku mohon!" gumam Daren lalu mulai keluar dari dalam mobil.
* * *
Di dalam villa.
Nata uring-uringan sendiri meras kesal dengan kecerobohannya sendiri. Kenapa dia bisa melemparkan benda kramat itu begitu saja hingga sampai ditangan Daren sang duda. Gadis itu bahkan memukul kepalanya secara berkali-kali.
"Dasar ceroboh, kenapa benda ini bisa sampai di tangan Mas Daren? Mana sampai di rentangkan kayak gitu lagi. Bisa ketahuan ukuran pay*daraku sama dia,'' gerutu Nata berbicara sendiri.
"34," celetuk Daren melintas begitu saja tepat di depan tubuh Nata kini membuatnya seketika membuatkan bola matanya.
"Ikh ... Mas apaan sih? Gak lucu tahu, so tau banget si. Siapa bilang ukurannya 34?" rengek Nata dengan nada suara manja.
"Mas lihat tadi, kayaknya punya kamu ini sebesar kepalan tangan Mas ini lho.'' Daren dengan sengaja mengepalkan tangannya.
"Hah? Nggak, siapa bilang?"
"Mas yang bilang 'lah? Apa kamu lupa, tadi kamu ganti pakaian di depan kedua mata Mas ini?"
Wajah Nata semakin memerah saja kini. Dia pun mengintip ke dalam jaket jeans yang masih dikenakannya menatap dengan seksama sesuatu yang menggantung di dalam sana. Sontak hal itu membuat Daren semakin tertawa nyaring merasa lucu tentu saja.
"Hahahaha! Mau Mas bantu ukurin?" Ledek Daren tertawa lepas.
"Hah? Dasar ngaco. Dahlah, aku mandi dulu. O iya, pinjamkan aku pakaiannya Mas, yang mana aja yang penting nyaman.''
"Tapi Mas gak punya pakaian dalam wanita, gimana dong?"
"Gak masalah, bisa aku keringkan pakai hairdrayer nanti."
"Hah? Hahahaha!" Otak Daren seketika traveling, dia membayangkan dimana Nata sedang merentangkan segitiga yang juga berwarna pink seraya mengeringkannya menggunakan hairdryer.
"Mas? Hayo lagi ngebayangin apa? Mas dengar 'kan apa yang aku katakan tadi? Pinjamkan aku pakaian Mas, kaos oblong yang lebar kalau bisa. Aku tunggu di kamar mandi ya." Nata berjalan ke arah kamar mandi.
"Hah? Mas ikut ke kamar mandi juga gitu?"
"Dih, dasar me*um? Bajunya yang aku tunggu di kamar mandi, bukan Mas-nya. Awas ya jangan curi-curi kesempatan.'' Ketus Nata membuka pintu kamar mandi lalu masuk ke dalamnya.
Daren tidak bisa berhenti tersenyum. Dia pun berjalan ke arah lemari lalu meraih satu buah pakaian yang di minta oleh Nata kekasihnya. Kaos oblong berwarna putih dengan ukuran yang lebar yang memang jarang dia gunakan.
Daren mengetuk pintu kamar mandi.
"Nat, ini pakaian yang kamu minta!''
Ceklek!
Pintu kamar mandi pun di buka. Nata mengeluarkan satu tangannya lalu meraih pakaian tersebut.
Blug!
Pintu kamar mandi pun kembali di tutup bertenaga.
"Jangan lama-lama, sayang. Ada yang ingin Mas bicarakan sama kamu!" teriak Daren kemudian.
"Iya, Mas. Bentaran lagi udah selesai ko,'' jawab Nata dari dalam sana.
20 menit kemudian, gadis itu pun keluar dari dalam kamar mandi. Pakaian putih yang dikenakannya hanya sebatas lutut hanya memperlihatkan sedikit saja bagian paha putih mulusnya. Sedangkan bagian atasnya, hanya menatap sekejap saja sudah dapat di tebak bahwa bagian dalamnya itu dibiarkan tanpa memakai penutup apapun.
Lagi-lagi Daren merasa panas dingin. Bagaimana bisa dia menahan gejolak di dalam jiwanya jika Natalia Agatha selalu saja memancingnya dengan melakukan hal-hal yang membuat hasr*tnya naik kepermukaan.
"Apa yang mau Mas bicarakan?" tanya Nata berjalan menghampiri lalu duduk di tepi ranjang dengan bersilang kaki.
"Bukan Mas, seharunya kamu yang mengklarifikasi sesuatu sama Mas."
"Hah? Meng-- apa tadi? Mengklarifikasi? Memangnya aku artis apa harus klarifikasi segala?"
"Jawab saja pertanyaan Mas kalau begitu. Kenapa seharian ini kamu gak keluar dari rumah? Gak ngasih kabar? Ponsel kamu gak aktif? Bahkan tiba-tiba saja Mas mendengar kabar bahwa kamu akan di jodohkan? Apa kamu tahu betapa khawatirnya Mas? Apa kamu tahu perasaan Mas seperti di aduk-aduk? Apa kamu tahu kalau tadi Mas datang ke rumah kamu buat bicara sama Jude ayah kamu tentang hubungan kita, tapi Mas malah mendapatkan kabar duka?" tanya Daren, pertanyaan yang bertubi-tubi membuat Nata merasa bingung harus menjawab yang mana dulu pertanyaan yang lontarkan kepadanya itu.
Nata menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan sebelum dia benar-benar menjawab pertanyaan sang kekasih pujaan hatinya itu.
"Ponsel aku rusak, aku gak keluar dari rumah karena sibuk membantu Mommy masak. Masalah perjodohan itu aku pun gak tahu sama sekali, tiba-tiba saja mereka datang dan Daddy mengatakan bahwa dia akan menikahkan aku sama putra dari teman lamanya itu. Puas?" jawab Nata dengan napas yang tersengal-sengal.
"Terus?"
"Terus apa?"
"Kamu akan menerima perjodohan itu?"
"Hah? Hahahaha! Mana mungkin aku menerima perjodohan itu di saat aku sudah punya pacar yang sempurna seperti Mas Daren. Tampan, mapan, dewasa, Mas idaman aku banget pokoknya. Aku juga hanya akan menikah dengan Mas, puas sekarang?"
Bukannya menjawab, Daren meraih kepala gadisnya itu lalu mendaratkan ci*man di bibirnya. Ci*man panas, ciu*an penuh gairah, ciu*an yang menandakan bahwa dia sudah tidak dapat lagi menahan gejolak di dalam jiwanya yang terasa semakin menyiksa.
BERSAMBUNG
...****************...